![]() |
| Oleh: Aniyah_thulus |
Di meja kayu yang mulai lapuk oleh waktu,
Kududuk berhadapan dengan secangkir cerita.
Uapnya naik, menari pelan membelah udara,
Seperti pikiran yang mencoba lepas dari jerat rasa.
Hitamnya pekat, menelan segala cahaya,
Namun di dalamnya tersimpan ribuan rasa.
Pahit di awal, seperti pertemuan yang tak terduga,
Manis menyusul, saat lidah belajar memakna.
Kopi ini tahu, bagaimana rasanya menunggu,
Bertahan panas meski angin mulai membeku.
Seperti aku yang belajar mencintai sepi,
Bukan karena tak punya tempat pulang,
Tapi karena sunyi mengajarkan arti mengenang.
Suara sendok beradu,
Satu-satunya dentam yang memecah keheningan.
Dunia di luar sana mungkin terlalu bising,
Namun di sini, antara aku dan secangkir ini,
Hanya ada ketenangan yang tak perlu diucapkan.
Kita bertiga: Aku, Kopi, dan Sunyi.
Bertukar rasa tanpa perlu banyak kata.
Kopi menghangatkan tubuh yang kian dingin,
Sunyi memeluk jiwa yang lelah berkelana,
Dan aku... hanya belajar menikmati segala yang ada.
Hingga tetes terakhir habis tertelan,
Aroma pun perlahan menghilang di udara.
Tapi rasa itu tetap tinggal,
Bahwa kesendirian bukanlah akhir dari cerita,
Melainkan waktu untuk bertemu dengan diri sendiri,
Di bawah naungan aroma yang abadi.
Air Pacah, 20 April 2026
