![]() |
| Oleh Nurhidayah Humayrah Pegiat Literasi |
Baru-baru ini sebuah berita yang mengejutkan dan mengiris hati umat tentang masyarakat yang ada di daerah Sudan. Ada Sejumlah 1.500 warga Sudan meninggal dalam waktu tiga hari menyusul penguasaan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di el-Fasher. Angka ini menunjukkan eskalasi mengerikan perang saudara di Sudan. (republika.co.id, 31/10/2025).
Perlu kita ketahui bahwa Sudan adalah salah satu negara terbesar di Afrika dan berbatasan dengan tujuh negara, yaitu Afrika Tengah, Sudan Selatan, Chad, Mesir, Eritrea, Ethiopia, dan Libya. (republika.co.id, 01/11/2025).
Sudan Membara
Perang saudara antara dua faksi utama yang bersaing dalam pemerintahan militer Sudan, Angkatan Bersenjata Sudan di bawah pimpinan Abdel Fattah al-Burhan dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat dan sekutunya di bawah pemimpin Janjaweed Hemedti, dimulai pada tanggal 15 April 2023.
Kejadian perang yang sedang berlangsung antara Sudanese Armed Forces (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF) sejak 2023.
Perang tersebut menyebabkan jutaan orang mengungsi, kelaparan meningkat dan ambruknya fasilitas kesehatan, membuat krisis kemanusiaan tersebar luas di Sudan.
Krisis Sudan sebetulnya sudah berlangsung lama dan bukan murni konflik etnis tapi ada keterlibatan adidaya Amerika Serikat dan inggris yang melibatkan para boneka negara (Zionis dan UEA) terkait rebutan pengaruh politik (proyek timur Tengah baru Amerika Serikat) demi kepentingan perampokan Sumber Daya Alam yang melimpah ruah.
Perang Sudan makin memanas, RSF duduki El-fasher, warga sipil jadi korban. Dimanah engkau wahai para kaum arab dan kaum Muslim?. Kenapa dunia seakan bungkam, permasalahan Palestina, berlanjut di Sudan. Tidak menemukan titik penyelesaiannya.
PBB dan WHO membuktikan kekerasan dan kekejaman RSF termasuk ratusan pembunuhan pasien di rumah sakit dan tindakan kekerasan seksual kepada anak-anak dan perempuan.
Anak-anak Sudan yang kehilangan orang tuanya karena di bunuh dengan menangis dan tertatih mencari mereka.
Perang Sudan makin tak terkontrol, krisis kemanusiaan semakin memburuk. Tak memiliki rumah, hanya beralaskan kain menjadi atap, sudah Palestina kini giliran Sudan. Warga terancam kelaparan dan kekerasan. Tapi, bukan hanya ini konfliknya, sudah berlangsung lama konflik di Sudan.
Lebih dari 62.263 orang terpaksa mengungsi dari El fasir dan sekitarnya, lebih dari 2000 jiwa di laporkan meninggal, yaitu anak-anak, ibu dan keluarga.
Perbuatan warga Sudan yang keimanannya kuat, saat di tangkap pasukan bersenjata. Dia tidak takut pada manusia, tapi dia hanya takut kepada Allah. Dia mau menjadi mujahid, sama seperti orang-orang di luar sana, dia menyatakan untukmu agamamu dan untukku agamaku.
Lantunan surah Al-buruj, dari tenda pengungsian Sudan. Kondisi memprihatinkan di Sudan, tenda yang seharusnya tak layak pakai, ini adalah cerminan nyata kezaliman dari penderitaan mereka.
Terpaksa tetap di tempat pengungsian, di atas tanah dan dinginnya malam yang menghembus di tulang rusuk dan panas terik yang membakar tulang di siang hari. Sebagai konflik yang tak kunjung reda.
Kehancuran di mana-mana, seperti rumah, sekolah dan Masjid hancur sirna. Air mata dan doa menjadi bukti penderitaan saudara kita sesama muslim.
Kebahagiaan mereka saat mendapat daging qurban, kini tinggal kenangan, sekarang kebahagiaan itu berganti dengan kesedihan. Yang tak tahu sampai kapan akan berakhir.
Wahai saudara muslim, lihatlah kondisi Sudan, kelaparan telah menyelimuti mereka, tidak ada makanan, air dan obat-obatan.
Cermin Kezaliman Sistem
Sistem politik sekuler dilahirkan dari dunia barat, tidak menghendaki peran agama mencokol dalam kehidupan tersebut. Agama ini tidak memiliki sistem aturan untuk mengelola negara.
Tidak boleh berharap kepada kaum non muslim untuk solusi jangka panjang karena mereka punya beberapa cara untuk menggerakkan bonekanya demi meraih keuntungan.
Mereka memasukkan sistem demokrasi dengan alasan untuk mengelola sumber daya alam dengan mementingkan investasi. Menjajah politik, ekonomi dan sebagai berikut.
Sudan membutuhkan pertolongan dan perbuatan dari dunia internasional untuk menyelamatkan Sudan yang tidak bersalah.
Namun, Sudan tidak membutuhkan bantuan dari INH (International Networking For Humanitarian). Tapi, membutuhkan Khilafah.
Sudan hancur bukan karena perang, tapi karena dunia kehilangan satu hal yang seharusnya jadi pelindung umat yaitu Khilafah, sejak 2023 Sudan menjadi neraka.
Dua kekuatan militer yaitu SAF dan RSF berebut kekuasaan. Krisis Sudan bukan berasal dari internal, tapi hasil dari sistem kolonial barat. Sejak Khilafah runtuh 1924 H, Sudan di paksa hidup dalam ikatan nasionalisme dan sistem demokrasi.
Semua sistem warisan barat, tidak pernah menyelesaikan masalah Sudan. Sistem ini melahirkan perebutan kekuasaan bukan untuk menyatukan kaum muslim.
Islam tidak membiarkan umat berpecah belah, Rasulullah SAW bersabda,
Imam atau Khilafah itu perisai umat, berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.
Khilafah adalah sistem yang menyatukan Sudan, Mesir, turki, Indonesia, Palestina dan semua wilayah Indonesia di satukan dalam satu kepemimpinan. Bukan demi kursi kekuasaan, tapi untuk menjaga darah, kehormatan dan harta kaum muslimin.
Kalo hari ini Khilafah Islam tegak, tidak ada yang bisa menyentuh Sudan, krisis Sudan adalah bukti jelas, tanpa Khilafah umat lemah dan berpecah belah.
Saatnya bukan hanya empati, tetapi berjuang menegakkan persatuan umat sebagaimana perintah Allah.
Pertolongan Allah akan datang pada orang-orang yang ikhlas dalam berjuang, membangun kesadaran politik Islam. Wallahu a’lam bishshawab.
