Oleh Hasna Aqila Azzahro
Aktivis Pelajar SMPIT Insantama Malang
Sekarang, bukan cuma hal ghaib yang kita takuti, tapi justru manusia itu sendiri. Banyak orang berubah jadi sosok yang nggak lagi peduli sama penderitaan orang lain. Harusnya manusia punya rasa empati, tapi yang ada malah tega nyakitin orang lain tanpa mikir panjang. Ini bukan karena mereka nggak tahu itu salah, tapi karena rasa takut dan kontrol diri itu udah mulai hilang.
Kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus itu bukan sekadar berita kriminal yang lewat begitu saja, tapi ini adalah bukti nyata bahwa ketika manusia kehilangan arah hidup dan jauh dari agama, mereka bisa berubah jadi sosok yang tega, bahkan sampai menghancurkan hidup orang lain tanpa merasa bersalah. Ini bukan tindakan spotan yang ringan. Menyiram air keras itu pasti butuh niat. persiapan, dan nsadar bahwa akibatnya bakal sangat fatal. Dan disinilah letak krisisnya, hati manusia bisa jadi kejam smapai nggak peduli dengan penderitaan orang lain.
Rassul bersabda:
"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti." (HR. Bukhari & Muslim)
Tapi realitanya? Banyak orang yang bukan cuma membiarkan kezaliman, tapi justru jadi pelakunya. Ini nunjukin ada yang salah dari cara manusia dibentuk hari ini, cara berpikirnya, cara dia memandang hidup, dan apa yang ditakuti.
Masalahnya bukan cuma di pelaku. Ini lebih dalam dari itu. Kita hidup di lingkungan yang seringkali cuma fokus ke materi, emosi, dan kepentingan pribadi. Nilai halal-haram mulai kabur, rasa takut dosa makin tipis, dan akhirnya kontrol diri hilang. Ketika amarah, dendam, atau sakit hati datang, nggak ada lagi rem yang nahan. Hasilnya? Kekerasan brutal kayak gini. Lebih parah lagi, banyak hukuman yang belum memberikan efek jera yang kuat. Akibatnya, kejahatan kejam masih berulang. Padahal dalam Islam, ada konsep keadilan yang tegas dan melindungi korban. Allah berfirman:
"Dan dalam qishash itu ada kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal." (QS. Al-Baqarah: 179)
Artinya, hukuman yang tegas itu bukan kejam, justru jadi pelindung kehidupan. Orang jadi mikir ribuan kali sebelum berbuat jahat karena tahu konsekuensinya nyata dan setimpal.
Kalau kita lihat lebih dalam, kasus ini adalah tanda krisis besar, krisis iman, krisis moral, dan krisis sistem. Bukan cuma individu yang rusak, tapi juga lingkungan yang gagal membentuk manusia yang takut kepada Allah dan menghargai sesama. Di sinilah pentingnya solusi yang bukan setengah-setengah. Salah satunya adalah dengan menerapkan kehidupan Islam secara kaffah, bukan cuma di ibadah pribadi, tapi juga dalam cara berpikir, bersikap, dan dalam sistem yang mengatur kehidupan. Ketika aturan Allah dijadikan pedoman secara menyeluruh, manusia bukan cuma takut hukum, tapi juga takut dosa. Ada kontrol dari dalam diri dan juga dari lingkungan, sehingga kejahatan seperti ini bisa dicegah sejak awal, bukan cuma dihukum setelah terjadi.
Kejahatan kayak gini nggak akan berhenti kalau manusia terus hidup tanpa aturan yang jelas dari Allah. Bukan cuma butuh hukum, tapi juga butuh hati yang hidup, hati yang takut dosa dan peduli sama orang lain. Intinya, ini bukan sekadar kasus. Ini alarm keras bahwa ada yang sedang tidak baik-baik saja dengan manusia hari ini. Dan kalau nggak ada perubahan, bukan nggak mungkin kejadian seperti ini akan terus terulang, bahkan mungkin lebih parah.
.jpeg)