![]() |
| Nahmawati Pegiat Literasi |
Krisis di Gaza telah menjadi luka panjang yang terus berdarah. Serangan yang berulang tidak hanya mengambil nyawa, tetapi juga merusak tatanan sosial, pendidikan, dan masa depan generasi. Saksi mata dan laporan kemanusiaan berulang kali menggambarkan kehancuran yang tak tertahankan namun langkah politik yang efektif untuk menghentikannya masih jauh dari harapan.
Militer Israel kembali menunjukkan eskalasi agresi pada hari Sabtu, (6/9/2025) dengan menyerukan evakuasi massal warga Palestina dari Kota Gaza ke arah selatan. Peringatan keras dikeluarkan menyatakan bahwa operasi militer akan mencakup seluruh wilayah kota. Selama beberapa pekan terakhir, tentara Israel gencar melancarkan serangan di wilayah utara kota. Serangan ini merupakan bagian dari upaya militer menyusul instruksi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang memerintahkan penguasaan penuh atas Gaza. (Republika.go.id)
Netanyahu menyatakan bahwa Kota Gaza dianggap sebagai pusat kekuatan Hamas, sehingga pengendalian wilayah ini dianggap penting untuk menumpas kelompok militan Islam Palestina.
Dukungan Donald Trump terhadap langkah Zionis untuk segera menguasai Gaza semakin menguat, menunjukkan keberpihakan yang konsisten terhadap kepentingan Israel dalam konflik yang terus memburuk ini. Sikap ini sejalan dengan pernyataan keras Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant Katz, pada Jumat (5/9/2025), yang menegaskan bahwa operasi militer di Gaza akan terus diintensifkan hingga Hamas memenuhi dua syarat utama yakni pembebasan sandera dan pelucutan senjata.
Ia bahkan mengancam, “Jika tidak, kelompok itu akan hancur.” Pernyataan ini tidak hanya mencerminkan strategi militer yang agresif, tetapi juga memperkuat dugaan bahwa tujuan sebenarnya adalah dominasi penuh atas Gaza, bukan perdamaian. Di tengah dukungan politik dari kekuatan besar seperti AS, Israel tampak semakin percaya diri dalam melanjutkan agresinya.
Sementara itu di tengah kebungkaman pemimpin dunia dan kegagalan lembaga internasional dalam menghentikan genosida yang terjadi di Gaza, suara nurani umat manusia justru makin menguat. Dunia perlahan tapi pasti menunjukkan bahwa kejahatan Zionis bukan lagi sesuatu yang bisa ditoleransi. Ketika kekuatan politik internasional tidak mau bertindak tegas, masyarakat sipil lintas negara justru tampil sebagai aktor nyata yang mengambil risiko untuk menyuarakan keadilan.
Inisiatif Global Sumud Flotilla (GSF) menjadi bukti nyata dari semangat itu. Sebuah armada sipil internasional kini tengah berlayar di Laut Mediterania, mengusung misi kemanusiaan dan sekaligus pesan politik yang sangat jelas, blokade terhadap Gaza harus diakhiri.
Lebih dari 50 kapal, ratusan relawan dari 44 negara yang terdiri dari aktivis, jurnalis, tenaga medis, hingga politisi bergabung dalam gerakan ini. Dengan nama Sumud, yang berarti “keteguhan” dalam bahasa Arab, mereka membawa harapan dan solidaritas kepada rakyat Gaza yang telah lama hidup di bawah pengepungan brutal Israel. (rri.co,id, 2/09/2025).
Gerakan seperti ini menegaskan bahwa perjuangan membela Gaza bukan hanya tanggung jawab umat Islam, tapi juga panggilan kemanusiaan universal. Ketika rezim Zionis terus menutup rapat-rapat akses bantuan dan menjadikan blokade sebagai alat penghancuran kolektif, Global Sumud hadir untuk menantangnya secara damai namun penuh keteguhan. Di tengah keputusasaan, inisiatif ini membawa secercah harapan, bahwa di dunia yang kerap gelap oleh politik kepentingan, cahaya keberanian dan solidaritas masih menyala.
Namun konflik berdarah yang terus berlangsung di Gaza, tidak hanya disebabkan oleh kekuatan militer Israel atau dukungan politik dari negara-negara Barat, tetapi juga karena pengkhianatan sebagian besar penguasa Arab dan diamnya komunitas internasional. Dua faktor ini telah menjadi karpet merah bagi kebiadaban yang terus berlanjut.
Alih-alih menjadi tameng dan pelindung bagi rakyat Palestina, sebagian besar pemimpin dunia Arab justru terjebak dalam diplomasi kosong, normalisasi hubungan dengan Israel, bahkan menutup mata terhadap penderitaan sesama Muslim. Sementara itu, organisasi-organisasi regional seperti Liga Arab atau OKI sering kali hanya terbatas pada kecaman retoris tanpa langkah konkret yang berarti.
