KEHIDUPAN DIGITAL DAN ANCAMAN KERUSAKAN GENERASI

Oleh: Febri Kamelia Sari, S.Sos

Oleh: Febri Kamelia Sari, S.Sos


Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah kehidupan manusia secara fundamental. Cara berkomunikasi, belajar, berekspresi, hingga menyelesaikan masalah kini banyak bergeser ke ruang digital. Bagi generasi muda, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha, dunia digital bukan lagi sekadar sarana pendukung kehidupan, melainkan telah menjadi ruang hidup utama yang membentuk pola pikir, emosi, dan perilaku sehari-hari.


Generasi Z dikenal sebagai digital native, yaitu generasi yang lahir dan tumbuh bersamaan dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi. Sejak usia dini mereka telah terbiasa dengan gawai, internet, media sosial, dan berbagai platform digital. Kehidupan digital menjadi ruang utama interaksi sosial, pencarian identitas, serta ekspresi emosi. Namun, tanpa pendampingan nilai dan sistem kehidupan yang benar, dominasi dunia digital justru berpotensi melahirkan generasi yang rapuh secara mental, tumpul empati, dan lemah dalam pengendalian diri.


Realitas pahit dari dampak kehidupan digital ini tercermin dalam berbagai peristiwa kekerasan yang melibatkan anak dan remaja. Salah satunya adalah kasus seorang anak berusia 12 tahun di Medan yang menghabisi nyawa ibunya sendiri setelah akses digitalnya dibatasi. Peristiwa ini bukan sekadar tragedi keluarga, melainkan peringatan serius tentang rusaknya cara berpikir dan kontrol emosi anak dalam menghadapi konflik. Fakta tersebut menunjukkan bahwa kehidupan digital yang tidak terkendali dapat memicu ledakan emosi ekstrem, bahkan berujung pada hilangnya nyawa.


Kasus tersebut bukanlah kejadian tunggal. Berbagai peristiwa kekerasan, perundungan ekstrem, hingga tindakan kriminal lain yang melibatkan generasi muda menunjukkan pola yang sama seperti halnya krisis empati, kegagalan mengelola emosi, dan respons impulsif terhadap masalah. Lingkungan digital yang dikonsumsi setiap hari, baik melalui konten, bahasa, maupun budaya interaksi yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk kepribadian generasi ini.


 *Bahaya Digital dan Kerusakan Pola Pikir Generasi* 

Bahaya kehidupan digital tidak hanya terletak pada konten visual, tetapi juga pada bahasa digital yang berkembang di media sosial dan ruang komunikasi daring. Bahasa digital membentuk cara berpikir, menilai, serta mengekspresikan emosi. Sayangnya, bahasa yang dominan di ruang digital saat ini cenderung kasar, sarkastik, impulsif, dan minim etika.


Generasi Z terbiasa dengan bahasa singkat, ejekan, makian, serta candaan bernada merendahkan. Ujaran kebencian, ancaman, dan kekerasan verbal sering kali dinormalisasi sebagai bentuk kebebasan berekspresi atau sekadar hiburan. Akibatnya, sensitivitas moral dan empati perlahan terkikis. Bahasa yang seharusnya menjadi sarana komunikasi berubah menjadi alat pelampiasan emosi tanpa kendali.


Selain itu, budaya scrolling, reply cepat, dan kejar viral membentuk pola pikir instan dan reaktif. Segala sesuatu ditanggapi secara spontan tanpa proses berpikir yang matang. Dalam jangka panjang, kondisi ini melemahkan kesabaran, kemampuan refleksi, serta pengendalian diri, karakter penting dalam membentuk kepribadian yang stabil dan dewasa.


Lebih berbahaya lagi, bahasa digital sering menormalisasi perilaku menyimpang melalui istilah-istilah ringan dan humoris. Kekerasan verbal, perundungan, hingga pelecehan disamarkan dengan bahasa gaul yang dianggap lumrah. Ketika bahasa rusak, maka cara berpikir pun ikut rusak, sebab bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan nilai dan pandangan hidup.


 *Dampak Positif dan Negatif Kehidupan Digital* 

Tidak dapat dipungkiri, kehidupan digital memiliki potensi manfaat. Akses informasi yang luas, kemudahan komunikasi, serta peluang belajar dan berkarya tanpa batas merupakan dampak positif yang dapat dimanfaatkan. Dunia digital bahkan dapat menjadi sarana dakwah, pendidikan, dan penguatan literasi apabila diarahkan dengan nilai yang benar.


Namun, tanpa kontrol dan landasan akidah yang kuat, dampak negatif kehidupan digital justru lebih dominan. Paparan konten merusak, budaya pamer, pencarian validasi melalui likes dan followers, serta standar kebahagiaan semu membuat generasi muda rentan mengalami kecemasan, krisis identitas, dan kehampaan makna hidup.


