Oleh: Sahari Ramadhani, S.Pd.I., Gr.
Ada yang pelan-pelan berubah dari cara kita mengisi waktu.
Dulu, banyak dari kita menghabiskan sore dengan buku di tangan. Kini, jempol lebih sering menari di layar, menonton video singkat yang datang silih berganti tanpa jeda. Semua terasa cepat, padat, dan—katanya—bermanfaat. Tapi, benarkah ia sungguh-sungguh memberi ruang bagi pikiran untuk tumbuh?
Video singkat memang menarik. Dalam satu menit, kita bisa mendapat motivasi, tips sukses, inspirasi, bahkan potongan ilmu. Namun, membaca buku berbeda. Saat kita membaca, otak tidak hanya menerima informasi, tetapi juga bekerja. Ia mencerna, menelaah, membayangkan, menghubungkan gagasan, bahkan mempertanyakan isi bacaan. Proses inilah yang membuat otak terasah. Membaca seperti olahraga bagi pikiran. Pelan tapi pasti, membaca membangun daya tahan berpikir.
Sejumlah ahli telah mengingatkan tentang perubahan cara otak bekerja di era digital. Psikolog sosial seperti Jonathan Haidt menyoroti dampak paparan layar yang berlebihan terhadap konsentrasi generasi muda. Sementara itu, penulis Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows menjelaskan bagaimana kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat dan terputus-putus dapat mengurangi kemampuan kita untuk berpikir mendalam. Otak menjadi terbiasa dengan yang instan, bak pencernaan yang terus-menerus diberi makanan cepat saji—kenyang, tetapi tidak benar-benar bergizi.
Lalu bagaimana dengan video motivasi atau konten inspiratif? Bukankah itu juga baik? Tentu saja tidak ada yang salah dengan inspirasi. Masalahnya bukan pada isinya semata, melainkan pada pola dan prosesnya. Ketika otak terus dilatih menerima potongan informasi singkat tanpa proses refleksi yang cukup, daya tahan berpikir bisa melemah. Kita mudah terhibur, tetapi sulit bertahan membaca panjang. Mudah tergerak, tetapi cepat lupa.
Menariknya, beberapa negara mulai menyadari hal ini. Di Swedia, kebijakan pendidikan beberapa waktu lalu menjadi sorotan karena sekolah-sekolah kembali menekankan penggunaan buku cetak dan mengurangi perangkat digital di kelas. Finlandia, yang lama dikenal dengan sistem pendidikan modernnya, juga melakukan evaluasi serius terhadap penggunaan gawai di sekolah. Bahkan Prancis telah lebih dulu membatasi penggunaan ponsel di lingkungan pendidikan.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah mungkin sekolah-sekolah kita kembali menempatkan buku sebagai pusat pembelajaran, bukan layar? Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Teknologi sudah menjadi bagian dari hidup kita. Namun, pilihan untuk menyeimbangkan—bahkan memprioritaskan—bacaan panjang tetap ada di tangan kita bersama.
Hari Buku Sedunia bukan sekadar perayaan simbolik. Ia adalah pengingat bahwa dalam waktu yang terus bergerak cepat, buku mengajarkan kita untuk melambat, untuk tinggal lebih lama dalam satu gagasan, untuk tidak sekadar tahu, tetapi memahami.
Karena pada akhirnya, masa depan tidak hanya dibentuk oleh apa yang kita tonton hari ini, tetapi oleh apa yang kita baca, resapi, dan pikirkan dalam diam. Dan mungkin, perubahan besar itu selalu dimulai dari satu halaman yang kita buka—hari ini.
