Surplus Dokter, Banjir Kematian: Topeng Gagalnya Kapitalisme Mengurus Ibu





Oleh Rukmini 

Aktivis Muslimah


Indonesia sedang sakit. Bukan sakit karena wabah, tapi sakit karena sistem. Di satu sisi pemerintah bangga mengumumkan dokter kandungan kita surplus. Di sisi lain, berita duka datang bertubi-tubi: Angka Kematian Ibu Indonesia masih tertinggi se-Asia Tenggara. Bukankah ini ironi yang menampar? Ketika statistik surplus berteriak di gedung DPR, tangis ibu-ibu di pedalaman Papua justru tenggelam tanpa suara. Surplus dokter tidak menyelamatkan nyawa. Yang menyelamatkan nyawa hanyalah sistem yang adil. Dan sistem kapitalisme hari ini terbukti gagal.

Fakta di lapangan telanjang dan kejam. Dokter kandungan menumpuk di Jakarta, Surabaya, Makassar. RS mewah menjamur, alat canggih berderet, gaji fantastis menggiurkan. Sementara di daerah 3T, ibu hamil harus berjalan berjam-jam, menyeberangi sungai, bahkan melahirkan di atas perahu tanpa tenaga medis. Bukan karena tidak ada dokter di negeri ini, tapi karena dokter tidak mau dan tidak dipaksa ke sana. Kenapa? Karena kapitalisme hanya tunduk pada satu tuhan: keuntungan. Dokter akan pergi ke mana uang berada. Negara tidak berani memaksa distribusi dengan dalih HAM. Program pemerataan seperti WKDS pun mandek. Akhirnya yang kaya selamat, yang miskin mati. Itulah logika pasar yang diterapkan pada nyawa manusia. kompas.id (04/06/2026)

AKI tinggi bukan sekadar angka di atas kertas. Di balik angka itu ada ibu yang meregang nyawa, ada bayi yang lahir tanpa pelukan, ada anak yang tumbuh tanpa kasih sayang. Satu ibu mati berarti satu generasi dirampas masa depannya. Negara gagal melindungi ibu berarti negara gagal melindungi masa depan bangsa. Tapi anehnya, negara kapitalis hanya sibuk menghitung jumlah lulusan kedokteran tiap tahun. Seolah-olah masalah selesai jika jumlah dokter bertambah. Padahal masalahnya bukan kuantitas, tapi distribusi dan asas. Selama asasnya kapitalisme, maka kesehatan akan selalu jadi komoditas. Yang punya uang dapat VIP, yang miskin dapat liang kubur.

Kapitalisme memandang kesehatan sebagai barang dagangan. RS didirikan untuk mencari untung, bukan melayani rakyat. Dokter digaji berdasarkan jasa medis, bukan berdasarkan kemaslahatan umat. Negara hanya jadi “regulator” yang mengurusi izin dan pajak, bukan “raa’in” yang mengurusi rakyatnya lapar, sakit, atau mati saat melahirkan. Inilah biadabnya sistem sekuler: ia bisa mencetak ribuan dokter, tapi tidak bisa memaksa satu pun dokter itu mengabdi di pelosok. Ia bisa membangun RS bertingkat di kota, tapi membiarkan puskesmas di desa kosong tanpa bidan. Ia bisa mengaspal jalan ke mall, tapi membiarkan jalan ke puskesmas hancur diterjang lumpur. Maka jangan heran jika dokter surplus tapi ibu tetap mati. Karena yang surplus bukan solusi, yang surplus adalah kezaliman sistemik.

Islam datang dengan solusi yang tuntas dan manusiawi. Islam memosisikan kesehatan sebagai kebutuhan dasar rakyat yang wajib dipenuhi negara. Bukan pilihan, bukan komoditas, tapi hak yang harus ditunaikan. Negara tidak boleh berlepas tangan dan menyerahkan nyawa rakyat pada mekanisme pasar. Negara wajib hadir sebagai junnah, sebagai perisai yang menjaga setiap ibu agar bisa melahirkan dengan selamat, tanpa takut, tanpa biaya.

