Mudik, Macet, dan Korban Jiwa: Konsekuensi Transportasi dalam Sistem Kapitalistik

 


Oleh Ummu Laila

Aktivis Muslimah

 

Mudik Lebaran selalu menghadirkan dua wajah yang kontras. Di satu sisi, ia adalah momen penuh kebahagiaan: jutaan orang pulang ke kampung halaman untuk bersilaturahmi dan merayakan hari raya bersama keluarga. Namun di sisi lain, mudik juga kerap menyisakan cerita pahit. Kemacetan panjang yang mengular di berbagai ruas jalan dan kecelakaan lalu lintas yang merenggut korban jiwa hampir selalu menjadi berita utama setiap tahun.

Fakta ini bukan sekadar insiden sesaat, melainkan pola yang terus berulang. Setiap musim mudik dan arus balik, jalan-jalan utama dipenuhi kendaraan pribadi yang bergerak lambat, bahkan berhenti total berjam-jam. Tentu saja resiko kecelakaan akan terus meningkat. Data dari berbagai tahun menunjukkan bahwa kecelakaan selama arus mudik dan balik menelan korban jiwa dalam jumlah yang tidak sedikit. Bagi sebagian keluarga, perjalanan pulang kampung justru berakhir dengan duka.

Ironisnya, persoalan ini seolah menjadi “tradisi tahunan” yang diterima begitu saja. Setiap tahun, pemerintah mengumumkan berbagai langkah antisipasi—mulai dari rekayasa lalu lintas, sistem satu arah, pembatasan kendaraan tertentu, hingga pengaturan jadwal perjalanan. Namun, kebijakan-kebijakan tersebut pada dasarnya hanya bersifat teknis dan sementara. Ia mungkin meredakan kemacetan pada titik tertentu, tetapi tidak menyentuh akar persoalan yang membuat kemacetan dan kecelakaan terus berulang.

Akar masalahnya berkaitan erat dengan buruknya sistem transportasi yang ada. Layanan transportasi massal yang aman, nyaman, dan terjangkau masih jauh dari memadai. Kereta, bus antarkota, maupun moda transportasi lainnya belum mampu menampung kebutuhan mobilitas jutaan orang yang ingin mudik secara bersamaan.  Akibatnya, masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi—mobil maupun sepeda motor—sebagai alternatif perjalanan.

Ketika jutaan kendaraan pribadi turun ke jalan dalam waktu hampir bersamaan, kemacetan menjadi tak terhindarkan. Masalah semakin rumit karena pertumbuhan jumlah kendaraan tidak sebanding dengan pertambahan panjang dan kualitas jalan. Di banyak wilayah, kondisi jalan bahkan masih rusak atau tidak layak, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan. Kombinasi antara kepadatan kendaraan, infrastruktur yang tidak memadai, dan kelelahan pengemudi menciptakan situasi yang sangat rawan bagi keselamatan pengguna jalan.

Persoalan ini sejatinya tidak bisa dilepaskan dari paradigma pengelolaan negara dalam sistem kapitalis. Dalam sistem ini, negara cenderung diposisikan sebatas regulator dan fasilitator, bukan pengurus yang bertanggung jawab penuh atas kebutuhan rakyat. Banyak layanan publik—termasuk transportasi—dikelola dengan logika bisnis dan efisiensi ekonomi, bukan dengan perspektif pelayanan publik yang menyeluruh.

Akibatnya, pembangunan transportasi sering kali tidak berorientasi pada pemenuhan kebutuhan masyarakat secara merata. Infrastruktur dibangun secara parsial, sementara layanan transportasi massal tidak berkembang secara optimal. Dalam situasi seperti ini, rakyat dipaksa mencari solusi sendiri atas kebutuhan mobilitas mereka, termasuk dengan menggunakan kendaraan pribadi dalam jumlah masif. Risiko kemacetan dan kecelakaan pun akhirnya harus mereka tanggung sendiri.

