Gen Z di Tengah Persimpangan

 


Oleh. Vega Rahmatika Fahra, S.H


Menurut Pew Research Center, Gen Z merupakan generasi setelah Milenial yang umumnya dimulai dari mereka yang lahir pada 1997. Sementara itu, McKinsey & Company menggunakan rentang sekitar 1996–2010. Batas tahun ini memang bisa berbeda menurut sumber karena pembagian generasi tidak memiliki batas yang mutlak.


Yang menarik, Gen Z tumbuh di tengah pesatnya internet, gawai, dan media sosial. Dunia digital sudah menjadi bagian dari keseharian mereka, mulai dari belajar, bekerja, berbelanja, mencari hiburan, hingga berkomunikasi.


Namun, menjadi generasi yang dekat dengan teknologi ternyata bukan berarti hidup tanpa tantangan. Di balik banyaknya peluang, Gen Z juga menghadapi tekanan ekonomi, persaingan kerja, tuntutan gaya hidup, dan derasnya pengaruh media sosial.


Kondisi tersebut membuat Gen Z berada di tengah persimpangan. Mereka ingin maju, tetapi jalan menuju kehidupan yang mapan terasa semakin berat. Ingin menikmati hidup, tetapi kondisi keuangan menuntut kehati-hatian. Ingin mempersiapkan masa depan, tetapi kebutuhan hari ini saja terkadang sudah menguras penghasilan.

Lantas, bagaimana sebenarnya kondisi Gen Z hari ini?


Tekanan Finansial 

Tekanan ekonomi menjadi salah satu persoalan yang cukup berat bagi Gen Z. Mereka memasuki dunia kerja ketika biaya hidup, terutama kebutuhan tempat tinggal, terus menjadi perhatian. Di sisi lain, mereka tetap dituntut mandiri, memiliki tabungan, membangun karier, bahkan mempersiapkan masa depan.


Survei Deloitte Global 2026 menunjukkan bahwa 55 persen Gen Z menunda keputusan besar dalam hidup karena kondisi keuangan, seperti menikah, memulai keluarga atau usaha, dan melanjutkan pendidikan. Selain itu, 69 persen Gen Z mengatakan ketersediaan dan keterjangkauan tempat tinggal memengaruhi keputusan karier serta tempat mereka bekerja. Biaya hidup juga menjadi kekhawatiran utama Gen Z selama lima tahun berturut-turut. (Deloitte, 13 Mei 2026)


Tekanan tersebut membuat banyak anak muda harus berpikir berkali-kali sebelum mengambil keputusan. Ingin menikah, tetapi biaya hidup dipikirkan. Ingin membeli rumah, tetapi harga dan kemampuan mencicil menjadi pertimbangan. Ingin melanjutkan pendidikan, tetapi biaya juga harus diperhitungkan. Bahkan dalam memilih pekerjaan, gaji dan kestabilan finansial menjadi pertimbangan penting.


Jadi, persoalan Gen Z bukan sekadar “kurang pandai mengatur uang”. Mereka memang perlu belajar mengelola keuangan, tetapi pada saat yang sama mereka juga berhadapan dengan kondisi ekonomi yang membuat banyak rencana hidup harus ditunda.


Keinginan untuk Menikmati Hidup 


Di tengah tekanan ekonomi, Gen Z juga tetap ingin menikmati hidup. Setelah lelah bekerja, belajar, atau menghadapi berbagai masalah, muncul keinginan untuk memberikan penghargaan kepada diri sendiri. Istilah seperti self-reward dan healing pun semakin akrab. Bentuknya bisa sederhana, seperti membeli makanan favorit, nongkrong di kafe, berbelanja, jalan-jalan, atau melakukan aktivitas yang menyenangkan.


Sebenarnya, menikmati hidup dan beristirahat bukan sesuatu yang salah. Masalahnya muncul ketika self-reward menjadi pelarian setiap kali merasa lelah atau tertekan. Keinginan untuk “sekali-sekali memanjakan diri” bisa berubah menjadi kebiasaan konsumtif jika terus dilakukan tanpa melihat kemampuan finansial.


Apalagi, media sosial membuat tren healing dan self-reward semakin mudah menyebar. Melihat orang lain berlibur, membeli barang baru, atau menikmati gaya hidup tertentu bisa membuat seseorang merasa dirinya juga harus melakukan hal yang sama agar tidak ketinggalan.


