![]() |
| Oleh: Aning Mulyaningsih Muslimah Peduli Umat |
Hingga Selasa pagi (13/1/2026), banjir masih merendam 22 RW serta lima ruas jalan di Jakarta. Kondisi ini memaksa sebanyak 1.137 warga mengungsi. Banjir dipicu oleh hujan deras hingga ekstrem yang disertai meluapnya aliran sungai, sehingga melampaui kapasitas sistem pengendalian banjir baik skala mikro maupun makro. Infrastruktur pengendali banjir yang ada sejatinya hanya dirancang untuk menampung curah hujan sekitar 100–150 milimeter per hari.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan bahwa hingga pukul 08.00 WIB, genangan masih terjadi di sembilan RT di wilayah Jakarta Barat, tepatnya di Kelurahan Tegal Alur. Ketinggian air berkisar antara 30–35 sentimeter, sementara di Kelurahan Kedoya Selatan mencapai sekitar 30 sentimeter.
Pemerintah menilai banjir disebabkan oleh tingginya intensitas hujan, sehingga langkah yang ditempuh antara lain dengan modifikasi cuaca serta normalisasi sungai sebagai upaya menekan risiko banjir.
Namun, akar persoalan banjir sejatinya bukan semata karena curah hujan yang tinggi, melainkan akibat penataan ruang yang keliru. Banyak lahan yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan air justru beralih fungsi sehingga tidak lagi mampu menyerap air secara optimal.
Dalam sistem kapitalisme, kebijakan pengelolaan lahan kerap mengabaikan dampak lingkungan. Solusi yang ditawarkan pemerintah cenderung bersifat praktis dan sementara, tanpa menyentuh penyebab mendasar dari persoalan banjir.
Berbeda halnya dengan konsep pemerintahan Islam, di mana penataan ruang dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan lingkungan. Pembangunan tidak semata didasarkan pada asas keuntungan, melainkan berorientasi pada kemaslahatan umat dalam jangka panjang.
Dalam sistem khilafah (negara Islam), tata ruang dirancang dengan mempertimbangkan kemanfaatan tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh makhluk hidup. Dengan demikian, pembangunan yang berlandaskan ajaran Islam diharapkan mampu menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.
Wallahualam bissawab.