Padahal dalam pandangan Islam, negara memiliki fungsi yang jauh lebih mendasar, yakni sebagai raa’in—pengurus dan pelayan rakyat. Rasulullah ﷺ bersabda, “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Prinsip ini menegaskan bahwa negara tidak boleh bersikap abai terhadap kebutuhan dan keselamatan masyarakat.

Dalam sistem pemerintahan Islam, yaitu Khilafah, negara berkewajiban menyediakan layanan transportasi publik yang memadai bagi seluruh rakyat. Negara akan memastikan tersedianya transportasi massal yang aman, nyaman, dan murah dalam jumlah yang mencukupi. Dengan sistem transportasi publik yang kuat, masyarakat tidak perlu bergantung pada kendaraan pribadi untuk perjalanan jarak jauh, termasuk saat mudik.

Selain itu, negara juga bertanggung jawab membangun dan merawat infrastruktur jalan secara optimal. Jalan-jalan yang rusak harus segera diperbaiki, sementara jaringan jalan baru dibangun sesuai kebutuhan mobilitas masyarakat. Perencanaan transportasi dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi sehingga mampu mengakomodasi pergerakan masyarakat dalam skala besar.

Dengan paradigma pelayanan seperti ini, keselamatan dan kenyamanan perjalanan masyarakat menjadi prioritas utama. Negara tidak sekadar mengelola dampak kemacetan, tetapi menyelesaikan akar persoalan yang menyebabkannya.

Mudik seharusnya menjadi perjalanan yang penuh kebahagiaan, bukan perjalanan yang dipenuhi risiko kemacetan dan ancaman kehilangan nyawa. Selama pengelolaan transportasi masih berada dalam kerangka sistem yang menempatkan pelayanan publik bukan sebagai prioritas utama, persoalan kemacetan dan kecelakaan mudik akan terus berulang. Karena itu, sudah saatnya ada keberanian untuk meninjau ulang paradigma pengelolaan transportasi—agar negara benar-benar hadir sebagai pengurus yang menjamin keselamatan dan kenyamanan perjalanan rakyat.

 

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,85,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,3,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,12,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,9,Jakarta Selatan,1,KAI,178,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,1,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,198,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,187,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,594,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,3,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,1,Polda Sumbar,102,Polresta Padang,1,Polri,81,Pontianak,1,Puisi,20,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,3,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,2,Solok,2,Sulawesi Selatan,2,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,613,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,3,Telkom,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,11,
ltr
item
Media Sumbar: Mudik, Macet, dan Korban Jiwa: Konsekuensi Transportasi dalam Sistem Kapitalistik
Mudik, Macet, dan Korban Jiwa: Konsekuensi Transportasi dalam Sistem Kapitalistik
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEij7kbafKlmqKRkJ2em9f3NJkpa82bZJRmpPL92Ie0B1Cwj6cHuRY1hFaJ2SnFRcm0wSH6geNK3ktqCqR9uDefoP2pIeNwKurLoolYDhTNk5jNAOuxHz_IM5aiwyje0cA5_pBRVyiyO5XiDNSnjkwIIph-ElJK4BuIAosW3l4K02humnnj0lt0WPPl5-Was/s320/WhatsApp%20Image%202026-03-26%20at%2005.28.46.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEij7kbafKlmqKRkJ2em9f3NJkpa82bZJRmpPL92Ie0B1Cwj6cHuRY1hFaJ2SnFRcm0wSH6geNK3ktqCqR9uDefoP2pIeNwKurLoolYDhTNk5jNAOuxHz_IM5aiwyje0cA5_pBRVyiyO5XiDNSnjkwIIph-ElJK4BuIAosW3l4K02humnnj0lt0WPPl5-Was/s72-c/WhatsApp%20Image%202026-03-26%20at%2005.28.46.jpeg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/04/mudik-macet-dan-korban-jiwa-konsekuensi.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/04/mudik-macet-dan-korban-jiwa-konsekuensi.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content