Oleh Rahmawati Ayu Kartini
Pemerhati Sosial
Sadarkah Anda bahwa di depan mata kita ada role model pelaku-pelaku Al-Qur'an? Ketika Nabi dan Rasul sudah tidak berada di tengah-tengah umat Islam lagi, Allah memberikan teladan dan penguat iman kita menghadapi berbagai fitnah akhir zaman.
Siapakah mereka? Ya mereka adalah umat Islam di Gaza, Palestina. Suatu kota dekat Baitul Maqdis yang ahli dunia melihatnya sebagai neraka, tapi ahli akhirat melihatnya sebagai jalan tol menuju surga.
Gaza yang dahulunya merupakan kota yang cantik di tepi Laut Merah, kini hampir semua bangunan luluh lantak karena bom-bom Israel. Israel menyerang dengan membabi buta karena putus asa tidak mampu menangkap seorangpun pejuang Hamas. Namun ajaibnya, 2 tahun lebih genosida dilakukan, tidak ada kata menyerah dari para pejuang dan penduduknya. Justru banyak tentara Israel bunuh diri dan para pengamat militer berpendapat bahwa Gaza tidak kalah karena keteguhan iman penduduknya.
Ayat Qur'an di Gaza
Peristiwa Gaza sungguh ajaib. Seakan-akan dipertontonkan kepada kita bahwa penduduk Gaza sedang perankan Al-Qur'an secara rinci. Penduduk Gaza terdiri atas para pejuang dan rakyat biasa. Inilah sebagian ayat Al-Qur'an yang diperankan para Mujahidin: "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar." (QS Ali Imran: 142)
Para Mujahidin yang terdiri dari berbagai kelompok di Gaza adalah Murabhitin, yakni penjaga Palestina dan Masjidil Aqsha di garis terdepan. Ketika negeri-negeri Islam lainnya diam membisu terhadap kedzaliman pada Palestina dan Masjidil Aqsha, Mujahidin Gaza berdiri tegak untuk melakukan perlawanan.
Sungguh mereka tak berjuang sendiri, karena Allah membersamai mereka. Para pejuang hanya bersandar kepada Allah, karena tidak ada satupun negeri Islam yang membantu melawan penjajah. Maka kita saksikan sendiri bahwa mereka tidak mampu ditundukkan. Bahkan ketika Israel dibantu oleh sekutunya dari negara-negara besar.
Sementara warga sipil Gaza sendiri, mereka pun memerankan Al Qur'an. Sebagaimana ayat berikut:
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "InnÄ lillÄhi wa innÄ ilaihi rÄji'Å«n" (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)." (QS. Al Baqarah: 155-156)
Jutaan mata menyaksikan bagaimana penderitaan yang dialami warga Gaza. Mereka ditimpa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa, serta buah-buahan. Dan apakah mereka marah dan menyalahkan Allah atas semua itu?
Mereka hanya mengucapkan: Innalillahi wa innailaihi raji'un, sebagai tanda bahwa mereka menerima segala kehendak Allah. Semua yang mereka punya hanya titipan yang akan diambil kembali oleh Allah. Bahkan tidak jarang pula penduduk Gaza menyikapi musibah itu dengan perkataan: "Hadza fadlun minallah (Ini adalah karunia dari Allah)."
Jangan kau kira hanya orang dewasa saja yang mengucapkan itu. Tak sedikit anak-anak Gaza pun mengucapkan hal yang sama, sebagai bukti bahwa pendidikan Al Qur'an kepada mereka telah berhasil membentuk mental dan jiwa kokoh! Inilah pentingnya mendidik anak-anak kita dengan Al-Qur'an: dengan membaca, menghafal, dan memahami, sehingga mampu mengamalkannya.
Anak-anak kecil di Gaza sangat ditakuti Israel. Karena itulah mereka menjadi target utama pembunuhan, selain kepada para wanitanya. Justru tidak lagi menarget laki-laki dewasa. Mengapa? Karena jika sejak kecil anak-anak sudah kuat memegang Al Qur'an, kelak mereka akan menjadi pejuang yang lebih militan lagi. Dan para wanita adalah pabriknya, yang akan mengkader anak-anak melawan Israel.
Inilah yang membuat kebanyakan tentara Israel stres dan bunuh diri. Karena segala sesuatu di Gaza sungguh menakutkan bagi mereka. Wajar jika mereka hanya berani menyerang dari udara saja, tidak berani berhadapan dengan penduduk Gaza di darat bahkan dengan anak kecilnya!
Gaza penguat iman kita
Ketika kita merasa masalah hidup ini sangat berat dan mencari alasan untuk tidak bisa atau tidak mampu, mungkin kita harus selalu mengikuti berita tentang Gaza. Bagaimana mereka diturunkan ke muka bumi ini sebagai penguat kita, bahwa hidup mereka jauh lebih besar masalahnya tapi tidak ada keluhan dan mereka terima takdirnya. Padahal mereka sama-sama manusia seperti kita. Inilah hasil kedekatan dengan Al Qur'an.
Keajaiban ini menjadi magnet bagi dunia. Banyak warga di seluruh dunia terharu dengan perjuangan Gaza pertahankan Masjidil Aqsha. Dari berbagai negara seperti Amerika, Eropa, Australia, dll banyak warganya mulai bertanya tentang bagaimana Islam itu dan apa yang membuat warga Gaza begitu kuat iman. Tak heran makin banyak halqoh-halqoh Qur'an diadakan walaupun kebanyakan mereka belum muslim. Namun tak sedikit pula warga dan tokoh-tokoh terkemuka yang akhirnya bersyahadat karena Gaza.
Gaza memang terpenjara oleh tembok beton Israel, tapi sekarang seluruh dunia telah menjadi 'Gaza' yang siap memberikan pembelaan untuknya. Jadi sebenarnya ujian ini bukan hanya untuk Gaza Palestina saja. Namun, ujian ini adalah untuk setiap muslim dimanapun berada.
Gaza adalah pemantik perjuangan, sementara kita di luar diuji bagaimana respon kita terhadap penderitaan mereka dan perjuangan membebaskan Masjidil Aqsha. Jika mereka yang non muslim saja terus membela Gaza hingga saat ini, mengapa yang muslim tidak? Kepedulian terhadap Gaza adalah tolok ukur keimanan kita. Jika kita masih terus mengikuti perkembangan mereka dan membantu sekuatnya, kuatlah iman kita. Jika kita sudah bosan bahkan capek dengan berita Palestina, maka saat itulah iman kita perlu dipertanyakan. Karena Rasulullah saw. bersabda: “Salah satu dari kalian tidak (disebut) beriman (secara sempurna), hingga mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari Muslim)
Semoga kita kelak memiliki hujjah yang memberatkan amal di hadapan Allah, bahwa kita telah melakukan pembelaan terhadap Gaza Palestina.
Wallahu a'lam bishowab.
