Oleh: Umma Zafran
Pegiat Literasi
Setiap kali bulan Mei tiba, ingatan kolektif kita sebagai umat Islam kembali diuji oleh sebuah catatan kelam sejarah bernama Nakba (Malapetaka). Tepat pada 15 Mei 1948, sebuah entitas zionis secara paksa merebut tanah Palestina, mengusir ratusan ribu penduduk asli, dan menumpahkan darah mereka dengan dukungan penuh dari imperium Inggris kala itu.
Sejarah bukan sekadar deretan angka tahun atau memorabilia masa lalu yang berdebu. Sejarah adalah cermin sekaligus alarm. Hari ini, 78 tahun telah berlalu sejak peristiwa memilukan itu, namun Nakba nyatanya tidak pernah benar-benar selesai. Apa yang terjadi di Gaza dan Tepi Barat hari ini adalah kelanjutan dari siklus kekerasan, genosida, dan perampasan hak yang sama.
asha
Rakyat Palestina terus menunjukkan keteguhan yang luar biasa dalam menjaga tanah dan kehormatannya, sementara sebagian besar dunia muslim masih terjebak dalam sikap pasif dan keterbatasan langkah politik.
Akar Masalah: Sekat Nasionalisme dan Kegagalan Sistem Global
Mengapa penderitaan ini bisa berlangsung hampir satu abad tanpa ada tanda-tanda akan berakhir? Sebagai kaum muslim, kita dituntut untuk jeli melihat akar masalah, bukan sekadar mengobati gejala di permukaan.
Berlanjutnya penjajahan di Palestina adalah bukti nyata dari kegagalan sistem global saat ini dalam menciptakan kedamaian dan keadilan di muka bumi.
Lebih jauh lagi, tragedi berkepanjangan ini menelanjangi kebusukan konsep negara-bangsa (nation state). Sekat-sekat nasionalisme inilah yang berhasil mengotak-ngotakkan umat Islam. Konsep ini membuat miliaran kaum muslimin di dunia, termasuk para penguasanya, merasa bahwa urusan Palestina adalah urusan internal warga Palestina semata. Akibatnya, umat Islam kehilangan kekuatan kolektif (power) mereka yang sesungguhnya.
Berharap pada negara-negara adidaya, PBB, atau lembaga regional lainnya untuk memerdekakan Palestina adalah sebuah ilusi yang utopis. Rekam jejak sejarah menunjukkan bahwa lembaga-lembaga internasional tersebut justru didesain untuk mempertahankan status quo dan mengukuhkan hegemoni penjajahan terhadap umat Islam. Berbagai jalur diplomasi dan janji-janji tertulis terbukti gagal total. Semua itu hanya menjadi topeng untuk menutupi ketidakberdayaan dunia dalam menolong Palestina
Solusi Hakiki: Penerapan Islam Kaffah dan Kepemimpinan Islam
Solusi hakiki bagi Palestina tidak cukup dicari dari pergantian rezim, resolusi internasional, ataupun diplomasi yang berulang tanpa hasil. Sebab akar persoalannya bukan sekadar konflik wilayah, melainkan persoalan sistemik dan ideologis. Selama sistem politik global masih berpihak pada kekuatan dan kepentingan tertentu, konflik dan penderitaan di Palestina sulit menemukan jalan penyelesaian yang hakiki.
Karena itu, jalan keluar yang dibutuhkan pun tidak boleh bersifat parsial. Islam menawarkan solusi yang menyentuh akar persoalan: penerapan Islam Kaffah, yaitu Islam yang diterapkan secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam sistem kepemimpinan dan tata kelola negara.
Selama ini, umat Islam diajak merasa cukup dengan bantuan kemanusiaan, penggalangan dana, atau kecaman-kecaman emosional setiap kali Gaza dibombardir. Padahal semua itu belum pernah benar-benar mampu menghentikan penjajahan. Palestina tidak membutuhkan belas kasihan dunia, tetapi membutuhkan kekuatan nyata yang mampu melindungi dan membebaskannya.
Di sinilah umat perlu menyadari bahwa pembebasan Palestina harus menjadi bagian dari agenda besar kebangkitan umat Islam secara menyeluruh. Secara historis, Palestina pernah berada dalam perlindungan kepemimpinan Islam selama berabad-abad. Dan secara syar’i, hanya kepemimpinan Islam yang memiliki kewajiban untuk menjaga kehormatan kaum muslim, membela negeri-negeri Islam, serta memobilisasi kekuatan militer demi menghentikan penjajahan.
Kepemimpinan seperti inilah yang mampu memutus ketergantungan kepada negara-negara imperialis, menyatukan potensi besar dunia Islam, serta menghadirkan kekuatan politik dan militer yang disegani dunia. Sebab umat Islam sejatinya bukan umat kecil. Mereka memiliki sumber daya alam yang melimpah, jumlah penduduk yang besar, serta posisi geopolitik yang strategis. Namun semua potensi itu tercerai-berai oleh sekat nasionalisme dan kepentingan negara bangsa yang memecah belah kaum muslimin.
Karena itu, perjuangan hari ini tidak boleh berhenti pada rasa simpati. Umat membutuhkan kesadaran ideologis. Melalui dakwah, pena, dan literasi, umat harus kembali disadarkan bahwa Islam bukan hanya agama ibadah ritual, tetapi juga sistem kehidupan yang mengatur urusan masyarakat dan negara.
Umat juga harus mulai meruntuhkan sekat ashabiyah dan nasionalisme sempit yang selama ini membuat penderitaan Palestina dianggap hanya urusan bangsa tertentu. Ikatan yang seharusnya menyatukan umat bukanlah batas wilayah dan bendera, melainkan akidah Islam yang sama.
Ketika kepemimpinan Islam itu kembali tegak, umat Islam tidak lagi menjadi objek penindasan global. Umat akan kembali memiliki kewibawaan, mampu menjaga negeri-negerinya, merebut hak-hak yang dirampas, sekaligus membawa Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia.
Peringatan Nakba seharusnya tidak hanya menjadi agenda mengenang luka sejarah, tetapi momentum untuk mengevaluasi jalan perjuangan yang selama puluhan tahun terbukti gagal.
Sudah terlalu lama umat berharap pada perundingan yang mandek, hukum internasional yang tajam ke bawah namun tumpul kepada penjajah, dan janji-janji negara besar yang justru menjadi pelindung utama zionisme.
Sudah saatnya umat menghentikan solusi tambal sulam yang tidak pernah menyentuh akar persoalan. Energi perjuangan harus diarahkan pada kebangkitan umat melalui penerapan Islam Kaffah di bawah kepemimpinan Islam yang menyatukan. Inilah perjuangan besar yang membutuhkan kesadaran, pemikiran, dan kontribusi seluruh kaum muslimin.
Maka tugas kita hari ini bukan sekadar bersedih melihat penderitaan Palestina, tetapi juga membangun kesadaran umat, menyampaikan kebenaran Islam, dan menghidupkan kembali keyakinan bahwa Islam memiliki solusi nyata bagi persoalan dunia. Sebab perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran besar.
Wallahualam bissawab.
