Padang, – Di awal milenium, saat arus modernisasi mulai menyapu pesisir Sumatra Barat, muncul kegelisahan kolektif di tengah masyarakat: akankah nilai-nilai tradisional Minangkabau bertahan di tengah perubahan zaman yang kian cepat? Di persimpangan itulah lahir sebuah gagasan visioner dari Wali Kota Padang periode 2004–2014, Fauzi Bahar. Alih-alih membangun monumen fisik, ia memilih membangun “monumen hidup” dalam jiwa generasi muda melalui kebijakan Pesantren Ramadhan.
Tahun 2004 menjadi tonggak sejarah dimulainya program Pesantren Ramadhan di Kota Padang. Kebijakan ini dinilai sebagai terobosan yang berani karena mendisrupsi pola pembelajaran formal. Selama bulan suci Ramadhan, seluruh aktivitas belajar siswa dipindahkan ke masjid dan mushalla. Bagi Fauzi Bahar, ruang kelas efektif untuk mentransfer pengetahuan, tetapi ruang ibadah adalah tempat yang lebih utuh untuk membentuk karakter.
Program ini dirancang bukan sekadar sebagai pengisi waktu, melainkan sebagai misi pembinaan moral generasi muda. Di bawah naungan masjid, para siswa dibimbing untuk memahami Al-Qur’an, memperkuat akhlakul karimah, serta menumbuhkan kesadaran sosial. Nilai-nilai tersebut diposisikan sebagai benteng moral dalam menghadapi tantangan remaja, seperti penyalahgunaan narkoba dan pergaulan bebas.
Landasan filosofis kebijakan ini bertumpu pada falsafah Minangkabau, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Melalui Pesantren Ramadhan, identitas kultural dan religius anak muda Padang diharapkan tetap terjaga. Program ini juga berfungsi sebagai “laboratorium sosial”, di mana empati diasah melalui kegiatan zakat dan infak, serta kebersamaan dibangun lintas latar belakang sosial.
Menariknya, kebijakan tersebut tidak bersifat eksklusif. Saat siswa Muslim mengikuti kegiatan di masjid, siswa non-Muslim difasilitasi untuk mengikuti penguatan iman sesuai keyakinan masing-masing. Pendekatan ini memperlihatkan upaya membangun wajah Kota Padang yang religius sekaligus inklusif—sebuah miniatur harmoni dalam keberagaman.
Warisan kebijakan ini terus berlanjut hingga kini. Di bawah kepemimpinan para wali kota penerus, termasuk inovasi yang dikembangkan oleh sosok seperti Fadly Amran, Pesantren Ramadhan mengalami transformasi. Program ini terintegrasi dengan pemanfaatan teknologi, penguatan literasi dan sains, hingga kegiatan sosial seperti bantuan seragam sekolah gratis. Pesantren Ramadhan pun bermetamorfosis menjadi institusi pendidikan non-formal yang dinanti setiap tahunnya oleh siswa dan orang tua.
Dua dekade setelah diluncurkan, Pesantren Ramadhan tidak lagi dipandang sebagai program musiman. Ia telah menjadi fondasi pembinaan karakter generasi muda di Kota Padang. Ribuan peserta yang tumbuh dari rahim masjid-masjid kota ini menjadi saksi bahwa pendidikan sejati tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga keteguhan moral.
Sebagaimana semangat yang kerap digaungkan Fauzi Bahar, pendidikan bukan semata-mata proses mengajar, melainkan upaya membangun benteng masa depan bangsa. Benteng itu, hingga hari ini, masih berdiri kokoh di sudut-sudut masjid Kota Padang.
