Oleh Endah Dwianti SE, M, ak
Pengusaha
Dunia hari ini menyaksikan sebuah ironi yang memuakkan. Di meja-meja perundingan internasional yang steril dan ber-AC, kata "gencatan senjata" dan "rencana perdamaian" (BoP) didengungkan sebagai solusi pamungkas bagi krisis di Gaza. Namun, di lapangan, narasi-narasi tersebut tak lebih dari sekadar tabir asap bagi agresi yang terus berlanjut. Apa yang disuguhkan oleh Amerika Serikat dan Israel bukan lagi upaya diplomatik yang tulus, melainkan sebuah sandiwara geopolitik untuk melanggengkan penjajahan di tanah Palestina.
Fakta di Balik Retorika
Catatan di lapangan menunjukkan pola yang konsisten: perjanjian dibuat untuk dilanggar. Mari kita bedah data faktual yang terjadi di awal Februari 2026 ini. Ketika dunia berharap pada jeda kemanusiaan, kenyataan pahit justru menghantam warga sipil.
Pada 5 Februari 2026, sebagaimana dilaporkan oleh CNN Indonesia, Israel kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan membombardir Gaza secara masif. Serangan ini tidak main-main; 23 warga sipil tewas dalam sekejap. Di hari yang sama, serangan udara juga menghantam kamp pengungsian di Gaza, sebuah lokasi yang seharusnya menjadi zona aman bagi mereka yang kehilangan rumah.
Kekejian ini mencapai puncaknya pada dini hari 6 Februari 2026. Laporan CNN Indonesia menyebutkan bahwa militer Israel menghantam sebuah sekolah yang dijadikan tempat pengungsian. Sekolah, yang dalam hukum humaniter internasional merupakan objek yang dilindungi, justru menjadi sasaran empuk rudal-rudal Zionis. Video dari Kompas TV bahkan mengabadikan detik-detik jatuhnya bom yang menciptakan bola api raksasa di langit Gaza, membuktikan bahwa intensitas serangan tidak pernah benar-benar menurun meski ada "kesepakatan" di atas kertas.
Naifnya Dunia dan Mandulnya Penguasa
Dunia internasional terlihat begitu naif. Begitu mudahnya para pemimpin global percaya pada inisiasi perdamaian yang dipelopori Amerika Serikat, padahal AS sendiri adalah penyokong utama mesin perang Israel. Gencatan senjata ini hanyalah alat bagi Israel untuk mengatur ulang logistik militernya, sementara warga Palestina dipaksa hidup dalam ketidakpastian yang mematikan.
Kita juga harus menyoroti peran penguasa negeri-negeri muslim. Sungguh ironis sikap para pemimpin di kawasan ini seolah kehilangan taji. Dengan dalih menjaga stabilitas kawasan dan mencegah meluasnya eskalasi perang, mereka lebih memilih berkompromi dengan narasi AS-Israel. Bahkan, beberapa di antaranya rela bergabung dalam skema perdamaian yang jelas-jelas merugikan kedaulatan Palestina. Ketakutan akan kehilangan kursi kekuasaan atau tekanan ekonomi global telah membutakan mereka dari kewajiban membela sesama muslim yang sedang dibantai.
Jihad dan Penyatuan Umat
Melihat kebuntuan diplomasi selama puluhan tahun ini, sudah saatnya umat Islam mengambil sikap yang tegas: "Zero Tolerance "terhadap narasi perdamaian ala AS-Israel.
Perdamaian yang ditawarkan hari ini adalah perdamaian semu yang meminta korban untuk tunduk pada penjajah.
Solusi bagi Palestina tidak akan lahir dari meja PBB atau deklarasi di Washington. Ada tiga langkah fundamental yang harus dikonstruksi ulang oleh kesadaran umat:
1. Ketegasan Sikap Politik: Umat harus menolak segala bentuk normalisasi dan janji manis gencatan senjata yang hanya bertujuan untuk mengulur waktu bagi Zionis.
2. Kesatuan Kepemimpinan: Masalah Palestina adalah masalah sistemik akibat pecahnya kekuatan politik umat Islam. Tanpa kesatuan politik yang solid, hegemoni penjajah akan terus mencabik-cabik satu per satu negeri Muslim.
3. Mobilisasi Nyata: Penguasa muslim harus didorong untuk menggerakkan kekuatan militer secara nyata (jihad) guna menghentikan agresi secara fisik, bukan sekadar mengirimkan nota protes atau bantuan logistik yang kemudian diblokade.
Hanya melalui penyatuan negeri-negeri Muslim di bawah naungan institusi politik yang berdaulat, seperti visi Khilafah yang menyatukan kekuatan militer dan ekonomi umat ini bisa memiliki posisi tawar yang setara untuk melawan dominasi global. Tanpa itu, Gaza akan terus menjadi panggung tragedi di mana "gencatan senjata" hanyalah jeda untuk mengisi ulang amunisi bagi penjajah.
Wallahualam bissawab.
