Retorika Swasembada di Tengah Keran Impor

 


Oleh Amelia Ayu permatasari S. S. Psi

Aktivis Muslimah

 

Indonesia kembali menggaungkan capaian penting. Pemerintahan menyampaikan bahwa kini  telah berhasil dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Klaim swasembada beras disampaikan dengan penuh optimisme. Produktivitas meningkat, stok beras aman, dan Indonesia siap makin siap dalam memenuhi kebutuhan beras masyarakat. Akan tetapi di waktu yang bersamaan, justru pemerintah membuka keran impor beras. Pemerintah akan melakukan impor 1.000 ton beras klasifikasi khusus per tahun dari Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari perjanjian dagang resiprokal. Kontradiksi ini memunculkan pertanyaan besar di banyak Kalangan.

Jika klaim swasembada ini benar telah tercapai, mengapa justru pemerintah mengambil kebijakan impor beras? Tentu saja bukan tak hanya sekadar meningkatnya angka produksi, tapi juga menyangkut konsistensi arah kebijakan pangan nasional. Masyarakat tentu berharap klaim ini tak hanya retorika politik manis di ruang konfrensi pers, tetapi nyata dalam kemandirian pangan bangsa.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menyayangkan adanya perjanjian tersebut. Menurutnya, rencana impor 1.000 ton beras dari AS bisa mengganggu program swasembada beras. Padahal Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan sumber daya alam melimpah ruah. Jutaan petani menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Namun sayangnya, di negara bertanah subur ini justru mengalami ketergantungan pada impor beras. Bahkan ketika narasi keberhasilan swasembada sedang disampaikan kepada publik.

Penguasa mengeluarkan kebijakan impor beberapa produk pertanian termasuk beras merupakan  bagian dari  perjanjian dagang dengan AS. Dari hal ini saja telah membuktikan bahwa kedaulatan pangan Indonesia masih lemah. Beras dan bahan pokok adalah komoditas politik yang berpengaruh terhadap posisi politik suatu negara.

Pada faktanya  Indonesia diakui  FAO mengalami swasembada beras hanya di tahun 1984. Sedangkan pada era setelahnya hanya berakhir pada klaim tanpa realita nyata. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Apakah swasembada benar-benar telah terwujud, ataukah hanya sekadar klaim yang belum sepenuhnya sejalan dengan realitas kebijakan di lapangan?

Permasalahan kebijakan pangan sangatlah penting bagi suatu negara. Jika kebijakan yang diambil salah, maka akan berakibat fatal bagi rakyat. Akar masalah masalah pangan terlihat dari tata kelola produksi yang belum kuat. Banyaknya lahan pertanian yang mengalami alih fungsi lahan. Tak hanya karena akan mengurangi lahan produksi tapi juga berpengaruh pada kesuburan lahan tersebut. Hal ini mengakibatkan lahan tak bisa lagi digunakan bertani setelahnya. Petani saat ini dibebani biaya produksi pertanian yang terus meningkat. Mulai dari harga pupuk, benih hingga distribusi yang tak merata. Terkadang permainan tengkulak lebih banyak membawa kerugian besar pada petani. Infrastruktur dan teknologi pertanian belum merata menjadikan pertanian tidak bisa lebih optimal.

Impor sering dijadikan Solusi cepat ketika harga naik atau saat stok menipis. Kebijakan ini sering diambil tanpa mempertimbangkan momentum panen petani. Maka berakibat pada harga gabah di tingkat petani bisa tertekan. Hingga kini pemerintah belum mampu membentuk sistem yang mampu mengatasi fluktuasi produksi. Negara masih menggantungkan pada pasar global sebagai penyangga kebutuhan pangan.

Impor hanya akan melemahkan kedaulatan pangan nasional. Dalam situasi krisis global atau konflik geopolitik, negara produsen bisa membatasi ekspor. Bagaimana nasib Indonesia jika terus bergantung pada impor? Negara akan berada pada posisi rentan. Selain itu, kebijakan impor yang berulang dapat menurunkan kesejahteraan petani dan melemahkan regenerasi petani.

Swasembada pangan sejatinya bukan sekadar target produksi, tetapi fondasi penting bagi tegaknya kedaulatan sebuah bangsa. Negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan lebih mandiri dalam menentukan arah kebijakannya. Sebaliknya, ketergantungan pada impor pangan akan selalu menyisakan celah tekanan dari luar, terutama ketika pangan telah menjadi komoditas strategis dalam percaturan ekonomi global.

Dalam praktiknya, kebijakan ekonomi negara-negara besar seringkali tidak semata didorong oleh kepentingan perdagangan biasa. Berbagai perjanjian dagang, termasuk skema perdagangan resiprokal, kerap digunakan sebagai instrumen untuk memperluas pengaruh ekonomi dan menciptakan ketergantungan negara lain. Ketika sebuah negara mulai bergantung pada pasokan pangan dari luar, maka pada saat yang sama terbuka pula ruang bagi bentuk penjajahan ekonomi yang lebih halus namun berdampak jangka panjang.

Islam memandang persoalan ekonomi termasuk pangan sebagai bagian dari tanggung jawab negara dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat. Syariat Islam mengatur politik ekonomi agar setiap warga negara memperoleh jaminan kebutuhan dasarnya, termasuk pangan. Dalam kerangka ini, negara dituntut mengelola sumber daya yang dimilikinya secara mandiri serta menghindari ketergantungan pada negara kafir yang berpotensi melemahkan kedaulatan umat.

Karena itu, kedaulatan pangan yang sejati tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi atau statistik swasembada semata, tetapi juga oleh sistem yang mengaturnya. Ketika politik ekonomi Islam diterapkan secara menyeluruh ditopang oleh kebijakan dalam negeri yang berpihak pada pengelolaan sumber daya umat serta politik luar negeri yang menjaga kemandirian negara maka kedaulatan pangan bukan sekadar slogan, melainkan realitas yang benar-benar terwujud.

 

 

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,85,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,3,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,12,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,9,Jakarta Selatan,1,KAI,181,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,1,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,198,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,188,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,598,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,3,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,1,Polda Sumbar,102,Polresta Padang,1,Polri,81,Pontianak,1,Puisi,20,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,3,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,2,Solok,2,Sulawesi Selatan,2,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,616,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,3,Telkom,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,11,
ltr
item
Media Sumbar: Retorika Swasembada di Tengah Keran Impor
Retorika Swasembada di Tengah Keran Impor
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZSq3hmNsCsVmzRdM_2H9n3IT7GlnCwV32Z31olD0AWD4erZk2_AyA0FiAA8qSF8sgCMHW2DCDIDSCaRqy-FQed51sk_JuNZnkoHf-yVEPgiv1y116O5fszySFbzP5PShgjO0fgeZKK5c6TgaRxs9qw0dh9Nt4mSahBsciWsg3d7BcUin-A2W5xJnC6lG_/s320/WhatsApp%20Image%202026-03-08%20at%2010.41.02.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZSq3hmNsCsVmzRdM_2H9n3IT7GlnCwV32Z31olD0AWD4erZk2_AyA0FiAA8qSF8sgCMHW2DCDIDSCaRqy-FQed51sk_JuNZnkoHf-yVEPgiv1y116O5fszySFbzP5PShgjO0fgeZKK5c6TgaRxs9qw0dh9Nt4mSahBsciWsg3d7BcUin-A2W5xJnC6lG_/s72-c/WhatsApp%20Image%202026-03-08%20at%2010.41.02.jpeg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/03/retorika-swasembada-di-tengah-keran.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/03/retorika-swasembada-di-tengah-keran.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content