Kekerasan Remaja dan Normalisasi Gaul Bebas

Nahmawati, S. IP
Oleh Nahmawati, S. IP
Pegiat Literasi

Kampus yang seharusnya menjadi ruang aman untuk menimba ilmu justru tercoreng oleh aksi kekerasan. Ketika seorang mahasiswi dibacok saat menunggu sidang proposal, publik tersentak, ada yang sedang tidak baik-baik saja dengan generasi muda kita.

Kekerasan kembali terjadi di lingkungan kampus. Seorang mahasiswi menjadi korban pembacokan oleh sesama mahasiswa di UIN Sultan Syarif Kasim Riau saat sedang menunggu sidang proposal. Pelaku menyerang menggunakan senjata tajam hingga korban mengalami luka berat di bagian kepala dan harus dilarikan ke rumah sakit.

Peristiwa berdarah itu terjadi pada Kamis pagi, 26 Februari 2026, saat korban hendak mengikuti ujian seminar proposal. Pelaku menyerang dengan kapak dan mengayunkannya beberapa kali hingga korban mengalami luka serius di bagian tangan dan kepala. (MetroTV, 26/02/2026). Peristiwa ini mengejutkan banyak pihak karena terjadi di ruang akademik yang seharusnya menjadi tempat aman bagi mahasiswa untuk belajar dan mengembangkan diri.

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa aksi penyerangan tersebut diduga dipicu oleh persoalan pribadi antara pelaku dan korban. Keduanya diketahui pernah saling mengenal ketika mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam satu kelompok. Dari perkenalan itulah hubungan keduanya mulai terjalin sebagaimana interaksi mahasiswa pada umumnya selama menjalani kegiatan pengabdian di masyarakat.

Namun, dugaan sementara menyebutkan bahwa pelaku menyimpan perasaan terhadap korban yang tidak berbalas. Penolakan yang diterima diduga menimbulkan kekecewaan dan rasa tidak terima dalam diri pelaku. Emosi yang tidak terkendali tersebut kemudian memicu tindakan nekat hingga berujung pada aksi kekerasan di lingkungan kampus, tempat yang seharusnya menjadi ruang aman bagi mahasiswa menjalani aktivitas akademik. (Kumparan News, 27/02/2026).

Kasus ini menambah daftar panjang kekerasan yang melibatkan generasi muda. Fenomena tersebut menunjukkan adanya persoalan serius dalam pembentukan karakter generasi. Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi tempat menanamkan nilai moral dan akhlak sering kali lebih menitikberatkan pada capaian akademik serta keterampilan teknis. Pendidikan cenderung menyiapkan generasi agar kompetitif di dunia kerja, tetapi kurang memberikan bekal pembinaan kepribadian yang kokoh.

Akibatnya, sebagian pemuda tumbuh tanpa landasan moral yang kuat dalam mengendalikan emosi dan menyelesaikan konflik. Ketika menghadapi persoalan pribadi, seperti penolakan dalam hubungan asmara, sebagian dari mereka tidak memiliki kedewasaan sikap untuk menerimanya. Emosi yang tidak terkendali akhirnya dapat mendorong tindakan impulsif yang merugikan orang lain.

Di sisi lain, arus liberalisme yang kuat di tengah masyarakat turut memengaruhi pola pergaulan generasi muda. Relasi antara laki-laki dan perempuan semakin bebas dan sering dipromosikan sebagai bagian dari gaya hidup modern. Pacaran tanpa batas, relasi emosional yang tidak jelas arah, hingga berbagai bentuk kedekatan yang melampaui norma agama perlahan dinormalisasi dalam kehidupan sosial.

Ketika pola relasi seperti ini dianggap wajar, konflik emosional juga semakin mudah terjadi. Kecemburuan, rasa memiliki yang berlebihan, ataupun kekecewaan akibat penolakan dapat memicu tekanan emosional yang besar. Tanpa kendali nilai moral yang kuat, konflik tersebut berpotensi berkembang menjadi tindakan kekerasan. Dalam kondisi tertentu, emosi yang memuncak bahkan dapat berujung pada tindakan tragis yang merenggut keselamatan orang lain.

