Perusakan Alam Makin Menjadi Bencana Alam pun Terjadi

 



 

Oleh Sri Nurhayati, S.Pd.I

Praktisi Pendidikan

 

Banjir bandang dan tanah longsor menerjang sekitar 50 kabupaten/kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak pekan lalu. Ribuan rumah warga mengalami kerusakan parah akibat banjir dan longsor ini. (Cnn.Indonesia.com)

Bahkan Badan Nasional Penggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban yang terdampak setelah memperbaharui jumlah korban bandang sebanyak 780 orang dilaporkan meninggal dunia di 3 provinsi, sebanyak 564 orang masih dilaporkan hilang, korban terluka 2.600 orang. (news.detik.com)

Tragedi bencana alam yang menimpa tiga Provinsi di Sumatera ini meninggalkan duka bagi masyarakat negeri ini umumnya, khususnya bagi mereka yang mengalami bencana ini. Mereka kehilangan harta benda dan anggota keluarga terkasihnya.

Menurut Center of Economic and Law Studies (Celios) memperkirakan kerugian imbas banjir dan tanah longsor di tiga provinsi tersebut mencapai Rp. 68,67 triliun. (cnn.indonesia.com)

Bencana ini tak hanya menyisakan duka yang mendalam bagi para korban. Tapi peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Sebab, bencana ini membuka mata kita akan penyebab terjadinya bencana ini dengan melihat fakta bahwa telah adanya kerusakan alam yang begitu besar terjadi di sana.

Hal ini nampak setelah banjir terdapat ribuan kayu gelondongan yang hanyut terseret bersama kuatnya laju banjir. Ribuan kayu itu terjebak di tengah pemukiman warga, sungai, danau hingga bermuara ke pantai.

Oleh karena itu, ketika kita berbicara akan penyebab dari bencana yang terjadi tak hanya karena faktor alam atau sekadar ujian semata. Memang, terkait faktor alam misalnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan peristiwa ini dipicu oleh Siklon senyar, sebuah fenomena alam langka yang menyebabkan hujan ekstrim di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. (bbc.com)

Namun, perlu dipahami fenomena alam tersebut bukan satu-satunya penyebab banjir ekstrem ini. Sebab, bencana ini tak lepas dari adanya kerusakan alam akibat dari masifnya aktivitas industri ekstraktif mulai dari pertambangan, perkebunan, dan energi di berbagai tempat di Sumatera.

Artinya semua ini akibat dari keserakahan para pengusaha kapitalis yang terus menerus mengeruk kekayaan alam negeri ini demi memenuhi ketamakan mereka. Keserakahan dan ketamakan mereka makin menjadi dengan dukungan sistem dan para penguasa yang ada.

Penguasa yang memberikan keleluasaan bagi mereka dengan dibuatnya aturan dan kebijakan yang makin memudahkan para kapitalis mengeruk kekayaan alam, sehingga membawa pada kerusakan alam yang mengakibatkan terjadinya bencana ini.

Kebijakan ini seperti UU Minerba yang telah disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada bulan Februari 2025 lalu telah membawa pengalihan kewenangan perizinan dari pemerintah daerah ke pemerintah pusat. Sehingga, pengawasan masyarakat menurun dalam mengawasi aktivitas pertambangan atau pemanfaatan sumber alam yang ada.

Sebab, pengalihan kewenangan ini, pemerintah daerah tidak lagi memiliki kewenangan untuk menghentikan atau mencabut izin pertambangan, meskipun terdapat konflik dengan masyarakat atau adanya kerusakan lingkungan.

 

Kerusakan di Bumi Akibat Ulah Manusia

 ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْن

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."(Ar-Rum: 41)

Dalam surat Ar-Rum ayat 41 ini, Allah Swt. telah memberikan peringatan kepada kita bahwa kerusakan di bumi, baik darat atau laut adalah akibat dari tangan manusia. Terlebih sistem sekuler kapitalis yang saat ini menguasai tatanan kehidupan kita hanya memfokuskan pembangunan saja tanpa memperdulikan dampak bagi lingkungan.

Sebab, kerusakan alam yang terjadi bukan semata-mata individu-individu rakyat yang tak menjaga lingkungan, tetapi penerapan sistem kehidupan yang rusak yang ada di tengah kita. Sistem yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan materi sebanyak-banyaknya.

Mereka yang memiliki modal bisa dengan bebas mengeksploitasi sumber daya alam, seperti dengan membabat habis hutan dan dialih fungsikan menjadi lahan industri usaha mereka, seperti perkebunan sawit misalnya.

Eksploitasi yang penuh dengan keserakahan tanpa memikirkan dampak besar bagi lingkungan menjadi ciri khas sistem ini. Para pemilik modal dengan leluasa melakukan semua ini, karena mereka memiliki izin dari penguasa yang memang berkongkalikong untuk meraih keuntungan dari jabatan yang mereka tempati.

Sebab dalam sistem sekuler kapitalis, penguasa memang hanya menjadi katrol bagi pengusaha/pemilik modal untuk dapat memuluskan usaha mereka. Oleh karena itu, jika kita melihat sikap pemerintah yang cenderung abai dan kebijakannya setengah hati dalam menjaga lingkungan, karena hal itu hanya sekadar formalitas saja. Sebab, tugas utama mereka tetap melindungi kepentingan para pemilik modal.

