Oleh Komanah
Aktivis Muslimah
Banjir besar, tanah longsor, gempa bumi, erupsi gunung api, hingga kebakaran hutan mewarnai perjalanan Indonesia sepanjang tahun 2025. Hampir seluruh wilayah terdampak, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku. Sepanjang 13 hari pertama tahun 2025 saja, Indonesia telah mengalami 74 kejadian bencana, mayoritas berupa banjir. Kemudian dipenghujung tahun, bencana besar kembali terjadi. Banjir bandang dan tanah longsor melanda tiga provinsi di Sumatra dan menewaskan ribuan orang.
Kaleidoskop 2025 ini merangkum bencana terbesar di Indonesia sepanjang tahun ini, berdasarkan laporan berbagai sumber. Banjir dan tanah longsor di Pekalongan (Januari 2025) awal 2025, longsor dan banjir melanda Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, pada Selasa (21/1/2025). Sedikitnya, 17 korban tewas dan belasan lainya masih hilang akibat longsor Pekalongan. Selain dilanda bencana longsor, sejumlah wilayah di Pekalongan, termasuk Kedungwuni, Wonopringgo, dan Talun, juga direndam banjir. Bencana longsor ini terjadi akibat hujan deras mengguyur kawasan kabupaten Pekalongan selama beberapa jm sejak Senin (20/1/2025). Dan banyak lagi di daerah-daerah lain yang terdampak lebih parah dari itu.
Bencana menyelimuti Indonesia sepanjang 2025, mulai dari kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, gempa, dan yang lainnya. Ini membuktikan bahwa, buruknya sistem kapitalis dalam mengupayakan pencegahan terhadap bencana, lambannya dalam pengefakuasian terhadap korban yang terdampak bencana. Indonesia merupakan negara rawan bencana, tapi pemerintah menyepelekan hal tersebut, hingga gelagapan ketika bencana datang.
Bukan saja materi yang hilang dan rusak, tetapi banyak korban jiwa meninggal bahkan hilang tidak ditemukan. Kongkalikong penguasa dengan pengusaha seringkali membuat alam rusak dan menimbulkan bencana dan memakan korban jiwa, dalam hal ini rakyatlah yang ditumbalkan. Sistem kepemimpinan kapitalis, membuat penguasa negeri tidak bertindak sebagaimana raa'in dan junah bagi rakyatnya. Semestinya sebagai pemimpin dapat meriayah dengan baik, memberikan keamanan juga memastikan rakyatnya terlindungi dari berbagai hal. Tetapi realitanya sebaliknya, rakyat sering kali merasa terancam keamanannya akibat ulah para pemimpinnya sendiri. Karena pemerintah lebih memprioritaskan para kaum kapitalisme daripada rakyatnya sendiri, karena mereka hanya berorientasi kepada materi dan keuntungan belaka.
Dalam hal ini, negara berperan hanya sebagai regulator saja, karena kekayaan alam telah dikuasai oleh individu yaitu para pemilik modal. Dalam hal ini, Allah Swt memberikan keistimewaan kepada negeri ini sebagai negeri yang subur, sumber daya alam yang melimpah. Bahkan ada slogan yang berbunyi tongkat dan kayu pun jadi tanaman, menggambarkan betapa suburnya negeri ini. Namun, kesalahan kelola yang terjadi, malah kekayaan itu beralih ke tangan-tangan kaum kapitalisme. Semestinya negara memanfaatkan sumber daya alam ini untuk kemaslahatan rakyatnya. Pada faktanya, mereka hanya bertujuan memperkaya diri sendiri, walau akibatkanya bencana berdampak kepada masyarakat. Sebagai contoh, sekarang bencana alam dimana-mana itu akibat para penguasa dan pengusaha yang mengeruk kekayaan alam yang semena mena, penggundulan hutan yang mengakibatkan banjir dan longsor, dan pengalihan fungsi dari lahan hijau menjadi perumahan-perumahan yang mewah, mengakibatkan air meluap terbendung oleh tembok dan benteng-benteng yang kokoh, air tidak terserap sehingga terjadilah banjir.
Butuhnya perubahan sistem sekarang ini yaitu sistem Islam, yang akan merubah pola periayahan kepada masyarakat di mana penguasa akan bertindak sebagai raa'in dan junnah yang melindungi rakyat dari segala mara bahaya, termasuk datangnya bencana. Sebelum terjadi bencana, Daulah akan melakukan tindakan pencegahan dengan mengatur lingkungan sesuai syariat dan sistem tata ruang berbasis keselamatan jiwa, bukan profil.
Menjaga lingkungan adalah bagian dari iman. Sebagai umat islam, kita harus memandang lingkungan sebagai amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab, karena itu salah satu amanah dari Allah Swt. Dalam setiap langkah kita, baik itu menghemat air, menanam pohon, atau mengurangi sampah mari kita niatkan sebagai ibadah kepada Allah SWT. Melindungi alam dalam sistem Islam adalah bentuk ibadah muamalah dan perwujudan tanggung jawab manusia sebagai Khalifah fil Ardhi (wakil Allah dibumi). Islam memandang menjaga keselamatan lingkungan bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban agama yang akan diminta pertanggung jawabannya.
Amanah Allah alam semesta adalah titipan yang harus dijaga, dirawat dan dikembangkan potensinya, bukan untuk dieksploitasi secara berlebihan. Islam secara tegas mengharamkan tindakan yang merusak keseimbangan alam, seperti penggundulan hutan, pencemaran air, dan perburuan liar. Hal ini merujuk pada QS. Ar-Ruum: 41 yang menyatakan kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah manusia. Segala ciptaan Allah berada dalam kondisi propesional. Manusia wajib menjaganya keseimbangan unsur tanah, air, udara, serta flora dan fauna. Umat Islam diperintahkan untuk berlaku Ihsan(baik) kepada hewan dan tumbuhan, termasuk melindungi satwa langka dari kepunahan. Itu semua akan terjadi apabila sistemnya menggunakan sistem Islam. Maka dari itu, kembalilah kepada sistem Islam karena segala aturannya sudah mutlak berasal dari Sang Khaliq, yang akan membawa umat manusia sejahtera hidup di dunia dan selamat diakhirat kelak.
Wallahualam bissawab
