Oleh Yulianti Eris
Aktivis Muslimah
Peristiwa tragis di Lahat, Sumatera Selatan, menyisakan duka yang mendalam. Seorang pemuda tega membunuh nyawa ibu kandungnya sendiri bahkan ia memutilasi dan membakar jasad korban. Kasus ini makin memilukan ketika dari hasil pemeriksaan, pelaku yang tinggal sejauh 20 kilometer dari rumah ibunya mengaku nekat menghabisi nyawa ibunya dikarenakan emosi, korban tidak mau memberikan uang saat pelaku memintanya untuk bermain judi online slot. (Metrotvnews, 2026)
Kejadian ini tentu mengguncang hati siapa pun. Sulit dibayangkan bagaimana hubungan yang seharusnya paling dekat antara anak dan ibu bisa berujung pada tragedi tragis seperti ini. Namun, di balik itu semua, ada banyak persoalan yang lebih besar yang tidak bisa diabaikan.
Judi online hari ini bukan lagi sekadar hiburan. Ia hadir dengan akses yang sangat begitu mudah, menjangkau berbagai kalangan, bahkan usia muda. Banyak yang awalnya hanya coba-coba, tetapi perlahan terjebak dalam lingkaran kecanduan. Ketika sudah sampai pada titik tertentu, kemampuan untuk berpikir jernih pun terganggu.
Ada banyak faktor yang melatarbelakangi hal tersebut. Seperti tekanan ekonomi, keinginan mendapatkan hasil instan, hingga minimnya kontrol diri bisa menjadi pemicu. Dalam kondisi seperti ini, judi online sering kali terlihat sebagai jalan pintas, padahal hal itu justru memperparah keadaan.
Di sisi lain, tantangan besar kita saat ini adalah menjaga nilai-nilai hidup di tengah arus digital yang begitu cepat. Tidak semua yang mudah diakses itu baik. Tanpa pegangan nilai yang kuat, seseorang bisa dengan mudah terbawa arus, tanpa menyadari dampaknya.
Karena itu, penanganan persoalan ini tidak bisa hanya dari satu sisi. Negara perlu memperkuat pengawasan dan regulasi agar akses terhadap judi online benar-benar bisa ditekan. Edukasi kepada masyarakat juga harus terus digencarkan, khususnya kepada generasi muda, tentang risiko nyata dari kecanduan judi online ini.
Namun, di samping itu, ada hal mendasar yang juga perlu diperkuat, yaitu pembentukan karakter dan nilai dalam diri individu. Dalam ajaran Islam, setiap perbuatan memiliki batas yang jelas yaitu mana yang boleh dan mana yang tidak. Prinsip halal dan haram bukan sekadar aturan, tetapi menjadi panduan agar manusia terhindar dari hal-hal yang merusak dirinya.
Judi, dalam bentuk apa pun, termasuk yang dilarang karena dampaknya yang luas tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga pada mental dan hubungan sosial. Ketika seseorang memiliki kesadaran ini sejak awal, ia akan memiliki benteng dalam dirinya untuk menolak hal-hal yang berpotensi merusak.
Selain itu, Islam juga menekankan pentingnya peran keluarga sebagai tempat pertama membangun nilai dan kontrol diri. Orang tua bukan hanya memenuhi kebutuhan materi semata, tetapi juga menanamkan arah hidup yang benar. Di sisi lain, negara juga memiliki tanggung jawab untuk melindungi masyarakat dari hal-hal yang membahayakan, termasuk aktivitas yang merusak seperti judi.
Tragedi di Lahat seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua. Bahwa persoalan seperti ini tidak cukup diselesaikan dengan langkah sesaat. Diperlukan upaya bersama dari negara, keluarga, dan masyarakat untuk menjaga generasi agar tetap berada di jalur yang benar.
Karena pada akhirnya, yang kita jaga bukan hanya keamanan, tetapi juga nilai kehidupan itu sendiri. Agar kejadian serupa tidak kembali terulang, dan keluarga tetap menjadi tempat yang aman, bukan justru menjadi ruang terjadinya luka yang paling dalam.
Wallahualam bissawab
