DHARMASRAYA (Media Sumbar) – Wali Nagari Sinamar, Dedi Irawan, S.E., menegaskan pentingnya menjaga tradisi Manjalang Mamak sebagai bagian dari identitas dan kekuatan sosial masyarakat Minangkabau, khususnya di momen Hari Raya Idul Fitri.
Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Manjalang Mamak yang digelar masyarakat Nagari Sinamar, Kecamatan Asam Jujuhan, Kabupaten Dharmasraya, Minggu (22/03). Tradisi yang dilaksanakan setiap tahun ini menjadi ajang silaturahmi besar seluruh elemen masyarakat setelah menjalani ibadah Ramadan.
“Tradisi Manjalang Mamak ini merupakan warisan turun-temurun yang terus kita jaga. Biasanya dilaksanakan pada hari kedua atau ketiga setelah Idul Fitri, dan diikuti oleh seluruh masyarakat Sinamar,” ujar Dedi.
Ia menjelaskan, kegiatan diawali dengan prosesi turunnya mamak dari rumah gadang, dilanjutkan arakan menuju balai adat yang diiringi syair serta musik tradisional Minangkabau. Prosesi ini tidak hanya sarat nilai budaya, tetapi juga mengandung makna religius dan sosial yang kuat.
Menurutnya, pepatah Minangkabau “jauah cinto mancinto, dakek jalang manjalang” menjadi landasan utama dalam pelaksanaan tradisi ini. Nilai tersebut mencerminkan pentingnya menjaga hubungan kasih sayang meski berjauhan, serta mempererat silaturahmi saat bertemu.
Dalam kesempatan itu, Dedi juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat atas segala kekhilafan selama memimpin Nagari Sinamar.
“Tidak ada pemimpin yang tidak pernah salah. Dengan kerendahan hati, kami memohon maaf kepada seluruh masyarakat, baik atas kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia berharap momentum Idul Fitri dan tradisi Manjalang Mamak dapat menjadi ruang komunikasi terbuka antara pemerintah nagari dan masyarakat dalam membangun kebersamaan.
“Semoga kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi dan komunikasi langsung, sekaligus ruang diskusi untuk mempererat hubungan persaudaraan dalam membangun kemajuan Nagari Sinamar ke depan,” tambahnya.
Dedi juga menekankan bahwa di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, tradisi adat seperti Manjalang Mamak harus tetap dipertahankan sebagai kearifan lokal yang memperkuat jati diri masyarakat.
“Kita tidak boleh kehilangan identitas. Tradisi ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi pengikat nilai adat, agama, dan sosial dalam kehidupan bermasyarakat,” tutupnya.
Tradisi Manjalang Mamak di Nagari Sinamar pun kembali menjadi bukti bahwa sinergi antara pemerintah nagari dan masyarakat mampu menjaga warisan budaya tetap hidup, sekaligus memperkuat makna Idul Fitri sebagai momen saling memaafkan dan mempererat silaturahmi.
