“Gaes, Siti Manggopoh itu berasal dari mana, ya?”
Pertanyaan sederhana itu terlontar dari seorang mahasiswa di tengah obrolan santai di sebuah kafe. Jawaban yang muncul beragam, Pariaman, Pasaman, Pesisir. Ketika ada yang menyebut Agam, justru dibantah dengan penuh percaya diri.
“Tidak mungkinlah. Dari namanya saja jelas bukan Agam.”
Percakapan itu terhenti begitu saja. Namun sesungguhnya, yang terhenti bukan hanya diskusi—melainkan juga denyut ingatan sejarah dalam benak generasi muda.
Betapa miris ketika sosok perempuan hebat asal Lubuk Basung, Kabupaten Agam itu justru asing di telinga anak muda Minangkabau sendiri. Perempuan yang pernah dijuluki Singa Betina Minang kini seakan kehilangan ruang dalam bilik ingatan para pemuda yang kelak akan menjadi penerus bangsa.
Andaikan patung Siti Manggopoh dapat berbicara, mungkin ia akan berseru, “Aku berdiri di sini bukan untuk sekadar menjadi latar swafoto. Aku berdiri untuk mengingatkanmu betapa mahal harga kemerdekaan yang kini kau nikmati.”
Jejak Perlawanan Singa Betina Minang
Siti Manggopoh lahir sekitar tahun 1880-an. Julukan “Singa Betina” bukanlah kiasan kosong. Ia adalah simbol keberanian, kegigihan, dan keteguhan hati dalam menghadapi ketidakadilan.
Perlawanan yang dipimpinnya terjadi pada masa pemberlakuan pajak belasting oleh pemerintah kolonial Belanda. Pajak tersebut tidak hanya dikenakan pada tanah dan bangunan, tetapi juga pada rumah adat, hasil pertanian, tembakau, bahkan kebutuhan sehari-hari. Kebijakan ini sangat bertentangan dengan adat Minangkabau yang memandang tanah sebagai milik kaum dan masyarakat pribumi. Tak tahan melihat penderitaan rakyat, Siti Manggopoh bangkit. Bersama suaminya dan masyarakat sekitar, ia melakukan perlawanan secara gerilya.
Puncaknya terjadi pada 16 Juni 1908. Dalam sebuah serangan ke benteng pertahanan Belanda, ia dan kelompoknya berhasil melumpuhkan puluhan serdadu. Tercatat dalam sejarah, sebanyak 53 serdadu Belanda tewas dalam peristiwa tersebut.
Yang membuat perjuangannya semakin luar biasa adalah kenyataan bahwa saat itu ia tengah menyusui bayinya.
Di tengah dilema sebagai ibu dan pejuang, ia memilih memperjuangkan keadilan tanpa meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Keberanian itu mengguncang pertahanan Belanda.
Akibat perlawanan tersebut, Siti Manggopoh dan suaminya ditangkap. Ia dipenjara di Lubuk Basung selama 14 bulan, di Padang 12 bulan, dan di Pariaman 16 bulan. Ia bahkan sempat divonis penjara seumur hidup. Pada akhirnya ia dibebaskan, namun suaminya diasingkan ke Manado dan tidak pernah kembali.
Siti Manggopoh menjalani semua itu tanpa keluh, dalam keadaan tetap menyusui anaknya. Keteguhan hatinya adalah bukti bahwa keberanian tidak mengenal jenis kelamin.
Refleksi untuk Pemuda Hari Ini
Kini, kita hidup di era teknologi digital. Informasi tersedia di genggaman. Sejarah bisa diakses hanya dengan sentuhan layar.
Lalu pertanyaannya, mengapa masih ada yang tidak mengenal Siti Manggopoh? Tidak ada alasan untuk tidak tahu. Tidak ada alasan untuk abai.
Perjuangan Siti Manggopoh menghadirkan setidaknya tiga teladan penting bagi pemuda; semangat mempertahankan kebenaran, mengutamakan kepentingan bersama, keberanian melampaui batas.
Dalam keadaan menyusui, ia tetap berdiri di garis depan. Ini membuktikan bahwa perempuan tidak dibatasi oleh stereotip domestik. Perempuan mampu menjadi penggerak perubahan.
Jasmerah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah)
Ini bukan sekadar slogan. Ia adalah peringatan.
Pemuda yang literat bukanlah yang gemar mengucapkan “salam literasi”, melainkan yang sungguh-sungguh membaca, memahami, dan mengambil pelajaran dari sejarah bangsanya.
Teknologi hari ini seharusnya menjadi alat untuk berkarya, berinovasi, dan memberi manfaat bagi masyarakat—bukan sekadar sarana hiburan tanpa makna.
Tidak ada kata terlambat untuk kembali membuka lembaran sejarah.
Mengenal Siti Manggopoh bukan hanya soal mengetahui nama dan asal daerahnya. Mengenalnya berarti menghidupkan kembali semangat keberanian, keteguhan, dan kepedulian sosial dalam diri.
Jika pemuda tidak melupakan sejarah, maka ia akan tumbuh menjadi generasi bernas—generasi yang tidak sekadar menikmati kemerdekaan, tetapi juga mampu mengisi dan mempertahankannya.
Siti Manggopoh mungkin telah tiada, namun semangatnya tidak boleh ikut hilang.
