Oleh Firda
Aktivis Mahasiswa
Kondisi pendidikan saat ini menimbulkan keprihatinan tersendiri. Lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat lahirnya generasi berintegritas, justru masih diwarnai berbagai praktik kecurangan. Dalam pelaksanaan UTBK 2026, misalnya, kasus joki kembali terungkap. Dilansir dari Kompas.com, pelaku bahkan menggunakan identitas palsu serta memanipulasi data demi meloloskan peserta dalam seleksi masuk perguruan tinggi.
Fenomena ini tidak dapat dipandang sebagai pelanggaran semata. Lebih dari itu, hal ini menunjukkan adanya pergeseran nilai di kalangan pelajar. Prestasi tidak lagi sepenuhnya dimaknai sebagai hasil dari usaha yang jujur, melainkan sesuatu yang bisa dicapai dengan cara instan. Akibatnya, proses yang seharusnya menjadi bagian penting justru sering diabaikan.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan yang cukup mendasar dalam dunia pendidikan. Praktik joki tidak hanya berkaitan dengan individu, tetapi juga mencerminkan arah pendidikan yang perlu dibenahi. Oleh karena itu, peringatan Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi pertanda bagi semua pihak untuk segera melakukan pembenahan. Tanpa langkah yang serius, kecurangan seperti ini berpotensi terus berulang dan perlahan dianggap sebagai hal yang wajar.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Sudah sejauh mana pendidikan mampu membentuk manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter?
Realitas yang terlihat saat ini menunjukkan kecenderungan munculnya pola pikir pragmatis. Orientasi yang terlalu berfokus pada hasil membuat nilai kejujuran dan tanggung jawab semakin terpinggirkan. Tidak sedikit pelajar yang akhirnya lebih menitikberatkan pada capaian akhir dibandingkan proses yang benar.
Dalam Islam, pendidikan tidak hanya bertujuan untuk mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk kepribadian yang utuh. Kejujuran menjadi prinsip mendasar yang tidak dapat ditawar dalam kondisi apa pun.
Kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban seharusnya menjadi landasan dalam menuntut ilmu. Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya diukur dari hasil yang dicapai, tetapi juga dari cara mencapainya.
Selain itu, peran negara sangat penting dalam mengarahkan sistem pendidikan. Kurikulum, metode pembelajaran, serta sistem evaluasi perlu dirancang untuk membangun karakter, bukan sekadar mengejar capaian akademik.
Wallahu a’lam bish-shawab.
