![]() |
| Kakanda Andarizal (Ketum DPP-KJI) |
Padang – Organisasi pers Kolaborasi Jurnalistik Indonesia (KJI) terus memperluas kiprahnya ke berbagai daerah di Indonesia dengan mengusung nilai-nilai integritas dan keberanian intelektual yang diwariskan tokoh pers legendaris, Adinegoro. Langkah terbaru ditandai dengan pelantikan pengurus KJI Sulawesi Selatan yang digelar pada 14 Februari 2026.
Pemilihan tanggal yang bertepatan dengan Hari Kasih Sayang dimaknai sebagai simbol komitmen untuk menumbuhkan semangat kolaborasi, solidaritas, dan etika jurnalistik di tengah tantangan dunia pers yang kian kompleks. Momentum ini sekaligus menjadi pernyataan sikap bahwa KJI bertekad menghidupkan kembali nilai-nilai pers berintegritas dari pesisir timur Nusantara, khususnya Makassar, menuju cakupan nasional.
Ketua Umum KJI, Andarizal, menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya tidak hanya dibangun sebagai wadah berhimpun para jurnalis, tetapi sebagai ruang pewarisan nilai. Menurutnya, semangat merantau yang dahulu dilakukan Adinegoro melalui tulisan dan pemikiran kritis kini diterjemahkan KJI dalam bentuk ekspansi organisasi dari Sumatera Barat ke berbagai provinsi di Indonesia.
Langkah awal ekspansi ini dimulai di Sulawesi Selatan di bawah kepemimpinan Edi Basri. Dalam waktu relatif singkat, yakni sekitar dua bulan, kepengurusan KJI Sulsel berhasil dikukuhkan secara resmi. Capaian tersebut dinilai menjadi bukti bahwa konsolidasi organisasi pers dapat dilakukan secara cepat tanpa mengabaikan prinsip profesionalisme.
Pada tahun kedua keberadaannya, KJI menempatkan isu martabat dan kredibilitas pers sebagai agenda utama. Di tengah derasnya arus informasi digital dan tantangan disinformasi, KJI menilai organisasi wartawan harus kembali meneguhkan harkat, harga diri, serta etika jurnalistik yang tidak dapat dikompromikan.
Keberhasilan pembentukan KJI Sulawesi Selatan menjadi pijakan awal bagi ekspansi ke wilayah lain. Setelah Sulsel, KJI menjadwalkan pembentukan kepengurusan di Medan, disusul Jawa Barat, Bali, dan sejumlah provinsi lain yang telah menyatakan kesiapan. Hal ini mencerminkan adanya kerinduan kolektif dari para jurnalis daerah untuk kembali pada nilai-nilai dasar pers yang berwibawa namun tetap adaptif terhadap perkembangan zaman.
Pelantikan pengurus KJI Sulawesi Selatan menjadi penanda bahwa kolaborasi jurnalistik tidak boleh tercerabut dari akar sejarahnya. Jika Adinegoro menjadi fondasi intelektu adal pers Indonesia, maka KJI menempatkan diri sebagai bangunan yang berupaya menjaga relevansi nilai-nilai tersebut di era digital.
Ke depan, tanggung jawab besar berada di tangan para pengurus yang baru dilantik. Nama besar Adinegoro diharapkan tidak hanya menjadi simbol, melainkan benar-benar menjadi ruh dalam setiap kerja jurnalistik yang dijalankan KJI. Dari Sulawesi Selatan, fajar kebangkitan nilai pers beretika diharapkan terus menyinari perjalanan jurnalistik Indonesia.
