Bullying di Pesantren, Dampak Sistem Pendidikan Sekuler

 



Oleh Intan Ummu Nara

Aktivis Muslimah


Kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan kembali menyita perhatian publik. Peristiwa yang menimpa sejumlah santri di sebuah pesantren di Lombok Tengah menjadi pengingat bahwa praktik perundungan atau bullying masih menjadi persoalan serius yang harus ditangani secara sungguh-sungguh. Ketika tindakan kekerasan berujung pada luka berat bahkan hilangnya nyawa, persoalan tersebut tidak lagi dapat dianggap sebagai kenakalan remaja semata, melainkan telah masuk ke ranah pelanggaran hukum dan kemanusiaan (kompas.com 05-06-2026).

Pesantren selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan agama, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, dan kedisiplinan para santri. Oleh karena itu, setiap kasus kekerasan yang terjadi di dalamnya menjadi perhatian besar masyarakat. Orang tua yang menitipkan anak-anak mereka ke pesantren tentu berharap memperoleh lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan moral yang baik.

Fenomena bullying sebenarnya tidak hanya terjadi di pesantren. Berbagai lembaga pendidikan, baik sekolah maupun madrasah, juga menghadapi tantangan serupa. Bentuknya beragam, mulai dari ejekan, intimidasi, pemerasan, pengucilan sosial, hingga kekerasan fisik. Dampak yang ditimbulkan pun tidak ringan. Korban dapat mengalami trauma psikologis, kehilangan rasa percaya diri, gangguan belajar, bahkan dalam kasus tertentu mengalami cedera serius.

Akibat Sistem Sekuler

Pesantren sejatinya adalah pabrik ulama. Merupakan sebuah tamparan ketika tindak kriminal di pesantren justru menjadi headline di mana-mana. Ke mana perginya ilmu yang dipelajari? Mengapa santri yang setiap hari mempelajari Islam justru menyimpang dari syariat-Nya? Bukankah seharusnya dengan ilmu yang dipelajarinya santri terdepan dalam menjaga dan mengamalkan syariat-Nya? Padahal, diharapkan dari pesantrenlah akan lahir ulama yang memahamkan umat tentang Islam dan juga syariat. 

Dalam sistem sekuler kapitalisme, pesantren memang bukan satu-satunya struktur dalam sistem pendidikan, melainkan hanya bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan. Pendidikan bertujuan mencetak individu siap kerja demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Kurikulum dirancang bersifat kapitalistik, hanya mementingkan perolehan nilai sehingga tidak mementingkan ketaatan. 

Moderasi Islam merupakan program global yang diaruskan PBB melalui pendidikan, termasuk di pesantren, untuk menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam kafah. Hasilnya, kerusakan syahsiah (kepribadian) para santri karena pola pikir dan pola sikap mereka tidak lagi berlandaskan Islam. Sistem sanksi yang negara terapkan pun tidak efektif dalam menimbulkan efek jera bagi pelaku bullying yang terjadi selama ini. Sering kali kasus diselesaikan hanya secara kekeluargaan.

Kembali kepada Aturan Islam

Kasus bullying tidak dapat dipandang sebagai satu persoalan yang berdiri sendiri. Ini terjadi melalui rentetan masalah panjang yang tidak dapat diurai secara individu, keluarga, masyarakat, maupun lembaga pendidikan, termasuk pesantren. Kerusakan yang terjadi adalah bersifat sistemis, bukan personal, sehingga solusinya pun harus sistemis dan menjadi tanggung jawab bersama. Semua komponen (individu, masyarakat, dan negara) harus kembali kepada Islam sebagai sistem kehidupan yang menerapkan Islam kafah. Firman-Nya dalam QS Al-Baqarah ayat 208, "Hai orang-orang yang beriman masuklah kalian dalam Islam secara keseluruhan."

Negara yang tegak atas fondasi Islam memiliki mekanisme dalam melindungi nyawa, kehormatan, nasab, akal, agama, keamanan, harta, dan akidah rakyatnya, yaitu dengan penerapan hukum syariat secara menyeluruh. Hanya level negara yang mampu memberikan perlindungan, mencegah sebelum kriminalitas itu terjadi, dan tentunya mengobati jika tindak kriminal itu telanjur terjadi. 

Dalam Islam santri dididik agar memiliki kepribadian Islam, dengan sistem pendidikan Islam dan menyiapkan kurikulum Islam. Juga dengan menerapkan metode belajar dalam Islam, yaitu belajar secara talqiyan fikriyan muatsaran (belajar secara mendalam dan berpengaruh) akan memberikan atsar (dampak) yang kuat. Alhasil, siapa pun yang belajar dalam kerangka ini akan memiliki dorongan kuat untuk mengamalkan ilmu dan iman sebagaimana qaul ulama, "Al-amalu tsamratul iman," amal itu adalah buah dari iman. 

Demikianlah kehidupan yang dibangun dalam sistem Islam. Khilafah akan membangun sistem pendidikan, sosial, ekonomi, politik, serta pemerintahan yang sahih yang mampu melindungi masyarakat dari berbagai kerusakan. Anak-anak dan para santri pun tumbuh dalam lingkungan yang aman nyaman penuh kasih sayang jauh dari tindakan bullying. Wallahualam bi shawab

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,92,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,3,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,25,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,12,Jakarta Selatan,1,KAI,230,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,5,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,215,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,201,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,731,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,7,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,2,Polda Sumbar,103,Polresta Padang,1,Polri,83,Pontianak,1,Puisi,20,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,3,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,4,Solok,3,Sulawesi Selatan,3,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,655,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,4,Telkom,1,Timezone,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,13,
ltr
item
Media Sumbar: Bullying di Pesantren, Dampak Sistem Pendidikan Sekuler
Bullying di Pesantren, Dampak Sistem Pendidikan Sekuler
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEh24L4jWM0BT_g3uNTG83ex0mFSv7BQc3vpjxVsV_pPjYkW3FK34Io2fp6UfB76HmWjv618_WxPr4cDcfenrYfV1ecaBXoTFhDidGyjL217MLRWWTNMueOffPIO9yk9k1yXVlED6Cp23IXl-Gt1JP5PtpzDGGWxIAw8JGju5S3S9a4KhSuf_97C0gP_bla5
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEh24L4jWM0BT_g3uNTG83ex0mFSv7BQc3vpjxVsV_pPjYkW3FK34Io2fp6UfB76HmWjv618_WxPr4cDcfenrYfV1ecaBXoTFhDidGyjL217MLRWWTNMueOffPIO9yk9k1yXVlED6Cp23IXl-Gt1JP5PtpzDGGWxIAw8JGju5S3S9a4KhSuf_97C0gP_bla5=s72-c
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/06/bullying-di-pesantren-dampak-sistem.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/06/bullying-di-pesantren-dampak-sistem.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content