Oleh Nia Karmila
Aktivis Muslimah
Kabupaten Bandung- di Lapangan Upakarti, soreang, pada Minggu (17/8/2025) tampak dipenuhi lautan warga yang datang memeriahkan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Bendera Merah putih berkibar dan semangat Nasionalisme menyatu dengan sorak sorai masyarakat yang hadir.
Bupati Bandung menyampaikan pesan penting kepada masyarakat, beliau mengigatkan bahwa kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia 80 tahun yang lalu adalah hasil pengorbanan para pejuang.
Namun menurutnya, perjuangan tidak berhenti dimasa lalu. Di era sekarang masyarakat dihadapkan pasa tantangan baru yaitu arus Informasi dan digitalisasi yang tidak bisa dihindari. Dengan itu masyarakat harus bijak dalam memilah informasi, serta tidak terjebak pada hoaks yang bisa menyesatkan. (DetikJabar.com)
Indonesia dikatakan telah merdeka sejak tahun 1945. Namun, penjajahan sesungguhnya tidak benar-benar berakhir. Kemerdekaan seharusnya tampak pada kesejahteraan rakyat. Terpenuhinya kebutuhan dasar tiap-tiap rakyat dan sebagainya. Penjajahan ini merupakan keniscayaan, sebab penguasa negeri ini menerapkan sistem penjajah barat yakni Sistem sekuler Kapitaliseme. Sistem
Kehidupan yang sekuler membuat manusia memisahkan agama dari kehidupan, manusia tidak mengenal batasan syariat, mereka hanya mengenal kepuasan semata yang lahir dari sistem kapitalis. Dengan mengusung kebebasan, salah satunya kebebasan berpendapat yang memberikan hak kepada setiap manusia untuk mengajukan pendapat, berpartisipasi dalam menentukan kehidupan umum bagi umat dan lain lain.
Dalam era digital saat ini, dengan kemajuan teknologi yang ada, nyatanya telah membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan manusia, berbagai teknologi dan informasi pun berkembang pesat. Namun, kecanggihan teknologi dan pesatnya informasi saat ini tak jarang banyak disalahgunakan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Dan umat hari inipun banyak yang tidak sadar bahwa penjajahan lewat digitalisasi hari ini (penjajahan pemikiran) tak kalah berbahaya nya jika dibandingkan penjajahan secara fisik. Rasulullah telah mengajarkan kepada kita selaku umatnya agar tidak langsung menerima berita yang didapatkan secara mentah-mentah. Islam mengajarkan untuk selalu melakukan tabayyun yang artinya keharusan untuk melakukan verifikasi, dengan informasi yang didapatkan sebelum informasi tersebut disebarluaskan ke orang lain. Demikian sebagaimana ditegaskan dalam Al Qur'an Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesalai perbuatanmu itu." (QS. AL-Hujurat 49: 6)
Disamping itu peran negara seharusnya menjadi garda terdepan. Pada sistem kapitalis sekuler saat ini negara hanya berperan sebagai regulator sehingga tidak ada jaminan atas segala kebutuhan rakyat, termasuk kebutuhan atas literasi kesehatan masyarakat.
Makna kemerdekaan dalam islam adalah bebas dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah SWT, serta bebas dari segala belenggu hawa nafsu, kebodohan, dan penindasan, demi meraih kebebasan spiritual dan menjalankan tugas kekhalifahan di muka bumi. Dalam Islam, penguasa wajib memenuhi kebutuhan rakyat berupa sandang, pangan dan papan. Demikian halnya dengan kesehatah, pendidikan, keamanan dan transportasi dan lain sabagainya. Dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat, Tanggung jawab ini berjalan atas kesadaran bahwa penguasa adalah raa’in (pengurus) dalam sistem yang menerapkan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Hanya sistem Islam yang mau dan mampu memenuhi kebutuhan umat secara sempurna, bukan yang lain, sehingga akan mewujudkan kemerdekaan yang hakiki bagi seluruh dunia.
Wallahualam bissawab