 

Kerusakan Lingkungan Butuh Solusi Tuntas

 

Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini bukan hanya sekedar tidak atau kurang memahaminya dalam menjaga lingkungan, tetapi yang terjadi karena adanya keserakahan para pengusaha/pemilik modal. Apalagi abainya penguasa dalam menjalankan tugas mereka untuk melindungi dan mengayomi rakyat, termasuk dalam mengurusi masalah lingkungan.

Oleh karena itu, untuk menyelesaikan permasalahan ini tidak dapat hanya bersifat individual semata, tetapi haruslah sistemik. Barulah dapat menyelesaikan secara tuntas. Karena itu, dibutuhkan adanya sistem yang diterapkan oleh sebuah institusi yang mampu membuat kebijakan pengelolaan alam secara baik dan seimbang. Serta memberlakukan sistem sanksi yang tegas bagi mereka yang melakukan pelanggaran terhadap aturan tersebut.

Sistem ini dibangun atas ketundukan pada Sang Pencipta Alam dan seisinya, serta menjadikan aturanNya sebagai standar dalam kehidupan bukan materi dan keuntungan duniawi. Sistem ini tidak lain adalah sistem Islam.

Islam adalah ad-din yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan dirinya.

Sebagai aturan yang sempurna, Islam memiliki solusi untuk setiap permasalahan, termasuk masalah lingkungan. Islam memiliki pandangan bahwa manusia, kehidupan dan alam semesta diciptakan Allah Swt.. Allah menurunkan aturan (syariat) untuk mengatur bagaimana manusia memanfaatkan lingkungan untuk kesejahteraan dan kebaikan manusia.

Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita berbuat baik dan melarang berbuat kerusakan di muka bumi. Sebab, hubungan manusia dengan alam hubungan yang saling melengkapi. Manusia dilarang untuk melakukan kerusakan di dalamnya.

Pengingat akan hal ini terdapat dalam surat Ar-Rum ayat 41, Allah mengingatkan terkait sebab kerusakan alam adalah karena ulah manusia, sebab Allah telah mempercayakan kepada manusia untuk menjadi bumi.

Rasulullah saw. pun memerintahkan kita untuk menjaga dan memelihara lingkungan. Sebagaimana sabda beliau, "Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk berbuat baik terhadap segala sesuatu."  (HR Muslim)

Islam begitu rinci dalam mengatur dan menjaga kelestarian lingkungan. Penjagaan ini bukan hanya diperintahkan untuk individu saja. Tetapi semua pihak, rakyat dan negara. Dalam Islam negara memiliki peran yang penting, karena khalifah atau kepala negara memiliki tugas sebagai pemelihara dan pelindung yang akan menjaga penerapan aturan Islam ini secara menyeluruh.

Sebab, hanya sistem Islam yang memiliki keperdulian dalam menjaga kelestarian lingkungan, di antaranya dengan penetapan aturan terkait kepemilikan sumber daya alam yang merupakan milik umum hanya boleh dikelola negara untuk kepentingan rakyat, swasta/pemilik modal tidak boleh diserahkan dalam pengelolaan, apalagi memilikinya.

Selain itu, negara memiliki peran dalam mengembalikan fungsi ekologis dan hidrologis hutan, sungai dan danau. Sehingga pemanfaatan sumber daya alam tidak sampai merusak lingkungan. Tak hanya itu, negara juga melakukan rehabilitasi dan memelihara konversi lahan hutan agar fungsi hutan sebagai pengatur iklim global kembali berfungsi.

Begitulah Islam dalam mengatur agar kerusakan alam dapat dicegah dan dihindari serta diselesaikan dengan tuntas. Oleh karena itu, kita perlu dan harus menerapkan sistem yang mampu membawa pada kelestarian lingkungan untuk kepentingan manusia dan alam, yakni Islam.

Wallahualam bissawwab.

 

َ

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,78,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,2,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,3,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,9,Jakarta Selatan,1,KAI,151,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,1,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,195,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,178,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,537,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,3,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,1,Polda Sumbar,98,Polresta Padang,1,Polri,79,Pontianak,1,Puisi,19,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,3,Semarang,1,Sijunjung,1,Smartphone,2,Solok,1,Sulawesi Selatan,2,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,565,Tanah Datar,2,Tanggerang,1,Teknologi,3,Telkom,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,10,
ltr
item
Media Sumbar: Perusakan Alam Makin Menjadi Bencana Alam pun Terjadi
Perusakan Alam Makin Menjadi Bencana Alam pun Terjadi
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfYEfWEDPJCVvubESt5aCMCKRdR1MrMRyDCJuhEeWiw-ONR2AbgITsnO9zZp3li_EtNRiBWh5_6Y3C6czQ1J7wS2xVLYmACmSqAoZaf5PhXkWsAyiISHshhP0hj98zm-Z7f2zWzcogOd_p1PKkg2hlCi_YGS3ZVK_U0CYHiwwN8Fa2S0mzOJXKNNBvJvDF/w205-h220/TEH%20SRI.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfYEfWEDPJCVvubESt5aCMCKRdR1MrMRyDCJuhEeWiw-ONR2AbgITsnO9zZp3li_EtNRiBWh5_6Y3C6czQ1J7wS2xVLYmACmSqAoZaf5PhXkWsAyiISHshhP0hj98zm-Z7f2zWzcogOd_p1PKkg2hlCi_YGS3ZVK_U0CYHiwwN8Fa2S0mzOJXKNNBvJvDF/s72-w205-c-h220/TEH%20SRI.jpeg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2025/12/perusakan-alam-makin-menjadi-bencana.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2025/12/perusakan-alam-makin-menjadi-bencana.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content