Oleh Ummu Qimochagi
Aktivis Muslimah
Ada sesuatu yang sedang retak di jantung negeri yang selama ini mengklaim dirinya sebagai “penguasa dunia”. Amerika Serikat, yang kerap tampil sebagai polisi global, kini justru dihadapkan pada gelombang penolakan dari rakyatnya sendiri.
Pada 28 Maret 2026, jutaan warga turun ke jalan dalam aksi besar bertajuk “No Kings”. Demonstrasi ini meluas di berbagai negara bagian, menunjukkan bahwa kekecewaan rakyat tidak lagi bisa dibendung. Mereka mulai mempertanyakan arah kepemimpinan, bahkan meragukan sistem yang selama ini mereka banggakan. (cnnindonesia.com, 29/03/2026)
Di saat yang sama, kondisi ekonomi Amerika juga berada dalam tekanan serius. Utang nasionalnya menembus US$ 39 triliun. Angka ini menggambarkan betapa berat beban yang harus ditanggung negara tersebut, bahkan hingga setiap individu sejak lahir. (cnbcindonesia.com, 22/03/2026)
Dua fakta ini cukup menjadi cermin bahwa ada sesuatu yang salah. Sistem yang selama ini diagungkan ternyata tidak kokoh. Ia menyimpan cacat mendasar yang perlahan kini mulai terbuka. Namun, persoalan ini tidak berhenti pada krisis ekonomi atau gejolak politik semata. Akar masalahnya adalah sistem kehidupan yang dibangun di atas asas sekularisme, memisahkan agama dari kehidupan. Dalam sistem ini, manusia diberi kewenangan mutlak untuk menentukan hukum, tanpa merujuk pada wahyu Allah.
Padahal Allah Swt. telah mengingatkan dalam Al-Qur’an: "Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (TQS. Al-Ma’idah: 50)
Ayat ini menegaskan bahwa meninggalkan hukum Allah dan menggantinya dengan buatan manusia adalah bentuk penyimpangan. Dan hari ini, dampaknya nyata: ketidakadilan merajalela, konflik tak berkesudahan, serta kerusakan yang meluas di berbagai penjuru dunia.
Lebih menyedihkan lagi, sebagian negeri Muslim justru terjebak dalam pusaran sistem ini. Bahkan tidak sedikit penguasa yang menjalin hubungan erat dengan kekuatan besar dunia, meskipun jelas kebijakan tersebut merugikan umat Islam.
Padahal Rasulullah saw. telah mengingatkan: "Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa kepemimpinan dalam Islam adalah amanah, bukan alat untuk melayani kepentingan asing atau elit tertentu. Namun realitas hari ini justru menunjukkan sebaliknya. Karena itu, umat Islam tidak boleh terus berada dalam kondisi lalai. Kesadaran politik harus dibangun. Umat harus memahami bahwa problem yang terjadi bukan sekadar kesalahan individu pemimpin, tetapi akibat dari sistem yang rusak.
Islam menawarkan solusi yang berbeda secara mendasar. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam Islam, hukum bersumber dari wahyu, bukan dari kesepakatan manusia yang berubah-ubah.
Allah Swt. berfirman: "Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui." (TQS. Al-Jatsiyah: 18)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa hanya syariat Islam lah sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Untuk itulah, umat perlu diarahkan pada perjuangan yang lebih besar: menegakkan kembali sistem Islam dalam kehidupan. Bukan sekadar memperbaiki individu, tetapi menghadirkan tatanan yang mampu menjaga keadilan secara menyeluruh.
Khilafah sebagai institusi kepemimpinan dalam Islam memiliki peran strategis dalam menerapkan syariah secara kafah. Dengan penerapan hukum Allah secara menyeluruh, keadilan tidak lagi menjadi slogan, tetapi menjadi realitas yang dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Rasulullah saw. bersabda: "Kemudian akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian." (HR. Ahmad)
Hadis ini memberikan kabar gembira sekaligus arah perjuangan bagi umat Islam. Bahwa akan datang masa di mana sistem Islam kembali tegak, menggantikan sistem yang rusak. Tentu, jalan menuju ke sana membutuhkan kesungguhan. Dimulai dari membangun kesadaran, menyampaikan kebenaran, hingga mengajak umat untuk bersatu dalam perjuangan yang sama.
Apa yang terjadi di Amerika hari ini seharusnya menjadi pelajaran berharga. Bahwa sistem yang dibangun tanpa wahyu tidak akan pernah mampu memberikan keadilan sejati. Maka, sudah saatnya umat Islam mengambil peran. Bukan sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi agen perubahan. Mengembalikan Islam sebagai sistem kehidupan, dan menghadirkan kembali kepemimpinan yang mengatur dunia dengan hukum Allah.
Inilah jalan yang tidak hanya benar, tetapi juga satu-satunya jalan yang mampu menyelamatkan manusia dari kerusakan yang makin nyata.
Wallahualam bissawab
