Oleh Syafitri Nurul Aini
Aktivis Dakwah
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program makan siang gratis yang dicetuskan pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program ini dirancang untuk membangun sumber daya unggul, menurunkan angka stanting, menurunkan angka kemiskinan, dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Program ini juga bertujuan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 yang menargetkan terciptanya generasi emas dari bonus demografi yang mampu membawa Indonesia menjadi negara maju.
Namun berbeda dengan kenyataannya, Institute for Developmen of Economics and Finance (INDEF) mencatat sebanyak 4000 siswa menjadi korban keracunan MBG dalam delapan bulan terakhir. Kasus keracunan MBG terbaru terjadi di Kabupaten Lebong, Bengkulu pada Rabu, 27 Agustus 2025. Sebanyak 456 siswa dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga SD dirawat di RSUD Kabupaten Lebong setelah mengkonsumsi makanan dari program MBG ini.
Selain keracunan berulang, program ini juga memunculkan masalah lain, diantaranya distribusi makanan yang tidak dikelola dengan baik dan sesuai SOP, serta gagalnya memberdayakan UMKM karena syarat pengajuannya yang terlalu berat. (Tempo.co, 5/9/2025)
Makan Bergizi Gratis dalam Pandangan Kapitalis
Kasus keracunan yang terus berulang merupakan dampak dari sistem kapitalis yang lebih mengutamakan keuntungan daripada keselamatan dan kesehatan masyarakat. Program ini dinilai hanya menguntungkan segelintir pihak, sementara penerimanya kurang mendapatkan manfaat secara optimal.
MBG memang terkesan program untuk rakyat yang bertujuan guna menguatkan gizi dan pembentukan generasi yang sehat. Namun kenyataannya, yang diuntungkan dari program ini adalah perusahaan besar yang memasok bahan baku baik itu swasta maupun asing. Program ini juga diklaim mampu membuka lapangan kerja baru, tapi faktanya upah pekerja lapangan justru yang paling sedikit. Selain itu, program MBG ini juga berpotensi membuka celah baru untuk melakukan korupsi.
Banyaknya masalah termasuk keracunan yang dapat membahayakan kesehatan anak-anak mengindikasikan bahwa program ini hanya program populis tanpa perencanaan, pertimbangan dan persiapan yang matang dari segala aspek. Kebijakan ini dibuat hanya untuk menarik perhatian masyarakat dengan iming-iming "makan bergizi gratis". Mengklaim untuk kesejahteraan rakyat, tapi faktanya sangat jauh dengan tujuan awal dibentuknya program MBG.
Islam Solusi Hakiki
Dalam Islam, pengelolaan SDA dilakukan secara langsung oleh negara tanpa melibatkan pihak swasta maupun asing. Hal ini sangat memungkinkan bagi negara mampu untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakatnya. Termasuk pemberian makanan bergizi bagi masyarakat yang merupakan tanggung jawab negara.
Karena kepala negara dalam Islam bertugas sebagai pelayan bagi umat. Mereka juga meyakini bahwa kepemimpinannya kelak akan Allah mintai pertanggungjawaban. Sebagaimana hadis Rasulullah saw. yang artinya:
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya." (HR.Bukhari dan Muslim)
Sebagaimana dikisahkan pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab, bahwa negara Islam saat itu memberikan tunjangan pada ibu dan anak yang baru lahir hingga masa penyapihannya. Hal ini menunjukkan kepedulian beliau terhadap kesejahteraan rakyatnya, tidak hanya memberikan bantuan makanan pokok tetapi juga tunjangan uang dari Baitul Mal.
Sungguh, ketika syariat Islam diterapkan secara menyeluruh, maka generasi yang sehat, cerdas dan berkepribadian Islam akan mudah terwujud.
Wallahualam bissawab
