![]() |
| Oleh: Aning Mulyaningsih Muslimah Peduli Umat |
Jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Bandung dilaporkan terus mengalami peningkatan. Dinas Kesehatan setempat menekankan pentingnya deteksi dini, khususnya melalui pemeriksaan ibu hamil, sebagai langkah strategis untuk menekan penularan virus HIV sejak dini.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, Dr. Yuli Irnawaty, mengungkapkan bahwa angka penderita HIV di wilayahnya menunjukkan tren kenaikan. Salah satu langkah pencegahan yang dinilai efektif adalah pemeriksaan kesehatan ibu hamil sejak awal kehamilan. Melalui pemeriksaan tersebut, potensi penularan HIV dari ibu ke janin dapat diketahui lebih cepat.
Ia berharap setiap ibu hamil melakukan pemeriksaan kandungan secara rutin, terutama pada bulan pertama kehamilan. Upaya ini dinilai penting untuk memutus rantai penularan HIV sejak dini.
Dr. Yuli menjelaskan, penyebaran HIV tidak hanya disebabkan oleh penggunaan jarum suntik secara bergantian, tetapi juga dipicu oleh perilaku seks bebas dan hubungan seksual sesama jenis. Kelompok yang paling rentan terinfeksi justru adalah ibu rumah tangga. Dalam praktik penyalahgunaan narkoba suntik, satu jarum sering kali digunakan oleh tiga hingga lima orang secara bergantian.
Ia juga menambahkan bahwa HIV memiliki masa inkubasi yang relatif panjang, bahkan bisa mencapai sepuluh tahun. Akibatnya, seseorang yang terinfeksi sering kali tidak menunjukkan gejala, terutama jika memiliki daya tahan tubuh yang masih baik.
Untuk penanganan ODHA, layanan pengobatan tersedia di puskesmas melalui program Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP). Program ini mencakup layanan konseling serta pemberian obat antiretroviral (ARV) bagi penderita HIV.
Namun, dalam sistem kapitalisme yang berjalan saat ini, pergaulan bebas, seks bebas, praktik LGBT, serta penyalahgunaan narkoba cenderung dibiarkan atas nama kebebasan individu. Akibatnya, upaya penyelesaian masalah HIV/AIDS kerap bersifat sementara dan tidak menyentuh akar persoalan.
Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, peran negara dalam sistem kapitalisme dinilai terbatas sebagai regulator yang lebih melayani kepentingan operator, sementara kebutuhan mendasar rakyat—termasuk pemenuhan gizi bagi ibu hamil—sering terabaikan.
Berbeda dengan sistem Islam yang memandang penguasa sebagai raa’in (pengurus rakyat). Dalam konsep ini, negara bertanggung jawab penuh menjamin pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, seperti sandang, pangan, dan papan, melalui mekanisme yang memastikan setiap individu dapat mengakses kebutuhan tersebut, serta melalui pengalokasian anggaran negara untuk kesejahteraan rakyat.
Wallahu a‘lam bisshawab.
