![]() |
| Oleh : Nurlina ( Praktisi Pendidikan ) |
Gebrakan baru yang dilakukan pemerintah baru-baru ini adalah dengan diluncurkannya aturan terbaru, yakni dalam rangka bagaimana cara membentuk generasi yang bertakwa dan meningkatkan keimanan.
Dilansir dari Samarinda, melalui surat edaran bernomor :000.8.3/21748/Disdikbud-XI/2025, tentang salat subuh berjemaah yang dikeluarkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim. Seluruh pelajar SMA/K di Benua Etam wajib melaksanakan salat subuh di masjid dan lingkungan sekolah tiap jumat.
Sementara itu, salah satu orang tua siswa di SMK negeri Samarinda, yang mempunyai anak perempuan di sekolah tersebut mengaku takut jika anaknya harus turun sebelum subuh. Kondisi tersebut masih rawan dan bisa saja ada kejadian tidak diinginkan.
Ini berbanding terbalik dengan yang diharapkan oleh pemerintah yang mewajibkan tanpa melihat sisi keselamatan dan keamanan dari masing - masing individu. Di perparah lagi, bagi mereka yang tinggal jauh di pelosok dengan kondisi jalan yang mungkin tidak aman dilalui di waktu yang gelap.
Niat ingin menjadikan generasi yang beriman dan bertakwa, tapi justru akan menimbulkan masalah baru.
Lantas bagaimana Islam memandang kebijakan pemerintah dilihat dari sejarah penerapan Islam?
Hanya Sekadar Aturan
Sebenarnya kebijakan yang digagas oleh pemerintah sudah sangat baik. Tujuannya untuk menjadikan generasi ini menjadi sosok yang bertakwa. Namun, karena kegiatan ini berada di luar rumah dengan kondisi lingkungan yang tidak aman, juga waktunya yang tidak biasa, maka bukan tidak mungkin akan menimbulkan masalah baru bahkan bisa membuat para orang tua menjadi was- was apalagi bagi anak perempuan.
Program yang bertujuan membentuk takwa seharusnya mampu mendefinisikan makna takwa yang sebenarnya. Bahwa takwa sesungguhnya bukan takwa yang dinilai dari ibadah mahdhah saja seperti salat, zakat, puasa, dan haji. Ibadah ruhiyyah salat subuh berjemaah tidak cukup mengingkatkan takwa di kondisi saat ini. Kondisi kehidupan sekuler membentuk remaja memiliki dorongan beramal hanya karena manfaat bukan keimanan.
Sistem sekuler kapitalis sudah berhasil mengambil alih pemikiran generasi saat ini, nuansa berpikir spiritual pelan-pelan terkikis dari benak remaja muslim. Sebagian remaja yang melakukan salat khususnya karena disuruh oleh guru maupun orang tua.
Dampak dari pemikiran sistem sekuler kapitalis bagi sebagian keluarga muslim yang menjadikan Islam sebagai aturan kehidupan justru akan semakin sulit bertarung dengan sistem rusak ini. Sebab, sekuler kapitalis sudah merambah di semua lini kehidupan.
Sekuler kapitalis yang memisahkan agama dari kehidupan membuat remaja tumbuh jauh dari aturan Islam. Mereka bahkan tidak paham cara bersikap dan berperilaku sesuai aturan agama sendiri. Perilaku kebebasan yang kini diadopsi oleh generasi hanya memikirkan kesenangan duniawi semata.
Kegiatan keagamaan yang diadakan di sekolah juga hanya sekadarnya saja. Kajian-kajian ilmu agama yang mampu merubah cara berpikir mereka tidak didapatkan. Pengetahuan tentang Islam hanya sebatas ibadah mahdhah saja. Sesuatu yang jelas terlarang oleh agama menjadi kabur. Halal haram tidak dijadikan standar dalam melakukan suatu perbuatan.
Ini juga tidak lepas dari kurikulum pendidikan yang diterapkan. Pendidikan yang tidak berbasis aqidah Islam menjadi penyebab utama rusaknya para generasi sebagai agen perubahan.
Islam Solusi Hakiki
Jika kita berbicara tentang keimanan dan takwa maka yang harus dipahami bersama adalah makna dari iman dan takwa itu sendiri. Definisi takwa sesungguhnya adalah melindungi diri dari murka dan azab Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintah dan menjauhi seluruh larangan-Nya.
Apalagi dengan momen Maulid Nabi SAW wujud kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, tidak hanya melaksanakan salat berjemaah semata. Tapi bagaimana menjalani semua aspek kehidupan sesuai yang telah dicontohkan beliau SAW.
Dalam sistem Islam, generasi yang dihasilkan memilik karakter yang khas. Mereka adalah generasi pejuang dan penuntut ilmu yang memiliki pandangan bahwa panduan satu-satunya adalah Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW.
Untuk membentuk keimanan generasi, dibutuhkan penguatan aqidah dengan menjadikan Islam sebagai dasar pendidikan. Tsaqofah Islam yang menyeluruh yang diajarkan. Generasi tidak hanya diajarkan sebatas ilmu tentang ibadah mahdhah saja, tapi mengajarkan aturan Islam secara kaffah.
Dalam negara Islam, sistem pendidikan yang diterapkan berbasis aqidah Islam. Sehingga generasi yang dihasilkan adalah generasi yang bersyakhsiyyah Islam (berkepribadian Islam). Bukan hanya ahli di bidang agama tapi juga ahli dalam penguasaan sains dan teknologi.
Bisa kita lihat sejarah ketika Rasulullah SAW membina para pemuda, ada di antara sahabat Rasulullah SAW yang berusia 18 tahun bernama Usamah bin Zaid. Ia diangkat oleh beliau SAW sebagai komandan pasukan Islam dalam penyerbuan ke Syam. Abdullah bin Umar yang ketika itu berusia masih 13 tahun tetapi Islam telah memanasi jiwanya.
Begitu pula sejarah masa kesultanan Muhammad Al Fatih. Ia dikenal karena kekuatan dan disiplinnya terhadap agama Islam.
Sebaik-baik pasukan adalah pasukannya, yang tidak pernah melalaikan salat wajib dan sunah lainnya.
Begitulah kala aturan Islam diterapkan secara kaffah. Aturan yang sejatinya lahir dari Sang Pemilik Kehidupan yang sudah pasti tahu akan kelemahan dan kekurangan terhadap apa yang diciptakan.
Maka untuk bisa keluar dari semua problematika ini, saatnya kita meninggalkan aturan yang sudah terbukti merusak dan menghancurkan generasi dengan kembali kepada Islam.
Wallahu a'lam bish showab.
