![]() |
| Oleh Vebriyanthie Orcheva (Pemerhati Media Sosial) |
Idul Fitri selalunya terasa bagaikan garis akhir dari sebuah perjalanan yang panjang. Setelah berpuasa sebulan penuh, menahan diri dari segala hawa nafsu, memperbanyak ibadah, lalu di hari itu kita merasa “menang”. Namun entah mengapa, jika direnungkan lebih dalam, ada rasa yang mengganjal. Benarkah kemenangan itu sudah benar-benar kita raih, atau jangan-jangan kita baru sampai di permukaannya saja?
Selama ini kita memahami arti Ramadhan hanya menahan lapar, dahaga, hawa nafsu. Padahal, maknanya jauh lebih dalam dari itu. Ramadhan adalah bulan perjuangan. Bukan hanya perjuangan pribadi, tapi juga perjuangan umat. Sejarah mencatat, di bulan inilah kaum Muslim meraih kemenangan besar seperti dalam Perang Badar. Sebuah pelajaran bahwa Ramadhan melahirkan kekuatan, bukan hanya keshalihan individu.
Sayangnya, kita lihat kondisi hari ini, perjuangan itu terasa belum sampai ke tujuan. Umat Islam masih jauh dari kemenangan hakiki. Kita masih hidup dalam ketepecahan, terkotak-kotak dalam banyak negara, dengan kepentingan masing-masing. Bahkan yang lebih menyakitkan, ada sebagian negeri Muslim yang justru berdiri bersama kekuatan besar yang besebrangan dengan umat Islam sendiri.
Sebuah fakta yang cukup mencerminkan kondisi ini diberitakan oleh CNBC Indonesia pada 2 Maret 2026, bahwa ada 6 (enam) negara Arab yang bergabung dengan Amerika Serikat untuk mengutuk Iran. Terlepas dari konflik yang melatarbelakanginya, hal ini menunjukan bahwa umat Islam belum berdiri dalam satu barisan. Kepentingan politik nasional sering lebih diutamakan daripada kepentingan umat secara keseluruhan.
Akar masalahnya adalah kesadaran kita tentang Ramadhan masih mandek di level ibadah perorangan (individu). Kita rajin memperbaiki diri kita sendiri tapi belum sampai pada kesadaran bahwa Islam adalah sebuah ideologi yang mengatur aspek kehidupan. Perjuangan umat pun akhirnya lebih banyak besifat praktis dan pragmatis, bukan ideologis.
Padahal Allah SWT telah menetapkan posisi umat ini begitu mulia. Dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia” (QS. Ali Imran: 110). Ayat ini bukan hanya pujian, tapi juga tanggung jawab. Umat terbaik seharusnya memimpin, bukan malah dipimpin. Memberi solusi, bukan justru menjadi bagian dari masalah.
Ironisnya jika kita lihat potensi Umat Islam, semuanya ada. Jumlah yang besar, sumber daya alam yang melimpah, wilayah yang strategis, bahkan ajaran Islam yang sempurna sebagai pedoman hidup. Tapi semua itu seperti tercerai-berai, tidak terikat dalam satu arah perjuangan yang jelas. Kita punya kekuatan, tapi tidak punya kesatuan visi.
Yang hilang dari kita bukanlah kemampuan, tapi kesadaran. Kita belum benar-benar menjadikan Islam sebagai landasan dalam seluruh aspek kehidupan. Islam masih sering diposisikan hanya sebagai agama ibadah semata, bukan sebagai sistem hidup. Dari sinilah muncul jarak antara semangat Ramadhan dengan realitas kehidupan setelahnya.
Kita semua tahu, bahwa perubahan besar tidak lahir dari langkah yang setengah-setengah. Di sinilah pentingnya membangun kesadaran politik ideologis umat. Bukan politik dalam arti sempit, tapi kesadaran bahwa umat ini harus bersatu, kuat, dan hidup di bawah atuan Allah. Dakwah tidak cukup hanya mengajak orang beribadah saja, tapi juga harus membangun pemahaman bahwa Islam adalah solusi menyeluruh bagi kehidupan.
Rasulullah SAW tidak hanya membina individu yang shalih, tapi juga membangun masyarakat dan sistem kehidupan di Madinah dengan aturan Allah. Setelah beliau wafat, para sahabat melanjutkan perjuangan itu. Di masa Khulafaur Rasyidin, kita bisa melihat bagaimana di masa Umar bin Khaththab, keadilan benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat, bahkan non muslim sekalipun. Wilayah Islam meluas bukan karena ambisi dunia, tapi karena membawa keadilan dan rahmat Islam. Semua itu lahir dari penerapan Islam secara menyeluruh, bukan sebagian-sebagian.
Maka dari itu, Idul Fitri seharusnya tidak hanya kita maknai sebagai kemenangan pribadi kita saja, tapi juga sebagai pengingat bahwa ada kemenangan besar yang masih harus kita perjuangkan. Kemenangan ketika umat ini bena-benar bersatu, kuat, dan hidup di bawah aturan Allah.
Ramadhan seharusnya menjadi titik awal untuk itu. Momentum untuk membangun kesadaran, mengumpulkan kekuatan, dan menyatukan langkah. Dibutuhkan dakwah yang membangun pemahaman Islam secara kaffah, serta perjuangan bersama yang tulus untuk menghadirkan kembali kehidupan yang diridhai Allah SWT.
Allah SWT juga mengingatkan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ra’d : 11). Ayat ini menegaskan bahwa perubahan itu harus dimulai dari kesadaran, lalu diwujudkan dalam perjuangan nyata. Kemenangan sejati bukan hanya tentang hasil menahan lapar dan dahaga semata, tetapi tentang berhasil mengembalikan kehidupan sesuai dengann hukum Allah SWT.
Hari ini kita masih merayakan kemenangan yang kecil. Tapi kita merindukan kemenangan yang lebih besar, yaitu ketika umat ini benar-benar bersatu, kuat, dan hidup di bawah aturan Allah. Perjalanan kesana memang tidak mudah. Tapi setiap perjalanan besar selalu dimulai dari satu hal, yaitu kesadaran. Dan mungkin, Ramadhan telah mengetuk pintu itu. Tinggal kita, mau atau tidak untuk membukanya.
Wallahu a’lam bishshawab
