![]() |
Oleh : Hawilawati, S.Pd (Muslimah Permata Umat) |
Digitalisasi merupakan produk kecerdasan manusia yang bersifat dua sisi. Ia dapat menghadirkan maslahat besar bila dikendalikan oleh nilai, namun berubah menjadi ancaman ketika dilepaskan dari arah yang benar. Karena itu, digitalisasi bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan persoalan arah peradaban dan tanggung jawab manusia.
Islam sejak awal telah menetapkan tujuan hidup manusia secara jelas. Manusia tidak diciptakan tanpa arah atau sekadar menjadi konsumen peradaban. Allah SWT menegaskan.
Sebagaimana firman Allah SWT :
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzāriyāt: 56).
Ibadah dalam Islam bukan hanya ritual personal, tetapi ketaatan total terhadap aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Karena itu, manusia juga diamanahi peran sebagai khalifah di bumi, sebuah tanggung jawab yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, sebagaimana ditegaskan Rasulullah SAW bahwa setiap manusia adalah pemimpin.
Realitas hari ini menunjukkan pengaruh digitalisasi justru bergerak destruktif terhadap generasi. Arus informasi tanpa nilai melahirkan virus pemikiran yang menggerus karakter dan melemahkan daya kritis.
Orientasi materialistik, individualisme, dan hedonisme menjelma penyakit kolektif, sementara kebahagiaan direduksi menjadi kepemilikan materi dan sensasi sesaat. Ironisnya, negara gagal menghadirkan perlindungan sistemik bagi generasi. Kebijakan lebih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik, sementara pembangunan akal dan karakter dipinggirkan. Padahal Islam mewajibkan adanya tanggung jawab kolektif untuk menjaga arah umat. Diam terhadap kerusakan berarti membiarkan generasi terseret arus tanpa penuntun.
Sebab itu, Allah SWT memerintahkan agar ada sekelompok manusia yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran :
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; (QS. Ali ‘Imran: 104).
Sejarah Islam menunjukkan bahwa kemajuan umat bergantung pada kualitas berpikirnya. Pemikiran yang lurus melahirkan kesadaran, dan kesadaran menjadi energi perubahan. Karena itu, Islam membina generasi melalui pemikiran ideologis yang mengaitkan fakta, akal, dan wahyu sebagai satu kesatuan. Tanpa proses berpikir ini, pendidikan hanya menjadi transfer ilmu kosong.
Kerusakan hari ini bukan semata kesalahan individu, melainkan buah dari sistem sekuler-kapitalistik yang memisahkan wahyu dari pengaturan kehidupan. Allah SWT mengingatkan bahwa keberkahan langit dan bumi hanya akan hadir jika masyarakat beriman dan bertakwa.
Pembangunan tanpa wahyu, meski dibungkus jargon kemajuan, hanya melahirkan kerusakan.
Karena itu, menyelamatkan generasi tidak cukup dengan pembinaan individual, tetapi membutuhkan pembinaan komunal berbasis ideologi Islam. Tidak ada jarak antara generasi tua dan muda. Keduanya memikul satu amanah yang sama: menegakkan peradaban yang tunduk kepada Allah dan bertanggung jawab atas masa depan umat.
Teladan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa perubahan dibangun dengan melibatkan lintas generasi, pemuda yang berani dan generasi matang yang bijaksana, semuanya disatukan oleh Islam sebagai asas perubahan menuju peradaban yang hakiki.
Wallāhu a‘lam bi ash-shawāb.
