![]() |
| Oleh : Ranti Hartati Ibu Rumah Tangga |
Kisah pilu terjadi kepada seorang anak berinisial YRB usia 10 tahun kelas 4 SD di kabupaten Ngada NTT. Sepucuk surat menjadi saksi anak sekecil itu nekat mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pena. Diketahui peristiwa ini terjadi pada kamis 29 Januari 2026 di sebuah pohon cengkih. korban ditemukan tergantung oleh neneknya yang hendak mengikat kerbau di pohon.
Setelah diselidiki lebih mendalam kondisi kehidupan anak tersebut memang dalam kondisi sangat sulit dengan ekonomi keluarga yang memperihatinkan. Serba kekurangan untuk msncukupi kebutuhan sehari hari dan untuk membeli keperluan sekolah. Sehingga korban merasa selalu merepotkan orangtuanya dan solusi yang korban ambil yaitu dengan mengakhiri hidupnya supaya tidak merepotkan orangtuanya lagi.
Kasus ini mendapat respon dari KPAI yang menyatakan bahwa kasus ini akan dilakukan bersama lintas kementerian komisioner KPAI. Bahwa anak harus mendapatkan hak pendidikan yang cukup dan menjadi hal yang harus dipenuhi. Selain itu faktor lain nya seperti pola pengasuhan juga menjadi poin penting dalam hai ini karena anak sangat perlu pendampingan dari orang tuanya. Di sisi lain, KPAI mengungkap bahwa anak mengakhiri hidup dengan mayoritas alasan perundungan, pengasuhan, ekonomi, gim online, dan asmara. Oleh karenanya, kasus seperti ini harus diusut secara menyeluruh agar anak tidak mendapat stigma yang negatif.
Sungguh miris melihat tersebut, kasus ini menjadi bukti bahwa hak seluruh anak untuk sekolah gratis tidak dijamin oleh negara secara menyeluruh. Bahkan beban biaya sekolah tidak bisa terpenuhi oleh keluarga miskin, disini terlihat Negara lalai memelihara kebutuhan dasar rakyat miskin seperti pangan, pendidikan, kesehatan dan keamanan rakyat. Ini terjadi karena sistem pendidikan kapitalis yang diterapkan di negeri kita ini.
Padahal sejatinya hak setiap anak atas pendidikan nya itu tanggung jawab Negara. Dengan menjamin dan menyediakan pendidikan yang berkualitas sesuai standar terbaik bagi setiap anak secara gratis tidak membebankan biaya apapun kepada orangtua, karena pada dasarnya ini adalah jaminan dari Negara kepada rakyat.
Sebagaimana Islam mengatur perlindungan dan keamanan anak dalam keluarga maupun dalam lingkungan sosial, dimulai dari pengasuhan yang mana setiap orangtua dijamin kesejahteraan nya seperti mudahnya lapangan pekerjaan untuk setiap ayah sehingga bisa memberi nafkah yang halal kepada keluarganya lalu peran ibu yang fokus menjadi madrasah terbaik untuk anak anaknya sehingga terpenuhi hak dasar anak tentang pengasuhan terbaik dari orangtunya, lalu pendidikan yang berstandar terbaik dalam mendidik kepribadian anak menjadi anak yang bertakwa, cerdas dan memiliki kemampuan tertentu sesuai dengan bakat dan minat anak, sehingga terciptalah generasi emas yang tak hanya berprestasi dalam bakatnya namun tetap di bina mengenai keimanan kepada Allah swt. Dan hal penting lain nya mengenai kontrol sosial karena ini bisa menunjang hal hal baik ataupun hal hal buruk yang bisa terjadi kepada anak, contoh banyaknya intimidasi kepada anak, bullying dan kekerasan fisik maupun verbal yang sering terjadi dilingkungan sosial dan itu mempengaruhi terhadap tumbuh kembang anak. Apabila suasana sosialnya baik tentu akan memberikan dampak yang baik juga untuk tumbuh kembang anak tetapi sebaliknya jika suasana sosialnya buruk akan berdampak buruk juga untuk tumbuh kembang anak. Dan ini bisa dikontrol dengan sistem yang baik, dimana kesejahteraan dipenuhi negara, yang melakukan tindakan salah seperti intimidasi, bullying dan kekerasan verbal lainnya bisa di sanksi sesuai kesalahan yang diperbuatnya. Dengan cara seperti ini kontrol sosial untuk hal hal buruk bisa teratasi sedikit demi sedikit.
Dengan kasus anak yang berani gantung diri ini membuktikan bahwa sistem kapitalis yang terjadi sekarang ini gagal dalam memberikan pendidikan yang terbaik bagi setiap anak, bukan sekali dua kali kasus kasus mengerikan menimpa kepada anak anak di dunia pendidikan. Ini terjadi karena kebijakan yang tidak tepat dan pengelolaan dana yang salah. Lain halnya dengan Islam seluruh pembiayaan pendidikan melalui mekanisme baitul mal atau kas negara yang terdapat dari pengelolaan sumber daya alam yang ada di negeri yang kaya seperti negara kita ini sehingga dana untuk alokasi pendidikan akan selalu ada dan anak anak tidak akan kekurangan apapun untuk kebutuhan dan keperluan sekolah sehingga terjadilah suasana damai dan tenang dalam proses belajar mengajar karena setiap kebutuhan nya terpenuhi dengan baik oleh Negara.
Waalahu allam bii shawab.