Akhirnya muncul dilema: ingin menabung untuk masa depan, tetapi juga ingin menikmati hasil kerja hari ini. Kalau terlalu menahan diri, takut merasa tidak menikmati hidup. Kalau terlalu mengikuti keinginan, kondisi keuangan bisa semakin tertekan.


Di sinilah Gen Z perlu membedakan antara menikmati hidup dengan bijak dan menjadikan konsumsi sebagai pelarian dari tekanan hidup.



Media Sosial dan FOMO


Media sosial membuat persoalan semakin kompleks. Media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian Gen Z. Hanya dengan membuka ponsel, mereka bisa melihat teman yang sedang liburan, membeli barang baru, nongkrong di tempat yang sedang viral, atau menikmati gaya hidup yang terlihat menyenangkan.


Dari sinilah FOMO (Fear of Missing Out) dapat muncul, yaitu rasa takut ketinggalan tren, pengalaman, atau sesuatu yang sedang dilakukan orang lain. Akibatnya, muncul dorongan untuk ikut membeli, mencoba, atau melakukan hal yang sama agar tidak merasa tertinggal.


Misalnya, ketika suatu produk sedang viral, muncul keinginan untuk memilikinya meskipun sebenarnya tidak membutuhkan. Ketika tempat wisata ramai di media sosial, muncul dorongan untuk ikut datang. Begitu pula dengan tren makanan, pakaian, hingga gaya hidup.


Jika tidak dikendalikan, FOMO dapat membuat seseorang lebih mudah melakukan pembelian impulsif. Akhirnya, media sosial yang seharusnya menjadi tempat mencari informasi dan hiburan justru bisa membuat Gen Z terus merasa kurang, terus membandingkan diri, dan terus mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak selalu dibutuhkan.


Masalahnya, apa yang tampil di media sosial biasanya hanya bagian terbaik dari kehidupan seseorang. Kita melihat liburannya, tetapi tidak melihat cicilannya. Kita melihat barang barunya, tetapi tidak tahu kondisi keuangannya. Kita melihat kesuksesannya, tetapi tidak tahu perjuangan di baliknya.


Akhirnya, media sosial bukan lagi sekadar tempat berbagi informasi. Ia dapat berubah menjadi ruang yang terus membentuk keinginan.


Ketika Konsumsi Dijadikan Ukuran Kebahagiaan


Di tengah maraknya media sosial, kebahagiaan sering kali tanpa sadar dikaitkan dengan apa yang bisa dibeli dan dimiliki. Punya gawai terbaru, pakaian kekinian, makan di tempat yang sedang viral, atau bisa liburan ke tempat tertentu seolah menjadi tanda bahwa hidup sedang baik-baik saja.


Gen Z akhirnya mudah terjebak dalam pola pikir, “Kalau aku punya ini, pasti aku lebih bahagia.” Setelah barang terbeli, memang ada rasa senang. Namun, rasa itu biasanya tidak bertahan lama. Muncul lagi keinginan baru, lalu mengejar barang baru lagi.


Inilah yang membuat konsumsi tidak pernah benar-benar memiliki titik akhir. Selalu ada tren terbaru, produk terbaru, tempat baru, dan gaya hidup baru yang ditawarkan. Jika kebahagiaan terus diukur dari kemampuan membeli, seseorang akan sulit merasa cukup.


Padahal, menikmati hasil kerja tentu boleh. Membeli sesuatu yang disukai juga tidak otomatis salah. Yang perlu diperhatikan adalah ketika belanja menjadi cara utama untuk mengatasi stres, mencari pengakuan, atau membuktikan bahwa hidup kita tidak kalah dari orang lain.


Jika kondisi keuangan sedang tertekan tetapi keinginan untuk mengikuti gaya hidup terus dipaksakan, masalahnya justru semakin besar. Uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan dan masa depan habis demi kesenangan sesaat.


Akar Masalah Gen Z


Berbagai persoalan yang dialami Gen Z hari ini tidak muncul secara tiba-tiba. Tekanan ekonomi, sulitnya mencapai kemandirian finansial, keinginan untuk terus menikmati hidup, budaya self-reward, FOMO, hingga kebiasaan mengukur kebahagiaan dari apa yang dimiliki saling berkaitan.


