Oleh Alya Nur Amira Az-zahra
Aktivis Pelajar SMPIT Insantama Malang
Belakangan ini media sosial di hebohkan dengan kabar tentang seorang pelajar berumur 12 tahun membunuh ibu kandungnya karena akun game miliknya dihapus oleh sang ibu.
peristiwa ini sangat miris dan mengejutkan banyak orang. Bagaimana mungkin masalah yang terlihat sepele ini dapat berujung tindakan yang begitu tragis? Hal ini menunjukkan bahwa sebagian remaja, mengalami kesulitan untuk mengontrol emosi mereka sendiri.
Fase remaja adalah fase di mana mencari jati diri yang sering kali diiringi dengan ketidakstabilan emosi, ini yang membuat mereka bingung dengan perasaan mereka sendiri. Karena jika emosi tidak dikelola dengan baik, hal ini bisa memicu perilaku yang tak disangka. Tak hanya, ini juga bisa dipicu dengan kondisi lingkungan yang tidak mendukung, pengaruh media sosial, serta kurangnya komunikasi atau kasih sayang dari keluarga. Ini bisa memperburuk keadaan.
Oleh karena itu, peran keluarga sangat penting dalam mendampingi dan mengawasi remaja. Orang tua juga perlu membangun hubungan komunikasi yang baik dengan anak agar mereka terbuka dan merasa didengar dan dipahami. Dengan adanya perhatian dan bimbingan yang tepat, bisa membuat mereka belajar mengendalikan emosi dengan baik sehingga tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif.
Dari peristiwa tersebut, kita bisa melihat krisis emosi yang dialami oleh remaja bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Jika emosi tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat menimbulkan dampak yang serius. Oleh karena itu, baik remaja maupun orang tua mereka perlu lebih peduli lagi terhadap pentingnya mengendalikan emosi dan membangun komunikasi yang sehat dalam keluarga. Dengan saling memahami dan mendukung satu sama lain, diharapkan remaja bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih bijak dalam menghadapi masalah.
