Oleh Hasna Aqiila Azzahro
Aktivis Sekolah dan Pemerhati Remaja
Di zaman sekarang, kebiasaan berbicara kasar makin sering ditemui dan bahkan dianggap sebagai hal biasa. Kata-kata kasar tidak hanya muncul dalam peragulan remaja, tetapi juga di media sosial dan kehidupan sehari hari. Banyak orang menganggap ucapan kasar sebagai candaan atau bentuk keakraban, tanpa memikirkan dampaknya. Padahal, kebiasaan tersebut bertentangan dengan adab dabn ajaran Islam yang mengajarkan umatnya untuk menjaga lisan. Hal ini menunjukkan bahwa cara berbicara masyarakat saat ini seringkali belum sesuai dengan tuntutan Islam.
Kebiasaan berbicara kasar terjadi karena kurangnya kesadaran dalam menjaga lisan. Banyak orang tidak lagi memikirkan dampak dari setiap ucapan yang keluar. Selain itu, Islam belum benar-benar diajdikan pedoman dalam bersikap dan mengambil keputusan, termasuk berbicara. Kehidupan saat ini juga berada dalan sistem kapitalis yang memisahkan agama dari kehidupan sehari, sehingga ajaran dan hukum Islam tidak diterapkan secara menyeluruh. Akibatnya, nilai kesopanan dan adab dalam berbicara sering diabaikan.
Kondisi tersebut dapat dilihat dari berbagai kasus disekitar kita. Di lingkungan sekolah, masih banyak pelajar yang berbicara dengan kata kata kasar kepada teman sebaya dan menganggapnya sebagai candaan ataupun hal biasa. Di media sosial, komentar bernada hinaan dan ucapan tidak pantas juga sering ditemukan, bahkan dari remaja yang beragama islam. Selain itu, banyak konten hiburan yang menampilkan bahasa kasar, sehingga mudah ditiru dan di anggap wajar oleh masyarakat.
Selain berdanpak pada nilai agama, kebiasaan berbicara kasar juga menimbukan dampak sosial. Ucapan yang tidak dijaga dapat melukai perasaan orang lain, memicu pertengkaran, dan merusak hubungan pertemanan. Tidak sedikit konflik kecil yang berawal daru kata kata yang dianggap sepele. Jika hak ini terus dibiarkan, lingkungan menjadi tidak nyaman dan rasa saling menghormati akan makin berkurang.
Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan perubahan cara pandang dalam menjalani kehidupan. Islam seharusnya tidak hanya dipahami sebagai indentitas atau ibadah pribadi, tetapi juga sebagai pedoman dalam bersikap, berbicara dan mengambil keputusan sehari hari. Jika ajaran dan hukim Islam diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan, setiap ucapan akan lebih terjaga karena disadari memiliki konsekuensi. Dengan demikian, adab dalam berbicara dapat ditegakkan kembali dan kebiasaan berbicara kasar tidak lagi dinormalisasi.
