Oleh Vera Ulva Theana, S.E., CBMT.
Pemerhati Ibu dan Anak
Kehadiran bulan Rajab senantiasa membawa ingatan kita pada satu rajutan sejarah yang tak terpisahkan yaitu peristiwa agung Isra Mikraj. Sebuah momentum yang melampaui batas logika manusia, yang selalu kita jaga api maknanya dalam setiap peringatan.
Isra adalah perjalanan penuh rahasia di kesunyian malam, saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beralih dari Masjidilharam di Makkah menuju jantung Baitulmaqdis, Masjidilaqsha di Palestina. Adapun Mikraj adalah puncak pendakian ruhani beliau dari bumi menuju Arsy, melintasi tujuh lapis langit demi memenuhi panggilan Allah Ta’ala.
Di balik tirai keagungan-Nya, Sang Nabi berkomunikasi langsung dengan Rabb semesta alam. Di sinilah amanah agung salat lima waktu dititipkan sebagai bekal bagi umat, sebelum beliau kembali turun ke Masjidilaqsha dan mengakhiri perjalanan malamnya di Makkah.
Manifestasi Cinta dalam Dialog Spiritual
Perintah salat yang diterima dalam peristiwa Isra Mikraj bukanlah sekadar rutinitas ibadah, tetapi wahyu tertinggi yang menghubungkan ruh manusia dengan Sang Khalik. Melalui salat, setiap mukmin sejatinya sedang menjalani "Mikraj" harian, sebuah ruang untuk menanggalkan sejenak ego duniawi, bersimpuh dalam zikir, dan menyerap cahaya Ilahi di tengah hiruk pikuk kehidupan.
Dalam setiap sujud yang khusyuk, terdapat kontemplasi mendalam untuk menemukan kehadiran Allah yang nyata. Salat adalah jembatan spiritual yang menuntun manusia mendaki derajat kemuliaan di sisi-Nya, mengubah setiap denting waktu menjadi ladang kesadaran.
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya salat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa [4]: 103)
Isra Mikraj adalah Fondasi Transformasi Peradaban
Kita perlu memandang Isra Mikraj lebih luas dari sekadar fenomena mukjizat. Peristiwa luar biasa ini merupakan titik koordinat baru dalam peta dakwah Islam yang membawa arah perubahan fundamental. Di sini, Allah SWT menegaskan bahwa kesalehan pribadi (ibadah) dan tatanan hidup (aturan) adalah dua sisi mata uang yang tak boleh dipisahkan. Momentum ini sekaligus menjadi masa transisi untuk mempersiapkan umat menuju tatanan sosial dan politik yang lebih kokoh.
Kewajiban salat hadir sebagai instrumen untuk mendisiplinkan jiwa dan mempererat kebersamaan umat. Fase ini kemudian berlanjut pada peristiwa Baiat Aqabah Kedua, yang menandai peralihan dakwah dari sekadar penguatan spiritual menjadi pembentukan kekuatan kepemimpinan politik yang hakiki.
Menegakkan Hukum Langit di atas Bumi
Intisari dari Isra Mikraj adalah misi membumikan syariat Allah. Melalui peristiwa ini, Sang Pencipta menurunkan manhaj kehidupan yang tidak hanya mengatur aspek privat antara hamba dengan Tuhannya, tetapi juga menjadi fondasi dalam mengelola masyarakat, negara, dan membangun peradaban yang beradab.
Dengan demikian, Isra Mikraj adalah pintu pembuka bagi penerapan Islam secara kaffah (menyeluruh). Ia hadir sebagai kritik tajam terhadap sistem sekularisme dan kapitalisme buatan manusia yang terbukti gagal. Berbagai krisis multidimensi—mulai dari ketimpangan ekonomi, kezaliman politik, hingga kerusakan ekologi—akar masalahnya adalah saat hukum Allah ditepikan dari panggung kehidupan.
Membumikan hukum langit berarti menegakkan keadilan sejati sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an. Iman yang benar akan selalu melahirkan dorongan untuk menjadikan aturan Allah sebagai kompas utama dalam seluruh sendi kehidupan di muka bumi.
Wallahualam bissawab.
