Oleh Aas K
Aktivis Muslimah
Gelombang demonstrasi besar bertajuk “No Kings” yang mengguncang Amerika Serikat pada 28 Maret 2026 menjadi sinyal kuat bahwa kepercayaan publik terhadap kepemimpinan dan sistem yang ada kian rapuh. Jutaan warga turun ke jalan bukan sekadar menolak figur, tetapi juga mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap arah kebijakan negara adidaya tersebut.
Di bawah kepemimpinan Donald Trump, kebijakan luar negeri yang agresif dan berorientasi militer dinilai memperburuk beban utang negara. Ambisi mempertahankan dominasi global justru menghadapkan AS pada tekanan ekonomi dan ketidakstabilan internal. Di sisi lain, dukungan terbuka terhadap Israel dalam konflik dengan Palestina, serta manuver geopolitik terhadap Iran, semakin mempertegas wajah hegemoni global yang sarat kepentingan.
Fenomena ini membuka mata banyak pihak bahwa sistem kapitalisme global yang dipimpin AS tidak sepenuhnya membawa keadilan. Justru, dalam banyak kasus, sistem ini melahirkan ketimpangan, konflik, dan politik “adu domba” antarnegara demi kepentingan kekuasaan.
Dalam perspektif umat Islam, kondisi ini menjadi momentum muhasabah (evaluasi). Banyak negeri Muslim yang justru terjebak dalam pusaran kepentingan global, bahkan terkadang menjadi bagian dari strategi yang merugikan umat sendiri. Ketergantungan politik dan ekonomi kepada kekuatan besar membuat kedaulatan melemah.
Karena itu, penting adanya upaya serius untuk meningkatkan kesadaran politik umat. Edukasi tentang sistem Islam yang mencakup aspek pemerintahan, ekonomi, dan hubungan internasional perlu terus digencarkan. Islam tidak hanya mengatur ibadah individu, tetapi juga menawarkan konsep kehidupan yang menyeluruh, termasuk dalam mengatur negara dan masyarakat.
Gagasan tentang kepemimpinan Islam atau khilafah sering muncul dalam diskursus ini sebagai alternatif sistem. Namun, yang lebih penting dari sekadar istilah adalah pemahaman substansinya: keadilan, amanah, dan pengelolaan kekuasaan yang berorientasi pada kemaslahatan umat, bukan kepentingan segelintir elit.
Akhirnya, krisis yang terjadi di AS hari ini bukan hanya persoalan satu negara, tetapi cerminan rapuhnya sistem global. Bagi umat Islam, ini bisa menjadi titik awal untuk kembali mengkaji, memahami, dan menawarkan solusi yang berakar pada nilai-nilai Islam secara damai, intelektual, dan bertanggung jawab.
