Oleh : Mutiara Dwi Persada (Aktivis Dakwah Kampus)
Konflik Palestina dan entitas Zionis Israel hingga hari ini masih menjadi persoalan besar yang belum berakhir. Di tengah berbagai seruan gencatan senjata, serangan terhadap Gaza terus terjadi dan menunjukkan bahwa penderitaan rakyat Palestina belum menemukan titik akhir. Kehancuran infrastruktur, krisis kemanusiaan, serta jatuhnya korban menjadi gambaran nyata dari konflik yang terus berlangsung.
Di sisi lain, perluasan pemukiman ilegal Israel di wilayah Tepi Barat terus dilakukan. Pembangunan ribuan unit pemukiman tersebut menjadi salah satu bentuk perebutan wilayah yang semakin mempersempit ruang hidup masyarakat Palestina. Ekspansi ini memperkuat kekhawatiran bahwa tanah Palestina secara perlahan terus diambil alih demi kepentingan penguasaan wilayah yang lebih luas.
Selain itu, Masjid Al-Aqsa yang memiliki kedudukan penting bagi umat Islam juga terus menghadapi ancaman. Berbagai tindakan simbolik seperti pengibaran bendera Israel di kawasan Al-Aqsa dipandang sebagai upaya menunjukkan dominasi dan penguasaan terhadap salah satu tempat suci umat Islam.
*Di Balik Ambisi Israel Raya*
Berbagai tindakan yang dilakukan entitas Zionis Israel tidak dapat dipandang sebagai persoalan konflik biasa. Perluasan wilayah, pembangunan pemukiman, serta operasi militer yang terus berlangsung menunjukkan adanya ambisi politik untuk memperluas pengaruh dan penguasaan wilayah. Dalam mewujudkan ambisi tersebut, rakyat Palestina menjadi pihak yang paling terdampak. Gaza dihancurkan, masyarakat kehilangan tempat tinggal, dan penderitaan kemanusiaan terus terjadi. Tindakan tersebut merupakan bentuk kezaliman, kekejaman, serta pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Di sisi lain, dukungan politik dan militer dari Amerika Serikat terhadap Israel turut memperkuat keberlangsungan konflik. Dukungan tersebut membuat posisi Israel semakin kuat, sementara masyarakat Palestina terus berada dalam tekanan. Bahkan berbagai gagasan politik seperti solusi dua negara sering kali tidak menyentuh akar persoalan, yaitu penjajahan yang terus berlangsung.
Penderitaan Palestina yang tidak kunjung selesai juga tidak terlepas dari lemahnya persatuan umat Islam. Saat ini, banyak negeri Muslim masih berjalan sendiri-sendiri berdasarkan kepentingan nasional masing-masing sehingga sulit membangun kekuatan bersama.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh pemahaman sekuler-kapitalis yang memisahkan agama dari kehidupan, termasuk dalam urusan politik dan hubungan antarumat. Pemahaman ini juga melahirkan konsep nasionalisme (nation-state) yang menanamkan batas-batas kebangsaan sehingga umat Islam lebih terikat pada identitas negara masing-masing dibandingkan ikatan persaudaraan Islam. Akibatnya, sebagian kaum Muslimin menjadi jauh dari kepedulian terhadap penderitaan saudaranya di wilayah lain. Padahal Islam telah menegaskan bahwa kaum Muslimin memiliki ikatan persaudaraan yang kuat.
*Membangun Persatuan Umat*
Persoalan Palestina tidak cukup hanya diselesaikan melalui kecaman atau bantuan kemanusiaan semata, tetapi membutuhkan kekuatan dan persatuan umat Islam yang nyata. Umat Islam perlu menyadari bahwa Palestina bukan hanya persoalan satu bangsa, melainkan persoalan umat yang memiliki ikatan akidah dan tanggung jawab bersama.
Islam mengajarkan pentingnya persatuan. Allah SWT berfirman:
_“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...” (QS. Ali ‘Imran: 103)_
Dalam pandangan sebagian umat Islam, persatuan tersebut dapat diwujudkan melalui tegaknya negara Islam (Khilafah) sebagai institusi yang menyatukan kaum Muslimin dalam satu kepemimpinan. Dengan persatuan di bawah Khilafah, umat Islam tidak lagi terpecah oleh batas nasionalisme dan kepentingan negara masing-masing, tetapi memiliki kekuatan bersama dalam menghadapi berbagai bentuk penjajahan dan penindasan.
Khilafah dipandang sebagai sistem yang mampu menghilangkan sekat-sekat perpecahan antar negeri Muslim, menguatkan hubungan antar umat Islam, serta menjadikan persoalan kaum Muslimin sebagai tanggung jawab bersama.
Allah SWT berfirman:
_“Dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang...” (QS. Al-Anfal: 46)_
Ayat tersebut menunjukkan bahwa perpecahan akan melemahkan umat, sedangkan persatuan akan menghadirkan kekuatan.
Dengan adanya persatuan umat dalam sebuah kepemimpinan Islam, kaum Muslimin dapat memiliki kekuatan politik dan militer yang lebih besar untuk menghadapi penjajahan serta membela kaum yang tertindas, termasuk Palestina.
Rasulullah SAW bersabda:
_“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang, cinta, dan kelembutan mereka seperti satu tubuh...”(HR. Muslim)_
Maka, pembebasan Palestina membutuhkan kesadaran dan persatuan umat Islam secara menyeluruh. Karena kekuatan umat lahir dari persatuan, bukan dari perpecahan. Dengan bersatunya kaum Muslimin, diharapkan mampu menghentikan berbagai bentuk kezaliman dan mewujudkan keadilan bagi rakyat Palestina.
Wallahu'alam bishowab