Rangkaian persoalan tersebut merupakan konsekuensi dari sistem kapitalisme-sekuler yang menjadikan materi, kebebasan individu, dan kepentingan ekonomi sebagai bagian dominan dalam kehidupan.


Kapitalisme mendorong roda ekonomi melalui produksi dan konsumsi. Berbagai kebutuhan dan keinginan terus ditawarkan kepada masyarakat. Iklan tidak hanya menjual barang, tetapi juga menjual gambaran tentang kehidupan yang dianggap ideal. Akhirnya, seseorang tidak cukup hanya memiliki barang yang dibutuhkan. Ia juga terdorong memiliki barang yang sedang tren agar merasa tidak tertinggal.


Di sisi lain, sekularisme memisahkan agama dari pengaturan kehidupan. Akibatnya, standar keberhasilan dan kebahagiaan lebih mudah ditentukan oleh manusia dan lingkungan sosial. Ukurannya dapat berubah menjadi penghasilan tinggi, pekerjaan bergengsi, rumah, kendaraan, penampilan, popularitas, liburan, hingga kemampuan mengikuti gaya hidup.


Gen Z kemudian berada dalam posisi yang serba sulit. Mereka dituntut sukses dalam sistem ekonomi yang penuh persaingan, tetapi pada saat yang sama terus didorong untuk mengonsumsi agar roda ekonomi tetap berjalan.


Ketika penghasilan terbatas, tekanan semakin terasa. Ingin menabung untuk masa depan, tetapi kebutuhan terus meningkat. Ingin membeli rumah, tetapi harganya terasa berat. Ingin menikmati hasil kerja, tetapi kondisi keuangan menuntut berhemat. Sementara itu, media sosial setiap hari menghadirkan berbagai gaya hidup yang membuat seseorang merasa harus mengikuti.


Dari sinilah self-reward, healing, dan FOMO dapat menjadi bagian dari lingkaran tersebut. Saat lelah, konsumsi dijadikan pelarian. Setelah membeli, muncul rasa senang. Namun, kesenangan itu tidak bertahan lama. Ketika tren baru muncul, keinginan baru kembali terbentuk.


Akhirnya, manusia bekerja untuk mendapatkan uang, menggunakan uang untuk membeli kesenangan, lalu kembali bekerja karena uangnya berkurang. Siklus ini terus berulang.


Solusi Tuntas Permasalahan Gen-Z


Islam tidak hanya mengatur ibadah pribadi, tetapi juga memiliki aturan tentang ekonomi, pendidikan, pekerjaan, keluarga, media, dan kehidupan bermasyarakat. Karena itu, persoalan ekonomi dan krisis tujuan hidup tidak diselesaikan secara terpisah, melainkan melalui penerapan aturan Islam secara menyeluruh.


Jika akar persoalan Gen Z dilihat dari perspektif Islam, maka penyelesaiannya tidak cukup dengan mengubah kebiasaan individu. Tidak cukup hanya mengajak generasi muda berhemat, mengurangi belanja, atau membatasi penggunaan media sosial. Islam menawarkan solusi yang menyeluruh dengan cara: 


Pertama, membentuk generasi dengan akidah

Islam menyelesaikan persoalan dari sisi pola pikir. Generasi muda dibentuk dengan akidah Islam sehingga memahami bahwa tujuan hidup bukan sekadar mencari uang, mengejar popularitas, atau menikmati kesenangan.


Allah Swt. berfirman:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

(QS. Adz-Dzariyat: 56)


Ketika tujuan hidup sudah jelas, harta tidak lagi menjadi ukuran utama kebahagiaan. Gen Z tetap boleh bekerja, memiliki harta, berlibur, dan menikmati rezeki yang halal, tetapi semuanya ditempatkan sebagai sarana untuk mendapatkan rida Allah Swt.


Kedua, ekonomi yang layak


Negara memiliki tanggung jawab mengurus kebutuhan rakyat. Sumber daya alam yang termasuk kepemilikan umum dikelola untuk kemaslahatan masyarakat. Negara juga berkewajiban menciptakan kondisi yang memungkinkan masyarakat memperoleh pekerjaan dan memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak.


Dengan demikian, generasi muda tidak hanya diminta bertahan menghadapi tekanan ekonomi. Negara juga hadir untuk memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi dan kekayaan yang menjadi hak masyarakat tidak hanya dinikmati segelintir pihak.


