![]() |
| Oleh: Nadia Ulfah Muslimah Peduli Umat |
Tanggal 15 Januari 2026 lalu, telah dibentuk suatu organisasi Board Of Peace yang diusung oleh Presiden Amerika, beberapa negara dengan mayoritas penduduk Islam ikut tergabung dalam organisasi tersebut termasuk Indonesia juga. Tugasnya BOP adalah mengawasi pengakhiran permanen perang di Gaza, tapi nyatanya Sabtu 31 Januari 2026 terjadi penyerangan yang dilancarkan oleh Israel ke Kamp Pengungsi Ghaith, serangan ini menyebabkan puluhan warga Palestina syahid.
Sebagai anggota BOP tidaklah gratis, Presidan AS menyatakan setiap anggotanya wajib membayar iuran sebesar 1 Miliar dolar AS atau setara dengan 17 Triliun rupiah, dengan anggaran sebesar itu, dimana Indonesia masih menggeser alokasi APBN untuk program MBG nya harus melakukan iuran wajib, yang hasilnya juga masih nihil, warga Palestina masih dibombardir oleh Israel.
Amerika Serikat sudah menyiapkan pembangunan New Gaza, saat pembentukan BOP pemerintah AS mempresentasikan New Gaza, pembangunan besar-besaran di tanah rata yang sudah menjadi area perang, bahkan peta yang ditampilkan termasuk pengembangan kawasan perumahan pertanian dan industri baru secara bertahap dengan menargetkan populasi sekitar 2,1 juta orang.
Jika dipikirkan secara logika, ini bukan organisasi untuk menghentikan genosida, tapi proyek lanjutan dari genosida masal, yaitu mengambil alih wilayah yang sudah rata, dibangun ulang dengan dasar ekonomi, bukan penghentian perang yang berdasar dari kemanusiaan. Semua hanya dilihat dari aspek bisnis, dengan adanya New Gaza jelas sekali tujuan perang ini hanya untuk mengambil alih wilayah, dengan dalih memberantas teroris yang ada di Gaza.
BOP sendiri merangkul beberapa negara muslim terutama negara-negara di Timur Tengah demi memperkuat kendali politik internasional. Sejatinya, tanah ini adalah milik warga Palestina, mengapa AS yang merencanakan pembangunan New Gaza, bahkan setelah semua yang dilakukan AS untuk membantu Israel, sama sekali tidak akan ada tujuan untuk memerdekakan Palestina. Ini merupakan skema penjajahan terbaru, tidak secara agresi militer, tapi dengan mengendalikan negara-negara yang selalu bersuara untuk Palestina, sehingga suara Palestina tidak lagi terdengar, dengan terbentuknya New Gaza jelas akan menjadi tanda penghapusan jejak genosida di tanah Gaza.
Majelis Ulama Indonesia meminta Indonesia untuk mundur dari BOP, dimana dalam keanggotaan BOP ada negara penjajah yaitu Israel, bahkan sebagai korban yaitu negara Palestina tidak tergabung dalam keanggotaan BOP. Ini merupakan bentuk model manajemen konflik dan stabilitas kawasan bukan berdasar keadilan dan kemerdekaan.
Jika semua penguasa negara-negara Islam bersatu, tidak diperlukannya suatu organisasi seperti BOP karena akan berdasar keadilan dan kemanusiaan yang mutlak, bukan suatu perdamaiaan yang semu. Tegaknya khilafah dan jihad untuk membebaskan Palestina seharusnya menjadi prioritas perjuangan umat bersama partai politik Islam ideologis.
Tidak ada yang lebih kuat dari bersatunya umat Islam dalam membela hak hak dari warga Palestina, bahkan hukumnya wajib bagi sesama muslim untuk membantu saudaranya yang tertindas. Dengan tegaknya khilafah satu komando akan diikuti oleh semua umat muslim, pembelaan terhadap warga Palestina akan nyata dan masif, tidak hanya sekadar formalitas belaka.
Wallahualam bissawab.
