Mengapa Banyak Orang Kini Tidak Lagi Malu Mengumbar Aurat?

Oleh: Aniyah, S. Pd, C. ATB


Renungan di Tengah Pergeseran Nilai Zaman

Karena sejatinya, seseorang akan menutup aurat bukan karena takut pada manusia, tetapi karena cintanya kepada Allah. 

Di tengah derasnya arus modernisasi, pola berpakaian masyarakat mengalami perubahan yang sangat cepat. 

Sesuatu yang dulu dianggap tabu kini menjadi biasa, bahkan dirayakan. Fenomena mengumbar aurat yang semakin marak membuat sebagian orang bertanya-tanya: mengapa rasa malu tampak kian memudar? Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk memahami akar persoalan yang sedang terjadi pada generasi kita.

1. Normalisasi dari Budaya Populer

Media sosial dan budaya populer menjadi salah satu faktor paling kuat. Fashion global, konten selebriti, hingga tren influencer membuat pakaian terbuka terlihat wajar dan modern. Ketika sesuatu terus tampil di depan mata, ia akan dianggap normal. Lama kelamaan, batasan aurat yang dulu dijunjung tinggi mulai bergeser.

2. Lingkungan Pergaulan yang Longgar

Lingkungan sosial sangat memengaruhi cara seseorang berpakaian. Ketika teman-teman sebaya tidak mempermasalahkan aurat, seseorang akan merasa aman mengikuti arus tersebut. Norma kolektif yang dulu menjadi pagar kini semakin tipis, digantikan oleh budaya “yang penting nyaman”.

3. Pudarnya Rasa Malu (Al-Ḥayā’)

Dalam Islam, rasa malu adalah sebagian dari iman. Namun rasa malu itu akan hilang jika iman tidak dirawat. Kurangnya pendidikan agama, minimnya teladan dari orang tua, serta jarangnya menghadiri majelis ilmu membuat hati kehilangan kepekaan. Ketika hati tidak lagi merasa bersalah, tubuh pun mengikuti.

4. Pencarian Validasi di Dunia Digital

Dunia digital mengubah cara orang mencari penghargaan diri. Banyak orang merasa lebih diterima jika tampil menarik di media sosial. “Like”, “view”, dan pujian menjadi standar nilai diri. Pada akhirnya, tubuh dijadikan komoditas untuk mendapatkan perhatian. Padahal perhatian manusia sangat rapuh, sementara harga diri sejati bersumber dari Allah.

5. Salah Kaprah dalam Memahami Kebebasan

Sebagian orang beranggapan bahwa menutup aurat adalah bentuk pengekangan. Ada yang mengartikan kebebasan sebagai bebas melakukan apa saja, termasuk berpakaian sesuka hati. Padahal dalam Islam, kebebasan adalah kebebasan yang terikat nilai—bukan kebebasan yang menjerat diri dalam pandangan manusia.

6. Kurangnya Pendidikan Aurat Sejak Kecil

Anak yang tumbuh tanpa pemahaman tentang adab berpakaian, batas aurat, dan makna kehormatan akan sulit mempraktikkannya ketika dewasa. Pendidikan tentang aurat bukan hanya soal “pakaian”, tetapi tentang menanamkan rasa malu, menjaga diri, dan menghormati tubuh yang merupakan amanah.

7. Komersialisasi Tubuh dalam Media

Industri hiburan, periklanan, hingga fashion menjadikan tubuh sebagai alat marketing. Semakin terbuka, semakin laku dijual. Tren ini akhirnya memengaruhi pola pikir masyarakat, bahwa tubuh adalah aset visual, bukan amanah untuk dijaga. Dampaknya, cara berpakaian ikut tergerus oleh kemampuan industri membentuk selera.

8. Hilangnya Figur Teladan di Sekitar Kita

Ketika orang tua tak lagi memerhatikan aurat, ketika tokoh masyarakat tak lagi menjadi contoh, maka generasi muda akan mencari teladan lain: selebgram, artis TikTok, atau influencer yang orientasinya sering kali pada popularitas, bukan nilai.

Membangun Kembali Kesadaran Aurat

Fenomena ini membutuhkan pendekatan yang bijak—bukan caci maki. 

Menjaga aurat bukan hanya aturan fiqih, tetapi cara untuk memuliakan diri. 

Yang perlu dibangun adalah:

1. pemahaman, bukan pemaksaan

2. keteladanan, bukan hanya aturan

3. Lingkungan yang mendukung, bukan penghakiman

4. penguatan iman, bukan sekadar larangan

Karena sejatinya, seseorang akan menutup aurat bukan karena takut pada manusia, tetapi karena cintanya kepada Allah

Zaman boleh berubah, tren boleh berganti, namun kehormatan dan rasa malu adalah cahaya yang tidak boleh padam. Menutup aurat bukan hanya tentang pakaian, tetapi tentang memilih martabat di atas sorotan dunia. Jika generasi ini ingin kembali mulia, ia perlu kembali memahami siapa dirinya dan untuk apa jasad ini diciptakan.



Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,78,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,2,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,2,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,9,Jakarta Selatan,1,KAI,149,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,1,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,195,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,178,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,533,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,3,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,1,Polda Sumbar,97,Polresta Padang,1,Polri,79,Pontianak,1,Puisi,19,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,3,Semarang,1,Sijunjung,1,Smartphone,2,Solok,1,Sulawesi Selatan,2,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,561,Tanah Datar,2,Tanggerang,1,Teknologi,3,Telkom,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,10,
ltr
item
Media Sumbar: Mengapa Banyak Orang Kini Tidak Lagi Malu Mengumbar Aurat?
Mengapa Banyak Orang Kini Tidak Lagi Malu Mengumbar Aurat?
Renungan di Tengah Pergeseran Nilai Zaman
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixtcumlR3IvFA-ZL9lfciTaP14fXfxqgj_MzwcLWwbn2V_vcnbtXIdKEt29sINipJ1sJQEipUSSMr0hePZElOQNP4Fv4hMk5U58ECffdglgEMWxXfjWEoykt0EzyyB5SCY4X_xIqYQNvXSj45LwR49OUZt6FRdYaa11j2x0h3YoBrruWPgu5zYqm0yH7lJ/s320/IMG_20251110_064159_675.webp
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixtcumlR3IvFA-ZL9lfciTaP14fXfxqgj_MzwcLWwbn2V_vcnbtXIdKEt29sINipJ1sJQEipUSSMr0hePZElOQNP4Fv4hMk5U58ECffdglgEMWxXfjWEoykt0EzyyB5SCY4X_xIqYQNvXSj45LwR49OUZt6FRdYaa11j2x0h3YoBrruWPgu5zYqm0yH7lJ/s72-c/IMG_20251110_064159_675.webp
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2025/12/mengapa-banyak-orang-kini-tidak-lagi.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2025/12/mengapa-banyak-orang-kini-tidak-lagi.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content