Dua relawan Mapala Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) yakni Ananda Syahnu Humairoh dan Agusta Tersiantara menyerahkan langsung bantuan kemanusiaan dari Stacia kepada warga Desa Aek Ngadol, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan.
Pada Sabtu, 21 Desember 2025.
Relawan Stacia tersebut bergabung di Posko Kemanusiaan SARMMI (SAR Mapala Muhamamdiyah Indonesia) yang berada di Desa Aek Ngadol.
Turut mengelola Posko Kemanusiaan SARMMi adalah relawan Sapta Pala Jakarta, Mapala UMY, Mapala UMRI, Himadikum UMRI, Kompel UMTS.
Untuk diketahui Desa Aek Ngadol merupakan salah satu desa yang menjadi korban banjir di Tapanuli Selatan.
Semua rumah di desa ini tertutup lumpur bercampur pasir dengan ketebalan yang bervariasi dari 20 cm hingga 2 meter.
Hingga berita ini diturunkan, pohon-pohon besar bawaan banjir Sungai Garoga masih tampak di beberapa bagian Desa Aek Ngadol.
Ananda Syahnu menerangkan bantuan yang dibawanya berupa donasi tunai. Lalu dibelanjakan barang-barang kebutuhan warga Desa Aek Ngadol di Pasar Batang Toru yang letaknya tak jauh dari Desa Aek Ngadol
“Kami belanja di sana, kami maksudkan pula sebagai andil kami agar aktivitas jual beli di Pasar Batang Toru kembali aktif seperti sebelum terjadinya bencana banjir bandang,” terangnya.
Barang yang dibeli antara lain material untuk memperbaiki jaringan pipa air bersih di Desa Aek Ngadol yang rusak karena banjir. Lantaran air tak mengalir, warga mengandalkan pasokan air minum dari mobil tanki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Warga Desa Aek Ngadol sangat butuh air bersih, karena itulah kami memperbaiki jaringan pipa air bersih mereka,” lanjut Ananda Syahnu.
Bantuan material diterima oleh tokoh pemuda Desa Aek Ngadol Deindra Hutagalung dan mantan Kades Mara Agian Siagian. Mereka berdua adalah perancang jalur pipa dan pengatur sistem kerja perbaikan jaringan pipa air bersih. Pengerjaan pipa melibatkan pemuda desa, dibantu para relawan di Posko SARMMI. Termasuk relawan Stacia.
Terhadap bantuan dari Stacia, Deindra Hutagalung mengaku memberi apresiasi karena bantuan tersebut relevan dengan kebutuhan warga desanya.
“Jaringan pipa di desa saya rusak karena banjir, padahal warga membutuhkan air bersih. Bantuan dari Stacia, kami gunakan untuk memperbaiki jaringan pipa, agar warga tak lagi kesulitan air bersih,” pungkasnya. (*).