Oleh Rani HS
Aktivis Muslimah
Lebaran seharusnya menjadi moments yang paling melegakan dan membahagiakan bagi seluruh rakyat pada umumnya, terutama bagi rakyat menengah ke bawah. Kebahagiaan disaat lebaran, tidak hanya milik kaum the have saja yang bisa mudik ke luar kota dengan budget yang bisa menghabiskan jutaan bahkan puluhan juta.
Disaat ekonomi rakyat saat ini yang sedang tidak baik-baik saja, banyak rakyat yang berekonomi pas-pasan memaksakan diri untuk pulang kampung dengan bermodalkan utang kesana sini baik pinjaman yang berbasis online maupun offline.
OJK (Otoritas Jasa Keuangan) memproyeksikan pinjol (pinjaman online), multifinance, gadai naik selama bulan Ramadan dan Idul Fitri.
Hal ini disebabkan utang keluarga naik karena daya tahan ekonomi sebagian rumah tangga Indonesia lemah, sementara harga barang naik, ongkos mobilitas bertambah, tekanan kurs, dan jaring pengaman sosial yang belum sepenuhnya tepat sasaran. Semua terjadi karena kesenjangan ekonomi yang cukup tajam antara si miskin dan si kaya.
Kapitalisasi moments Ramadan dan lebaran, melahirkan tekanan sosial dan beban ekonomi bagi keluarga. Ramadan dan Lebaran. Dalam sistem yang jauh dari pandangan hidup Islam sama sekali tidak menumbuhkan ketakwaan yang hakiki.
Di tengah rapuhnya daya beli keluarga, era digitalisasi memberikan alternatif solusi utang yang makin membahayakan ekonomi keluarga. Perputaran ekonomi rakyat justru difasilitasi utang di tengah menurunnya pertumbuhan upah. Kondisi ini akan makin menjadikan keluarga bergantung pada utang ribawi untuk memenuhi kebutuhan rutin dan semi rutin.
Keluarga butuh sistem ekonomi yang mampu menyejahterakan, bukan sekadar narasi ekonomi inklusif. Sistem ekonomi yang mampu membangun keseimbangan dan distribusi ekonomi yang merata di seluruh keluarga bukan hanya pemilik kapital.
Butuh sistem ekonomi stabil baik dari nilai mata uang maupun harga barang. Yang mana nilai mata uang sangat berpengaruh pada harga barang. Bila mata uangnya menurun secara otomatis harga barang akan naik pula.
Dalam sistem Islam, emas menjadi mata uang yang paling stabil sehingga ekonomi pada masa ini tidak akan terjadi inflasi.
Butuh sistem ekonomi yang mampu menyediakan lapangan kerja yang layak bukan memfasilitasi utang seperti pada masa ini yang jauh dari nilai-nilai islami. Apalagi dalam sistem kapitalisasi ekonomi ribawi menjadi satu-satunya sumber pendapatan negara.
Maka itu hanya akan didapatkan dari sistem ekonomi Islam. Di mana sistem ekonomi Islam harus sepakat dengan sistem ekonomi politik Islam. Karena butuh kekuatan politik untuk melepaskan ketergantungan negara dari globalisasi dan liberalisasi perdagangan sehingga negara mampu menerapkan sistem ekonomi Islam untuk membangun kesejahteraan bagi keluarga. Termasuk sistem Islam akan mengembalikan momentum Ramadan dan Idul Fitri sesuai pandangan syariat, yaitu untuk mewujudkan ketakwaan bukan hanya pada tataran individu namun juga sistem negara.
Saatnya umat Islam bersatu dan kembali memperjuangkan serta menerapkan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari, agar tercipta suasana keimanan yang paripurna serta memperoleh keridaan dan keberkahan dari Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbal'aalamiin. Untuk itu kita wajib memahamkan umat agar lebih semangat lagi memperdalam ilmu agama.
Wallahualam bissawab