Ketiga, mengendalikan budaya konsumtif


Islam juga mengajarkan keseimbangan dalam menikmati harta. Allah Swt. berfirman:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A'raf: 31)


Artinya, Islam tidak mengharamkan kenikmatan dunia, tetapi melarang sikap berlebihan dan pemborosan. Dengan pemahaman ini, self-reward tidak menjadi pelarian dari tekanan hidup dan konsumsi tidak dijadikan ukuran kebahagiaan.

Media pun diarahkan untuk memberikan informasi, pendidikan, dan kemanfaatan bagi masyarakat, bukan terus-menerus membentuk keinginan konsumtif atau menyebarkan konten yang merusak.


Keempat, membangun kehidupan berdasarkan Islam


Dalam sistem Islam, penerapan seluruh aturan tersebut membutuhkan negara yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh, yaitu Khilafah. Negara tidak hanya mengatur hukum, tetapi bertanggung jawab mengurus urusan rakyat berdasarkan syariat.


Dengan penerapan Islam secara menyeluruh, solusi terhadap persoalan Gen Z tidak berhenti pada perubahan perilaku individu. Sistem ekonomi, pendidikan, media, dan kehidupan sosial dibangun dengan landasan akidah Islam.


Gen Z akhirnya tidak hanya diarahkan untuk menjadi generasi yang mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan, tetapi menjadi generasi yang memiliki tujuan, memiliki ketakwaan, mampu memenuhi kebutuhan hidup, dan memiliki visi untuk membangun peradaban Islam.


Dengan demikian, solusi terhadap persoalan Gen Z bukan sekadar mengajarkan mereka cara bertahan dalam sistem yang ada, tetapi membangun kehidupan yang dalam Islam mampu memenuhi kebutuhan manusia sekaligus menjaga tujuan penciptaannya.


Khatimah

Gen Z menghadapi tekanan ekonomi, budaya konsumtif, FOMO, dan krisis tujuan hidup. Semua itu tidak cukup diselesaikan dengan nasihat agar lebih hemat atau mengurangi media sosial. Semua terjadi karena diterapkannya sistem kapitalisme. 


Dalam perspektif Islam, solusi harus menyentuh akar persoalan, yaitu membangun kehidupan berdasarkan akidah Islam. Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah Swt., bukan sekadar mengejar materi dan kesenangan.


Karena itu, Gen Z membutuhkan bukan hanya ekonomi yang lebih baik, tetapi juga arah hidup yang benar. Dengan penerapan Islam secara menyeluruh, generasi muda diharapkan menjadi generasi yang bertakwa, produktif, dan memiliki visi membangun peradaban Islam. Wallahu'alam bishowab [].

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,96,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,3,Daerah,2,Depok,1,Dharmasraya,43,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,12,Jakarta Selatan,1,KAI,251,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,5,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,214,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,207,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,797,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,7,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,2,Polda Sumbar,103,Polresta Padang,1,Polri,83,Pontianak,1,Puisi,20,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,4,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,4,Solok,5,Sulawesi Selatan,3,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,658,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,4,Telkom,1,Timezone,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,13,
ltr
item
Media Sumbar: Gen Z di Tengah Persimpangan
Gen Z di Tengah Persimpangan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimexZDHipSq80MpOE5oy3sgGsBtVSgiK8kGV8nxxj-LUUswlvQyH6zTqijxtNSzdTjICfcVq0jYE2YrM2gQt5Z9Rl6_zeKt4tQJhUdxrNJga6oCKeXiv8Sj6BgcDTmLjE_flfOM-s66lt0SK927Ti99wi-NiShcbM5mzjcJjpOL9Epf1pBIELD9221iGP0/s320/1001094396.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimexZDHipSq80MpOE5oy3sgGsBtVSgiK8kGV8nxxj-LUUswlvQyH6zTqijxtNSzdTjICfcVq0jYE2YrM2gQt5Z9Rl6_zeKt4tQJhUdxrNJga6oCKeXiv8Sj6BgcDTmLjE_flfOM-s66lt0SK927Ti99wi-NiShcbM5mzjcJjpOL9Epf1pBIELD9221iGP0/s72-c/1001094396.jpg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/08/gen-z-di-tengah-persimpangan.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/08/gen-z-di-tengah-persimpangan.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content