![]() |
| Oleh: Rahmi Surainah, M.Pd, alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin |
Bupati Penajam Paser Utara (PPU) menegaskan pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak, terutama untuk mencegah stunting. Pesan itu ia sampaikan saat menjadi narasumber Talkshow Balikpapan TV bertema Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) dan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), yang disiarkan langsung dari Kantor Bupati PPU. Didampingi Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan KB (DP3AP2KB) PPU, Chairur Rozikin, Bupati mengupas tuntas bagaimana keluarga menjadi benteng utama dalam membentuk generasi sehat dan cerdas.
“Peran seorang ayah tidak berhenti pada mencari nafkah. Ayah juga harus hadir sebagai pendidik, pendamping, dan teladan bagi anak-anaknya. Inilah yang kita dorong melalui Gerakan Ayah Teladan,” ucap Mudyat. Ia menambahkan, program Genting dirancang untuk memperkuat kepedulian masyarakat dalam menekan angka stunting di PPU.
Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk cegah stunting termasuk lewat talk show yang melibatkan peran ayah. Padahal bagaimana ayah bisa berperan cegah stunting jika mencari pekerjaan saja sulit bahkan PHK terjadi di mana-mana termasuk PPU. Akibatnya jangankan memenuhi gizi anak, kebutuhan pokok sudah cukup. (Kaltimprokal.co, 11/9/2025)
Tanpa Negara Peran Ayah Payah
Pencegahan stunting biasanya melekat pada sang ibu. Dari mulai remaja dikasih penambah darah sampai hamil lanjut melahirkan dengan hadirnya buah hati, layanan kesehatan selalu hadir misalnya di Posyandu. Kini peran ayah pun diminta terlibat, tak sekedar mencari nafkah.
Talk show dengan menggalakkan GATI dan Genting sebenarnya tak menyentuh akar persoalan karena persolan stunting ini sistemik. Dibutuhkan support dari negara. Ayah dan keluarga tidak akan berjalan sempurna mencegah stunting jika tidak ada andil negara.
Stunting merupakan problem kesehatan namun terkait dengan sistem lain saling berkaitan, seperti ekonomi yang mana masyarakat tidak bisa memenuhi unsur hidup sehat akibat keterbatasan ekonomi. Selanjutnya bisa terkait sistem pendidikan yang minim sehingga ketidaktahuan terhadap pola hidup sehat. Sistem sosial yang acuh dan tidak peduli terhadap lingkungan seperti air, udara, dan alam yang bersih.
Belum lagi negara yang gagal melindungi makanan siap saji, sayur-sayuran, buah-buahan, minuman dan snack yang mengandung pengawet, pewarna, pemutih/ formalin, dsbnya. Semua itu tidak bisa lepas dari peran semua pihak terutama negara untuk melindungi warganya. Bukti terbaru saja MBG (Makanan Bergizi Gratis) yang dijanjikan sehat malah menimbulkan sakit alias keracunan.
Gaya hidup kapitalis sekulerisme telah mengubah pola hidup instan tidak peduli halal dan tayyibnya makanan. Tidak hanya itu demi meraih untung kadang rela mengorbankan kesehatan. Beban hidup yang sulit, termasuk psikologis, pikiran serta hati yang jauh dari ketenangan menambah beban hidup dan berbagai penyakit bermunculan.
Stunting persoalan sistemik perlu mengubah sistem kehidupan kapitalisme sekuler dengan sistem yang sempurna. Sistem yang mampu memenuhi kebutuhan warganya hingga sejahtera jauh dari derita. Jika ayah atau keluarga sudah tercukupi kebutuhannya maka pemenuhan gizi pun akan mudah didapat.
Islam Bebaskan Stunting
Firman Allah Swt:
“Dan hendaklah orang-orang yang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan lemah yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.” (TQS. An-Nisa’: 9)
Dalam Islam, anak-anak tidak hanya diperhatikan dalam hal fisik tetapi juga jiwa atau kepribadiannya. Jika fisik saja lemah bagaimana bisa menjalankan ibadah dan amanah kehidupan. Oleh karena itu, orang-orang yang takut kepada Allah pasti menyiapkan anak-anak yang kuat, baik sehat fisik maupun mentalnya.
Dalam Islam ada beberapa langkah sistemik yang harus dilalui agar kebutuhan masyarakat terpenuhi sehingga bisa terhindar dari stunting.
Pertama, negara akan memenuhi kebutuhan komunal masyarakat berupa pendidikan, kesehatan dan keamanan. Kedua, negara menjamin terpenuhi kebutuhan dasar individu berupa sandang, pangan, dan papan.
Ketiga, negara melakukan pengawasan dan pengontrolan berkala agar kebijakan negara seperti layanan kesehatan, akses pekerjaan, stabilitas harga pangan, hingga sistem pendidikan, serta penggunaan anggaran dapat berjalan secara amanah.
Ketika seluruh rakyat sudah terjamin kebutuhan pokoknya, akses pada pangan bergizi menjadi hal yang mudah. Tidak akan ada lagi kasus stunting yang diakibatkan oleh sistem. Islam dengan support sistemnya akan mampu turunkan stunting dengan dijaminnya kebutuhan hak dasar warga.
Selain itu, Islam menjamin suami/ ayah bekerja sehingga mampu mencukupi kebutuhan keluarganya. Dengan sistem pendidikan, ekonomi, politik, dan support sistem lainnya maka ibu akan dibekali ilmu dalam memenuhi kebutuhan gizi anaknya, kebersihan dan sanitasi lingkungan terjaga, air serta udara bersih, dsb. Wallahu a’lam...