Dalam sistem Islam, negara wajib menjamin ketersediaan fasilitas kesehatan, infrastruktur, dan tenaga medis dalam jumlah cukup dan terdistribusi merata ke seluruh wilayah. Tidak boleh ada satu desa pun yang kekurangan dokter atau bidan. Jika daerah 3T kekurangan nakes, maka negara wajib mengutus mereka, menggaji dengan layak, memberi insentif, dan memfasilitasi hidup mereka di sana. Ini bukan sukarela, ini kewajiban syariah. Negara juga wajib membangun infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan transportasi cepat agar ibu hamil bisa sampai ke RS rujukan tepat waktu. Tidak ada lagi alasan geografis untuk membenarkan kematian ibu.

Lebih dari itu, Daulah Islam membiayai seluruh layanan kesehatan dari baitulmal. Artinya berobat, melahirkan, operasi, rawat inap, semuanya gratis 100% untuk rakyat. Pembiayaan diambil dari pos kepemilikan umum: minyak, gas, tambang, hutan, laut. Hasilnya milik rakyat, maka dikembalikan untuk rakyat. Dengan sistem ini, RS tidak lagi berburu pasien kaya, tapi berburu pahala melayani umat. Dokter tidak lagi bekerja demi bonus, tapi bekerja demi kemaslahatan. Ketika logika profit dihapus dari kesehatan, maka distribusi dokter tidak lagi ditentukan oleh uang, tapi ditentukan oleh kebutuhan manusia.

Negara juga berhak dan wajib memaksa. Dalam Islam, menjaga jiwa adalah maqashid syariah tertinggi. Maka negara berhak memerintahkan dokter untuk bertugas di daerah yang membutuhkan. Tidak ada lagi dalih HAM untuk membiarkan ibu mati. Nyawa manusia jauh lebih tinggi daripada kebebasan individu. Siapa yang lalai menyebabkan kematian, akan dikenai sanksi tegas oleh negara.

Singkatnya, AKI tinggi bukan masalah teknis. Ini adalah kejahatan kapitalisme yang menjual nyawa ibu demi keuntungan. Selama kesehatan masih diperdagangkan, maka ibu-ibu miskin akan terus menjadi korban. Kita tidak butuh tambahan jumlah dokter. Kita butuh penggantian sistem. Kita tidak butuh janji pemerataan. Kita butuh penerapan Islam kaffah. Hanya ketika Al-Qur’an yang mengatur kesehatan dan Daulah yang menjamin pelaksanaannya, maka setiap ibu akan melahirkan dengan aman, setiap bayi disambut negara, dan tidak ada lagi duka karena sistem yang zalim. Nyawa ibu adalah amanah Allah, dan hanya Islam yang sanggup menjaganya.

Wallahu a’lam bish shawab.

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,92,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,3,Daerah,2,Depok,1,Dharmasraya,31,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,12,Jakarta Selatan,1,KAI,239,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,5,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,214,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,203,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,755,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,7,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,2,Polda Sumbar,103,Polresta Padang,1,Polri,83,Pontianak,1,Puisi,20,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,4,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,4,Solok,5,Sulawesi Selatan,3,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,658,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,4,Telkom,1,Timezone,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,13,
ltr
item
Media Sumbar: Surplus Dokter, Banjir Kematian: Topeng Gagalnya Kapitalisme Mengurus Ibu
Surplus Dokter, Banjir Kematian: Topeng Gagalnya Kapitalisme Mengurus Ibu
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfTLjDbXOVYQ4UVIjq5ooeZTU3XM_f3VGaesja00uVIsTNU9T39X0QQlSjHKcsTPKuzI1u_NUj4ODdqJ90X_aYUT7LO4yzg7hKrdD5BCZOmWISzpg4-4NoPVoCkYlnOrb0rLoQNgScVpNGtOuBDYYpaLQGv0gtmQONo-AuwiZglCUEp_ICfsuiMKmvo4sz/s320/WhatsApp%20Image%202026-07-13%20at%2017.54.53%20(1).jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfTLjDbXOVYQ4UVIjq5ooeZTU3XM_f3VGaesja00uVIsTNU9T39X0QQlSjHKcsTPKuzI1u_NUj4ODdqJ90X_aYUT7LO4yzg7hKrdD5BCZOmWISzpg4-4NoPVoCkYlnOrb0rLoQNgScVpNGtOuBDYYpaLQGv0gtmQONo-AuwiZglCUEp_ICfsuiMKmvo4sz/s72-c/WhatsApp%20Image%202026-07-13%20at%2017.54.53%20(1).jpeg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/07/surplus-dokter-banjir-kematian-topeng.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/07/surplus-dokter-banjir-kematian-topeng.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content