Di tengah gemerlap peradaban modern yang menyilaukan, sebuah tragedi diam-diam sedang merenggut arah hidup para ibu dan generasi muda. Generasi muda, yang seharusnya menjadi tonggak peradaban dan calon ibu-ibu pembentuknya, kini terjerat dalam sekularisasi yang ganas. Proses ini tidak hanya mengikis jati diri sebagai muslim, tetapi juga menciptakan krisis eksistensial mendalam, bukan sekadar krisis moral biasa.
Fakta hari ini begitu mencolok bagaiman identitas pemuda muslim semakin terkikis. Sekularisasi, dengan pemisahan nilai-nilai Islam dari kehidupan sehari-hari, telah menyusup ke setiap sendi masyarakat pendidikan, sosial, ekonomi, politik, hingga media massa. Islam, yang sejatinya holistik, direduksi menjadi sekadar identitas pribadi dan ritual semata. Akibatnya, pola pikir, gaya hidup, dan orientasi perjuangan generasi muda kini jauh dari kepribadian Islam yang sejati. Nilai-nilai asing yang bertentangan dengan ajaran Islam justru terinternalisasi dalam diri mereka, termasuk para ibu dari generasi ini.
Kondisi para ibu tak kalah memprihatinkan. Peran mulia mereka sebagai ummu wa rabbatul bayt ibu sekaligus pengatur rumah tangga dan pendidik generasi mengalami degradasi sistematis. Mereka disibukkan dengan logika materialistis, dieksploitasi sebagai tenaga kerja murah, dan dijadikan target konsumsi melalui standar kecantikan semu yang menafikan fitrah perempuan. Alih-alih dimuliakan serta diberdayakan sesuai kodratnya, para ibu justru menjadi korban utama sistem yang menolak peran strategis mereka dalam membentuk generasi rabbani.
Media massa di era digital memainkan peran krusial dalam pembentukan kepribadian generasi saat ini. Namun, konten dan narasi yang dominan bukanlah entitas netral. Di baliknya bercokol ideologi kapitalisme yang menyebarkan nilai-nilainya secara masif. Tak mengherankan jika media mampu menggeser pemahaman umat Muslim jauh dari Islam yang sahih, melahirkan kepribadian yang asing dari pemikiran Islam kaffah. Pengaturan ini tak lepas dari campur tangan negara, yang paradigma sekulernya memperparah segalanya.
Paradigma negara sekuler secara aktif meminggirkan Islam dari ranah publik. Pembekalan Islam secara menyeluruh terseriing dikriminalisasi bahkan diblokir, pendidikan dan regulasi dibangun di atas asas yang bukan berdasarkan syariat Islam sehingga agama terkurung dalam wilayah privat semata. Akar persoalan sejati terletak pada adopsi sekularisme dan kapitalisme sebagai fondasi bernegara, sistem yang sengaja menciptakan krisis identitas dan fungsi yang kronis.
Di tengah kegelapan ini, muncul cahaya harapan dari syariat yakni jamaah dakwah Islam yang urgensinya tak tertunda lagi. Jamaah ini bukan sekadar kelompok pengajian atau komunitas spiritual biasa, melainkan entitas pembinaan umat yang menjadikan Islam sebagai akidah sekaligus sistem kehidupan lengkap. Tujuannya membentuk syakhsiyah Islamiyah yakni kepribadian Islam pada ibu dan generasi muda, menjadikan mereka agen perubahan yang tangguh dan tahan uji. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran: 104: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” Ayat ini mewajibkan keberadaan jamaah dengan visi Islam dan tujuan perubahan mendasar, bukan sekadar perbaikan parsial.
Mengikuti teladan Rasulullah SAW, jamaah dakwah menjalankan pembinaan bertahap dan terarah yakni dimulai dari tatsqif (pembinaan intensif) di fase awal sebagaimana di Makkah agar umat memahami Islam sebagai pengaturan lengkap, bukan ritual semata. Dilanjutkan dengan tafa’ul ma’al ummah (interaksi dengan masyarakat) untuk membongkar kebatilan dan membangun kesadaran kolektif, hingga puncaknya istilamul hukm (penerapan syariat Allah secara menyeluruh).
Perhatian utama diberikan kepada ibu dan generasi muda, karena merekalah fondasi peradaban. Ibu sebagai pendidik generasi rabbani, pemuda sebagai penggerak kebangkitan. Tanpa jamaah dakwah yang sahih, sekularisasi akan terus merenggut arah hidup umat, meninggalkan generasi yang kosong dan ibu yang terluka jiwa. Sebaliknya, dengan pembinaan yang benar, akan lahir pelopor perubahan yang sadar visi, gigih membela Islam, demi tegaknya peradaban mulia yang diridhai Allah SWT.Urgensi ini bukan pilihan, melainkan kewajiban suci di era kegelapan sekular ini. Wallahu a’lam bish-shawab.
