Anak Rakyat dan Harga Mahal Sebuah Pendidikan

 



Oleh Amelia Ayu Permatasari S S.Psi

Aktivis Dakwah

 

Pendidikan tinggi seharusnya menjadi tangga mobilitas sosial dan jalan lahirnya generasi unggul. Namun, realitas hari ini menunjukkan hal yang sebaliknya. Bagi banyak keluarga, kuliah justru berubah menjadi beban berat yang sulit dijangkau. Anak-anak rakyat yang memiliki semangat belajar dan prestasi akademik kerap harus berhadapan dengan satu tembok besar bernama biaya.

Menyusutnya subsidi negara untuk pendidikan tinggi menjadi persoalan yang makin nyata. Dampaknya langsung terasa pada meningkatnya biaya kuliah di berbagai perguruan tinggi. Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang terus membesar, biaya penunjang akademik, hingga kebutuhan hidup selama kuliah menjadi rangkaian beban yang tidak ringan bagi mahasiswa dan keluarganya.

Akibatnya, tidak sedikit mahasiswa yang terpaksa menghentikan studinya. Fenomena putus kuliah bukan lagi kasus sporadis, melainkan gejala sosial yang mengkhawatirkan. Banyak mahasiswa harus memilih antara bertahan kuliah dengan tekanan ekonomi yang berat atau meninggalkan bangku pendidikan demi membantu keluarga mencari nafkah. Pada titik ini, pendidikan tinggi kehilangan fungsinya sebagai ruang pemerataan kesempatan dan justru berpotensi memperlebar kesenjangan sosial.

Minimnya subsidi pendidikan tinggi jelas berdampak pada makin mahalnya biaya kuliah. Kondisi ini terasa lebih berat bagi perguruan tinggi swasta yang sebagian besar pembiayaannya bergantung pada mahasiswa. Ketika sumber pendanaan utama berasal dari pembayaran mahasiswa, maka biaya pendidikan sulit dihindarkan dari kenaikan. Pada akhirnya, rakyat kecil menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Masalah ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan arah tata kelola pendidikan yang makin liberal. Kampus didorong untuk membiayai dirinya sendiri dan mencari sumber pemasukan secara mandiri. Dalam situasi seperti itu, UKT dan berbagai pungutan menjadi tulang punggung keuangan perguruan tinggi. Kampus perlahan diposisikan layaknya institusi ekonomi yang harus menjaga neraca pendapatan dan pengeluaran.

Liberalisasi pendidikan ini lahir dari cara pandang kapitalisme yang menjadikan pendidikan sebagai komoditas. Pendidikan diperlakukan sebagai layanan yang dapat diperjualbelikan sesuai mekanisme pasar. Negara tidak lagi hadir sebagai penanggung jawab utama, melainkan lebih banyak bertindak sebagai regulator yang mengatur jalannya sistem. Ketika paradigma ini diterapkan, akses terhadap pendidikan tinggi akhirnya sangat dipengaruhi kemampuan finansial.

Konsekuensinya jelas: pendidikan berkualitas menjadi makin mahal dan sulit dijangkau anak-anak dari keluarga biasa. Kesempatan menempuh pendidikan tinggi tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh kemampuan intelektual atau semangat belajar, melainkan oleh tebal-tipisnya dompet keluarga. Situasi ini menunjukkan adanya ketidakadilan mendasar dalam sistem pendidikan.

Islam memandang pendidikan dengan cara yang berbeda. Pendidikan diposisikan sebagai kebutuhan dasar sekaligus faktor penting penentu kemajuan masyarakat. Pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang saleh serta memiliki kepakaran di berbagai bidang kehidupan. Karena itu, akses pendidikan tidak boleh bergantung pada kemampuan ekonomi seseorang.

Dalam pandangan Islam, pendidikan tidak layak dikomersialkan. Negara berperan sebagai raa'in atau pengurus urusan rakyat yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, termasuk pendidikan. Negara wajib menyelenggarakan pendidikan bagi seluruh warga secara gratis dan memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk melanjutkan pendidikan tinggi tanpa dipungut biaya. Dengan mekanisme ini, hambatan ekonomi yang menyebabkan putus kuliah dapat dicegah.

Pendanaan pendidikan dalam sistem Islam bersumber dari baitulmal yang memiliki beragam sumber pemasukan. Dengan dukungan pembiayaan tersebut, negara memiliki kemampuan untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang berkualitas dan merata tanpa membebani masyarakat.

Keberadaan sekolah dan kampus swasta juga dikenal dalam sistem khilafah. Namun, keberadaannya tidak identik dengan komersialisasi. Lembaga pendidikan swasta tetap dapat berjalan secara gratis melalui skema wakaf sebagai sumber pembiayaan. Kurikulumnya pun harus selaras dengan sekolah dan kampus negeri agar kualitas pendidikan tetap terjaga dan tujuan pembentukan generasi unggul dapat tercapai.

Mahalnya biaya kuliah dan tingginya angka putus kuliah hari ini menjadi pengingat bahwa ada persoalan mendasar dalam tata kelola pendidikan. Ketika anak rakyat harus mengubur mimpi karena biaya, maka pendidikan sedang kehilangan ruhnya sebagai sarana mencerdaskan kehidupan masyarakat. Pendidikan semestinya menjadi hak yang dijamin, bukan kemewahan yang hanya dapat diakses oleh mereka yang mampu membayar mahal.

 

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,92,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,3,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,24,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,12,Jakarta Selatan,1,KAI,223,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,5,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,215,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,199,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,712,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,7,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,1,Polda Sumbar,103,Polresta Padang,1,Polri,83,Pontianak,1,Puisi,20,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,3,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,4,Solok,3,Sulawesi Selatan,3,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,651,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,4,Telkom,1,Timezone,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,13,
ltr
item
Media Sumbar: Anak Rakyat dan Harga Mahal Sebuah Pendidikan
Anak Rakyat dan Harga Mahal Sebuah Pendidikan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3E4s-wHfXNi1sdbLFedVTFLYjKqXWaHpearDz1fl8_U2FfTypeq1K0q-DrlM2k57kQQfsrcmlWhGVozItg9yaxoxCc-IUpca36bxneT9VCHJB3-8xe_Iv-OXc4TMxI72NbJPcVY6QaaEBBhpx4ukkWGk7ASqJvRZ5-5xDFTbF3OOZ-vDM26cBfJal_WsP/s320/WhatsApp%20Image%202026-06-02%20at%2021.17.21.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3E4s-wHfXNi1sdbLFedVTFLYjKqXWaHpearDz1fl8_U2FfTypeq1K0q-DrlM2k57kQQfsrcmlWhGVozItg9yaxoxCc-IUpca36bxneT9VCHJB3-8xe_Iv-OXc4TMxI72NbJPcVY6QaaEBBhpx4ukkWGk7ASqJvRZ5-5xDFTbF3OOZ-vDM26cBfJal_WsP/s72-c/WhatsApp%20Image%202026-06-02%20at%2021.17.21.jpeg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/06/anak-rakyat-dan-harga-mahal-sebuah.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/06/anak-rakyat-dan-harga-mahal-sebuah.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content