Oleh Sahna Salfini Husyairoh, S.T
Aktivis Muslimah
Di tengah kesucian bulan Ramadhan, luka mendalam kembali menyayat jantung dunia Islam. Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Zionis Israel yang bertajuk "Operation Lion’s Roar" dan "Operation Epic Fury" telah meluluhlantakkan Teheran dan Beirut. Ratusan nyawa tak berdosa, termasuk anak-anak sekolah dasar, gugur di bawah hujan rudal dan bom fosfor putih yang terlarang.
Tragedi ini bukan sekadar insiden militer, melainkan alarm keras bagi lebih dari dua miliar umat Muslim di seluruh dunia. Serangan brutal ini mengungkap tiga realitas pahit yang selama ini coba ditutupi oleh narasi diplomasi Barat yaitu:
1. Proteksi "Anak Tiri" Zionis: AS akan melakukan apa pun untuk menjaga dominasi Israel di Timur Tengah, termasuk menghancurkan negara mana pun yang dianggap mengusik keamanan sekutu terdekatnya itu.
2. Monopoli Nuklir: Di balik kampanye perdamaian dunia, AS sejatinya hanya ingin memastikan bahwa kekuatan nuklir hanya boleh dimiliki oleh mereka dan sekutunya. Data menunjukkan AS memiliki sekitar 3.700 unit rudal nuklir, sementara Israel diperkirakan menyimpan 90 hulu ledak. Standar ganda ini nyata: mereka boleh bersenjata, sementara negeri Muslim harus tetap lemah.
3. Politik Belah Bambu: Iran, yang secara historis sering terseret dalam orbit politik AS di Irak dan Suriah, kini justru menjadi sasaran ketika mencoba keluar dari kendali Washington. Ini membuktikan bahwa bagi penjajah, tidak ada kawan sejati; yang ada hanyalah kepentingan abadi.
Allah SWT telah memperingatkan dalam Al-Qur'an:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan kaum Yahudi dan Nasrani menjadi para pemimpin kalian... Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim." (TQS al-Maidah [5]: 51)
Mengapa dua miliar umat Islam seolah tak berdaya melihat genosida di Gaza yang kini meluas hingga Lebanon dan Iran? Jawabannya telah disampaikan Rasulullah saw. 1.400 tahun yang lalu. Beliau menyebut fenomena ini sebagai Al-Wahn yaitu Cinta dunia dan takut mati.
Kondisi kita saat ini persis seperti hidangan di atas meja yang diperebutkan oleh bangsa-bangsa pemangsa. Kita banyak secara jumlah, namun lemah secara pengaruh karena terpecah-belah dalam sekat-sekat nasionalisme yang sempit. Para penguasa negeri Muslim lebih takut kehilangan kursi jabatannya daripada kehilangan saudara seimannya.
PBB, perjanjian internasional, maupun Board of Peace (BoP) terbukti gagal total. Tidak ada perdamaian selama hukum internasional disusun untuk melayani kepentingan imperialis. Umat Islam harus sadar bahwa:
- Muslim adalah Satu Tubuh: Tidak boleh ada sekat yang menghalangi seorang Muslim membantu saudaranya yang dizalimi.
- Kekuatan Geopolitik: Jika umat bersatu, kendali atas Selat Hormuz, Terusan Suez, dan Selat Malaka akan menjadi posisi tawar yang tak tertandingi di mata dunia.
- Kebutuhan akan Khilafah: Persatuan ini mustahil terwujud tanpa institusi politik yang satu. Sebagaimana Khalifah Harun ar-Rasyid yang disegani Romawi, umat membutuhkan perisai (junnah) yang mampu mengonsolidasikan militer dan menjaga kehormatan Islam.
Wahai Kaum Muslim!
Sampai kapan kita akan terus menjadi penonton dalam penderitaan saudara sendiri? Tragedi di awal 2026 ini harus menjadi titik balik. Mari buang penyakit al-wahn, pererat ukhuwah, dan bergerak menuju tegaknya kembali kemuliaan Islam di bawah naungan kepemimpinan global yang sesuai dengan manhaj kenabian.