Di sisi lain, orientasi pembangunan yang cenderung berlandaskan logika kapitalisme juga sering menempatkan generasi muda terutama sebagai sumber daya ekonomi. Generasi dipersiapkan untuk menjadi tenaga produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, perhatian terhadap pembinaan akhlak dan ketahanan mental generasi sering kali tidak menjadi prioritas utama. Padahal, tanpa fondasi moral yang kuat, generasi muda rentan terseret dalam berbagai perilaku menyimpang.

Karena itu, persoalan kekerasan remaja tidak cukup diselesaikan dengan pendekatan hukum semata. Dibutuhkan upaya pembinaan yang lebih mendasar dalam membentuk karakter generasi. Dalam pandangan Islam, sistem pendidikan dibangun di atas landasan akidah yang bertujuan membentuk kepribadian Islam. Pendidikan tidak hanya menekankan penguasaan ilmu, tetapi juga membangun pola pikir dan pola sikap yang selaras dengan nilai-nilai syariat.

Melalui pendidikan berbasis akidah, generasi dididik untuk memiliki kesadaran dalam menaati aturan halal dan haram serta memahami tanggung jawab moral dalam setiap tindakan. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak semata diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari terbentuknya akhlak mulia dan kemampuan mengendalikan diri.

Selain pendidikan, lingkungan masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga perilaku generasi. Budaya saling mengingatkan dalam kebaikan serta mencegah kemaksiatan perlu kembali ditegakkan dalam kehidupan sosial. Lingkungan yang peduli terhadap nilai moral akan menciptakan suasana yang kondusif bagi tumbuhnya generasi yang berakhlak sekaligus menjadi benteng dari berbagai perilaku menyimpang.

Negara pun memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Dalam sistem pemerintahan Islam atau Khilafah, negara menerapkan aturan yang bersumber dari syariat secara menyeluruh, termasuk dalam penegakan hukum. Sanksi yang tegas bertujuan memberikan efek jera sekaligus melindungi masyarakat dari berbagai tindakan yang merusak kehormatan dan keselamatan.

Kasus kekerasan yang melibatkan generasi muda semestinya menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan tindakan individu, tetapi juga dengan sistem yang membentuk pola pikir dan perilaku generasi. Ketika nilai-nilai moral semakin terpinggirkan sementara kebebasan tanpa batas dinormalisasi, potensi munculnya berbagai penyimpangan akan semakin besar. Karena itu, pembinaan generasi yang berlandaskan nilai-nilai Islam menjadi kebutuhan penting agar lahir pribadi-pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia serta mampu menjaga diri dari kekerasan dan berbagai perilaku menyimpang. Wallahualam bissawab

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,84,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,2,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,9,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,9,Jakarta Selatan,1,KAI,171,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,1,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,198,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,185,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,566,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,3,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,1,Polda Sumbar,102,Polresta Padang,1,Polri,80,Pontianak,1,Puisi,19,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,3,Semarang,1,Sijunjung,1,Smartphone,2,Solok,2,Sulawesi Selatan,2,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,600,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,3,Telkom,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,10,
ltr
item
Media Sumbar: Kekerasan Remaja dan Normalisasi Gaul Bebas
Kekerasan Remaja dan Normalisasi Gaul Bebas
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg_9UHfP2FA5K_C4b71nr4OPVpG3pjiWT1-iVNDDwAA-FaoV3qYuIRsmNVslRohrrZnVwhX7-4gBVz3Rf9_2XbzSMhWbEytvDfoeSil5FTJACNEDzFao053hTbAfWzsUPMdOtqopcQIS288RZ-rtW4d22ULD0lEQUdVXFlA_hyiHU6LVV7nP2DV81pCpX8V/w640-h640/1000553893.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg_9UHfP2FA5K_C4b71nr4OPVpG3pjiWT1-iVNDDwAA-FaoV3qYuIRsmNVslRohrrZnVwhX7-4gBVz3Rf9_2XbzSMhWbEytvDfoeSil5FTJACNEDzFao053hTbAfWzsUPMdOtqopcQIS288RZ-rtW4d22ULD0lEQUdVXFlA_hyiHU6LVV7nP2DV81pCpX8V/s72-w640-c-h640/1000553893.jpg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/03/kekerasan-remaja-dan-normalisasi-gaul.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/03/kekerasan-remaja-dan-normalisasi-gaul.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content