Di tengah narasi global yang kerap menyebut situasi Gaza mulai membaik, realitas di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Hujan yang turun, reruntuhan yang tak terurus, serta blokade berkepanjangan memperparah penderitaan rakyat Gaza. Di saat dunia berbicara tentang gencatan senjata dan solusi diplomatik, warga sipil masih bergulat dengan kehilangan, pengungsian, dan ketidakpastian hidup. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) menyatakan bahwa hujan yang mengguyur Jalur Gaza semakin memperburuk kondisi yang sudah sangat mengkhawatirkan. Banyak keluarga terpaksa mencari perlindungan darurat, termasuk berlindung di tenda-tenda sementara.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Sabtu, UNRWA menegaskan bahwa bantuan berupa peralatan tempat tinggal sangat dibutuhkan di Gaza. “Kami sudah menyiapkannya. Karena itu, kami mendesak agar diberikan izin untuk menyalurkannya kepada warga,” ujar UNRWA. Sementara itu, Israel terus memblokir masuknya material perlindungan seperti tenda dan rumah mobil, sebuah tindakan yang dinilai mengingkari kewajibannya berdasarkan perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025.
Sejak Oktober 2023, Israel dilaporkan telah menewaskan lebih dari 69.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak serta melukai lebih dari 170.000 lainnya dalam serangan di Gaza. Wilayah tersebut juga mengalami kehancuran masif hingga banyak kawasan rata dengan tanah. Meski gencatan senjata diumumkan sejak 10 Oktober, serangan terhadap warga sipil Gaza dilaporkan masih terus terjadi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa gencatan senjata bukanlah solusi untuk mengakhiri penderitaan rakyat Gaza. Zionis Israel memperlihatkan sikap membangkang terhadap keputusan internasional, menolak perdamaian, dan berulang kali mengingkari janji. Namun, para penguasa dunia seakan menutup telinga terhadap realitas ini, tetap menggantungkan harapan pada PBB dan solusi semu seperti pembagian wilayah. Seolah-olah gencatan senjata dan solusi dua negara menjadi jawaban, padahal faktanya tidak membawa perubahan berarti.
Zionis Israel secara terang-terangan melakukan pengusiran terhadap rakyat Gaza. Masalah utama yang terjadi di Gaza adalah penjajahan, karena itu, solusi sejatinya adalah mengakhiri penjajahan tersebut. Sampai kapan dunia akan terus menyaksikan penderitaan di Gaza tanpa tindakan nyata?
*Penguasa yang Buta, Tuli, dan Membisu*
Para penguasa dunia, khususnya penguasa Muslim, masih tampak diam terhadap penderitaan rakyat Gaza. Bahkan, sebagian menormalisasi kerja sama dengan pemimpin Zionis. Penguasa Arab banyak yang berkiblat kepada Amerika Serikat, pihak yang kerap disebut sebagai dalang kerusakan bahkan memberikan dukungan melalui investasi. Sikap ini secara terang-terangan menunjukkan pengkhianatan terhadap kaum Muslimin, seakan rela menyaksikan saudara mereka dibantai secara brutal.
Umat pun seolah tak berdaya untuk menghentikan tragedi ini. Mereka terkungkung dalam ide nasionalisme yang memecah belah, sehingga umat Islam tercerai-berai. Inilah yang diharapkan oleh Amerika yakni perpecahan di antara kaum Muslim. Solusi yang ditawarkan pun bersifat utopis dan justru melanggengkan penjajahan.
*Islam sebagai Solusi Hakiki*
Sudah saatnya umat tidak lagi berharap pada PBB atau solusi dua negara yang terbukti tidak menyelesaikan masalah. Islam menawarkan solusi hakiki atas berbagai persoalan umat, baik di Gaza, Sudan, Suriah, Lebanon, Rohingya, Uyghur, maupun wilayah lain yang masih mengalami penjajahan, baik secara fisik maupun pemikiran. Penguasa Muslim seharusnya menyadari bahwa mereka membutuhkan Islam untuk mengakhiri penderitaan saudara-saudara mereka di Gaza. Gaza membutuhkan solusi yang tegas untuk mengakhiri penjajahan. Sejarah menunjukkan bahwa penjajah tidak mengenal perdamaian sejati, mereka hanya memahami kekuatan. Seperti yang dicontohkan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi dalam membebaskan Al-Aqsa dengan semangat jihad di bawah komando khalifah.
Tanpa adanya kepemimpinan yang mengomandoi, perjuangan tidak dapat berjalan secara efektif. Peran negara menjadi krusial sebagai pelindung umat. Negara berkewajiban menjaga rakyatnya, harta dan nyawa sebagaimana konsep negara yang berfungsi sebagai perisai bagi umat. Bagaimana hal ini dapat terwujud? Dengan menyadarkan umat bahwa Islam adalah solusi melalui dakwah pemikiran yang ideologis. Tidak lagi bergantung pada PBB atau solusi dua negara yang tak membuahkan hasil. Sudah saatnya umat bergerak.
Wallahu'alam biá¹£howab.