Akibatnya kejahatan Israel semakin menjadi-jadi. Ketika mereka melihat tidak ada tekanan signifikan dari dunia internasional dan bahkan mendapatkan legitimasi dari hubungan diplomatik baru di kawasan Timur Tengah, maka agresi militer, pembunuhan warga sipil, penghancuran infrastruktur, dan blokade kemanusiaan dianggap sebagai hal yang “biasa” atau “bisa ditoleransi”.
Zionis merasa leluasa karena mereka tahu tidak ada konsekuensi nyata. Dan selama pengkhianatan serta pembiaran ini terus berlangsung, penderitaan rakyat Palestina akan terus diperpanjang. Maka, saatnya umat menyadari bahwa solusi hakiki tidak lahir dari meja diplomasi yang dikendalikan oleh kepentingan politik, melainkan dari kesadaran kolektif akan pentingnya perubahan mendasar dalam cara dunia merespons ketidakadilan.
Mengapa? Karena akar persoalan di Gaza bukan hanya soal krisis pangan atau medis, tapi tentang penjajahan struktural dan kekuasaan yang menindas. Blokade Israel atas Gaza, yang sudah berlangsung hampir dua dekade, bukan hanya menciptakan penderitaan kemanusiaan, tetapi merupakan bagian dari strategi sistematis untuk melumpuhkan perlawanan dan mengendalikan wilayah secara total. Selama blokade itu tetap ada, dan selama kekuasaan Zionis tetap dibiarkan bebas dari pertanggungjawaban hukum, maka bantuan kemanusiaan hanya menjadi penanganan gejala, bukan penyelesaian akar masalah.
Oleh karena itu, umat dan masyarakat dunia harus melangkah lebih jauh dari sekadar aksi kemanusiaan. Diperlukan kesadaran politik yang mendalam dan solusi sistemik yang mampu mencabut akar penindasan, mulai dari penghapusan blokade, penghentian pendudukan, hingga penegakan keadilan internasional terhadap kejahatan perang yang dilakukan Israel.
Krisis yang menimpa Gaza bukan sekadar bencana kemanusiaan, ini adalah bentuk nyata dari penjajahan brutal dan genosida sistematis yang dilakukan oleh entitas Zionis. Dan dalam menghadapi penjajahan seperti ini, Islam tidak membiarkan umatnya tanpa panduan. Islam telah menetapkan solusi yang syar’i dan menyeluruh jihad fi sabilillah sebagai jalan untuk membebaskan tanah yang dirampas dan menolong kaum Muslimin yang ditindas.
Allah SWT berfirman: “Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah di antara laki-laki, perempuan dan anak-anak yang berdoa agar dikeluarkan dari negeri yang zalim dan diberi pelindung serta penolong dari sisi Allah SWT.” (QS. An-Nisa: 75)
Ayat ini dengan tegas memerintahkan umat Islam untuk membela saudara-saudara mereka yang tertindas termasuk di Gaza, bukan hanya dengan doa atau bantuan materi, tetapi melalui kekuatan militer yang terorganisir. Artinya, jihad bukanlah tindakan individu yang liar, melainkan kewajiban negara dan institusi kekuasaan Islam (Daulah) untuk mengirimkan pasukan demi membebaskan wilayah yang dijajah.
Namun, hari ini kita menyaksikan penguasa-penguasa muslim yang justru berkhianat, memilih normalisasi dengan Israel daripada mengirim pasukan untuk membela Gaza. Inilah titik di mana umat tidak boleh diam. Umat Islam di seluruh dunia harus meningkatkan tuntutan politiknya, tidak hanya menggalang bantuan kemanusiaan, tetapi menyerukan dan mendesak penguasa negeri-negeri Muslim untuk mengirim bantuan militer secara nyata. Cukup sudah sikap pasif dan retorika kosong yang hanya mengutuk tanpa tindakan.
Lebih dari itu, umat harus sadar bahwa selama dunia Islam terpecah-pecah dalam sistem nasionalisme sekuler, tidak akan pernah ada kekuatan militer yang benar-benar berpihak kepada rakyat Palestina. Oleh sebab itu, perjuangan ini juga harus diarahkan pada kebangkitan sistem Islam secara menyeluruh, yang mampu menerapkan hukum Allah, mempersatukan umat, dan menggerakkan jihad sebagai alat pembebasan sejati.
Tanpa kekuatan militer yang berlandaskan akidah Islam, kejahatan Zionis akan terus berulang. Dan selama umat hanya bergerak pada jalur kemanusiaan semata, penjajah tidak akan pernah takut. Saatnya umat Islam menuntut solusi syar’i jihad yang dipimpin oleh kekuasaan Islam bukan sekadar reaksi emosional, tetapi gerakan strategis yang terarah dan penuh ketundukan kepada syariat.
Wallahu ‘alam bisshawab