Kehidupan digital juga mendorong isolasi sosial. Interaksi maya menggantikan hubungan nyata, empati digantikan simbol emotikon, dan konflik diselesaikan dengan amarah verbal. Ketika dunia digital menjadi pusat kehidupan, nilai kemanusiaan dan spiritual perlahan terpinggirkan.


 *Kehidupan Digital dalam Sistem Kapitalisme* 

Masifnya kehidupan digital tidak dapat dilepaskan dari sistem kapitalisme global. Dalam sistem ini, ruang digital bukanlah ruang netral, melainkan ladang bisnis yang menjadikan perhatian manusia sebagai komoditas. Media sosial dan platform digital dirancang dengan algoritma tertentu agar pengguna terus terikat dan menghabiskan waktu selama mungkin.


Dalam kapitalisme, kebutuhan didefinisikan sebagai keinginan pasar. Selama sesuatu diminati dan menghasilkan keuntungan, maka ia akan terus diproduksi dan dipromosikan, meskipun membawa dampak buruk bagi moral dan kesehatan mental generasi. Nilai kebenaran dan kemaslahatan bukan menjadi pertimbangan utama. Akibatnya, generasi muda dijadikan target pasar yang empuk. Emosi dieksploitasi, atensi diperjualbelikan, dan waktu dihabiskan demi keuntungan korporasi. Kerusakan generasi dianggap sebagai risiko yang dapat ditoleransi selama roda ekonomi terus berputar.


 *Kegagalan Negara dalam Sistem Kapitalisme* 

Kondisi ini menunjukkan kegagalan negara dalam sistem kapitalisme dalam melindungi generasi. Negara abai terhadap bahaya kehidupan digital, lemah dalam regulasi konten, dan tidak memiliki orientasi moral yang jelas. Dalam sistem sekuler kapitalis, standar baik dan buruk ditentukan oleh manfaat materi, bukan oleh halal dan haram. Akibatnya, negara tidak memiliki komitmen ideologis untuk menjaga akidah dan akhlak generasi. Perlindungan terhadap generasi dikalahkan oleh kepentingan ekonomi dan industri digital.


 *Konstruksi Islam dalam Menjaga Generasi* 

Berbeda dengan kapitalisme, Islam mewajibkan negara menjaga dan melindungi generasi dari segala hal yang merusak akidah, akhlak, dan kepribadian. Hegemoni ruang digital harus dilawan dengan kedaulatan digital berbasis syariat Islam. Islam memiliki mekanisme yang jelas melalui tiga pilar utama:

1. Ketakwaan individu, melalui pendidikan berbasis akidah Islam.

2. Kontrol masyarakat, dengan amar ma’ruf nahi munkar.

3. Kontrol negara, melalui penerapan sistem Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan.


Tanpa penerapan sistem Islam secara kaffah, kerusakan generasi, termasuk generasi digital akan terus berulang. Solusi hakiki hanya dapat terwujud dalam bingkai Khilafah Islamiyah ala minhaj an-nubuwwah.

Wallahu a’lam bishowab.

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,76,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,2,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,9,Jakarta Selatan,1,KAI,143,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,1,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,195,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,173,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,518,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,3,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,1,Polda Sumbar,92,Polresta Padang,1,Polri,79,Pontianak,1,Puisi,19,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,3,Semarang,1,Sijunjung,1,Smartphone,2,Solok,1,Sulawesi Selatan,2,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,548,Tanah Datar,2,Tanggerang,1,Teknologi,3,Telkom,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,10,
ltr
item
Media Sumbar: KEHIDUPAN DIGITAL DAN ANCAMAN KERUSAKAN GENERASI
KEHIDUPAN DIGITAL DAN ANCAMAN KERUSAKAN GENERASI
Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah kehidupan manusia secara fundamental. Cara berkomunikasi, belajar, berekspresi, hingga menyelesai
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgI22GEo1Xf8XdxRYvL1MEfFJJ5-ylxqEIjqMflDbBVBJ6XVIuhmUqg_pJmblBiOsz9CQKbMUVoj3WPBnwuFw5XoG_UDnm0RUMwKxTpHq37V6LCr14WgpMAIGYlQZtre4xLO2DyT3Wyirvp2eVGtFK2SZmgZq7UiwWgJ-AF-htO-DvgA1NP6F_SrmBPWLM/w480-h640/IMG-20260117-WA0017.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgI22GEo1Xf8XdxRYvL1MEfFJJ5-ylxqEIjqMflDbBVBJ6XVIuhmUqg_pJmblBiOsz9CQKbMUVoj3WPBnwuFw5XoG_UDnm0RUMwKxTpHq37V6LCr14WgpMAIGYlQZtre4xLO2DyT3Wyirvp2eVGtFK2SZmgZq7UiwWgJ-AF-htO-DvgA1NP6F_SrmBPWLM/s72-w480-c-h640/IMG-20260117-WA0017.jpg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/01/kehidupan-digital-dan-ancaman-kerusakan.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/01/kehidupan-digital-dan-ancaman-kerusakan.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content