![]() |
| Oleh: Ibu Frida (Pegiat Literasi) |
Lebih dari 25 bulan konflik terjadi, darah di bumi Gaza terus mengalir. Meskipun gencatan senjata telah disepakati, Zionis Israel tetap melakukan serangan dan pembantaian atas warga Gaza. Tenda-tenda pengungsian menjadi saksi bisu atas kebrutalan dan kebiadaban penjajah Israel. Nyawa kembali berjatuhan tanpa pandang usia—anak-anak, wanita, hingga lansia menjadi korban kebengisan mereka.
Rumah sakit pun tidak luput dari serangan. Tujuannya jelas, untuk melumpuhkan dan membunuh warga Gaza secara perlahan. Sadis dan biadab adalah kata yang pantas disematkan kepada Zionis Israel. Dalam serangan terbaru, sekurang-kurangnya 21 warga Gaza kembali syahid dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Tindakan ini menunjukkan bahwa gencatan senjata tidak bermakna apa-apa. Ia hanya kedok untuk terus menghancurkan Gaza.
Banyak warga Palestina tinggal di tenda-tenda pengungsian dengan kondisi memprihatinkan. Mereka dipaksa hidup tanpa rumah akibat agresi yang terus berlanjut. Bahkan, kamp-kamp pengungsian kerap terendam banjir. Palestina berubah menjadi penjara terbuka; penindasan, pembunuhan, dan penculikan menjadi keseharian yang tak dapat mereka hindari. Rumah-rumah diratakan, toko-toko digerebek, anak-anak dan remaja ditangkap paksa hanya karena mereka orang Palestina.
Para jurnalis pun menjadi target pembunuhan Zionis. Mereka diculik, disiksa, bahkan ditembak—bukan karena mereka lemah, melainkan karena suara mereka terlalu kuat untuk dibungkam. Mereka menyuarakan fakta ke seluruh dunia mengenai kondisi Gaza dan kebiadaban penjajah. Saleh Al-Jafarawi, salah satu jurnalis Gaza yang paling diincar, akhirnya syahid. Media Zionis bahkan merayakan kematiannya. Inilah wajah keputusasaan Israel menghadapi keteguhan rakyat Gaza.
Tragedi kemanusiaan ini dipertontonkan kepada dunia dalam waktu yang sangat lama. Namun dunia memilih diam dan berpura-pura bahwa Gaza baik-baik saja.
Pertanyaannya:
Di mana HAM yang katanya selalu terdepan membela hak asasi manusia?
Di mana negara-negara OKI yang menjadi wadah bagi negeri-negeri Muslim?
Di mana Liga Arab dan seluruh penguasa Muslim ketika Gaza dibantai?
Keberadaan mereka tidak berarti bagi rakyat Gaza yang dizalimi. Mereka bungkam dan tak kuasa menolong saudaranya sendiri. Lembaga-lembaga itu hanya menjadi corong kepentingan Amerika Serikat dan Zionis Israel.
Padahal Allah SWT telah menegaskan:
“Barang siapa menyerang kamu, maka seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 194)
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barang siapa melepaskan dari seorang Muslim suatu kesulitan di dunia, Allah akan melepaskan kesulitan darinya pada hari kiamat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.”
(HR. Muslim)
Inilah bukti kebiadaban ideologi kapitalisme global yang dipimpin Amerika Serikat. Mereka menempatkan kepentingan geopolitik dan keuntungan militer di atas tumpukan nyawa manusia. Zionis terus melanggar perjanjian, dan dunia hanya terdiam.
Penjajahan tidak akan berhenti dengan diplomasi. Solusi sejati hanyalah melalui kekuatan jihad fi sabilillah di bawah kepemimpinan seorang khalifah. Kemenangan hakiki bukan melalui solusi dua negara atau pembangunan Gaza dengan dana penjajah, melainkan ketika Palestina benar-benar bebas dari cengkeraman Zionis.
Pembangunan tanpa kedaulatan hanyalah topeng kolonialisme gaya baru. Selama penjajahan masih bercokol di bumi yang diberkahi itu, pembantaian dan terror terhadap warga Gaza akan terus terjadi.
Allah SWT berfirman:
“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemui mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu. Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan… Jika mereka memerangi kamu, maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang yang melampaui batas.”(QS. Al-Baqarah: 191)
Hanya dengan tegaknya Khilafah, Gaza dan seluruh negeri kaum Muslimin akan benar-benar merdeka, berdaulat, serta mulia dari belenggu imperialisme Barat. Selama kekuasaan masih berada di bawah kendali rezim boneka penjajah, penderitaan Gaza dan umat Islam akan terus berulang.
Umat harus bersatu dalam institusi Khilafah Islamiyah agar pengkhianatan berakhir dan kehormatan umat kembali terjaga serta terlindungi.
