![]() |
| Gubernur Sumbar Sampaikan Visi Indonesia Emas 2045 di Universitas Muhammadiyah Pekanbaru |
Pekanbaru – 11 Juni 2025, Gubernur Sumatera Barat, Buya Mahyeldi Ansharullah, memberikan kuliah umum bertema “Peran Mahasiswa dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045” di Universitas Muhammadiyah Riau, Senin (9/6).
Kegiatan ini dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas dan menjadi ajang diskusi terbuka antara pemimpin daerah dan generasi muda.
Dalam materinya, Gubernur Mahyeldi menekankan pentingnya partisipasi aktif mahasiswa dalam pembangunan nasional menuju 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Ia menyampaikan empat pilar utama sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045, yaitu:
1. Pembangunan manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
2. Pembangunan ekonomi berkelanjutan
3. Pemerataan pembangunan
4. Ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan
> “Empat pilar ini menjadi arah strategis bagi bangsa ini. Tapi semuanya dimulai dari pembangunan manusia yang unggul, yang dimulai dari dunia pendidikan,” ujar Mahyeldi.
salah satu mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Riau, Rabbi Fernanda, memberikan tanggapan kritis terhadap paparan gubernur. Ia menyoroti kondisi pendidikan dan infrastruktur sebagai dua aspek yang perlu mendapat perhatian serius.
> “Jika pembangunan manusia menjadi pilar utama, maka sistem pendidikan harus dibenahi. Hari ini kita menyaksikan maraknya kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang justru merusak SDM kita di lingkungan pendidikan,” ungkap Rabbi.
Lebih lanjut, Rabbi mengangkat isu di kampung halamannya, Nagari Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, yang memiliki nilai sejarah tinggi namun mengalami ketertinggalan dalam aspek infrastruktur.
> “Sumpur Kudus adalah tempat kelahiran tokoh sejarah nasional dan pernah menjadi lokasi PDRI tahun 1949. Tapi hingga hari ini, akses jalan ke sana – terutama di Bukik Lontiak – rusak parah,” ujarnya.
Rabbi juga mengaku telah mempublikasikan berita terkait kerusakan jalan tersebut sebelumnya, namun belum mendapat respon dari pemerintah daerah.
> “Saya kecewa karena Bupati dan Dinas PU Kabupaten Sijunjung belum menunjukkan kepedulian. Ini janji kampanye yang belum ditepati,” tambahnya.
Pernyataan ini mencerminkan semangat kritis mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi kepada pemangku kebijakan.
