Rajab dan Isra Mikraj, Momentum Kembali Kepada Tuntunan Nabi saw.

 


Oleh Arista Yuristania

Aktivis Muslimah

 

Bulan Rajab selain menjadi salah satu bulan mulia, terdapat banyak peristiwa penting yang terjadi pada saat itu, diantaranya peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad saw. Pada peristiwa tersebut menandai perjalanan Rasulullah saw. dari Masjidilharam, lalu Masjidilaqsa, hingga ke Sidratul Muntaha.

Peristiwa ini bukan hanya perjalanan Nabi Muhammad saw. menembus langit, melainkan turunnya perintah salat, ibadah yang merupakan tiang agama dan sebagai penghubung antara hamba dengan Allah Taala. Salat merupakan ibadah sekaligus fondasi yang menguatkan seorang hamba dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Hari Isra Mikraj semestinya tidak hanya kita pahami sebagai aspek spiritual semata. Tidak lama setelah peristiwa agung tersebut, terjadi Baiat Aqabah II yang menjadi gerbang perubahan politik umat. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa Isra Mikraj bukan sekadar seremonial tahunan. Namun, ada momen ideologis yang jarang menjadi sorotan. Peristiwa Baiat Aqabah II yang menghubungkan kekuatan iman dengan terbentuknya masyarakat Islam berlandaskan syariat. Dengan kata lain, Isra Mikraj adalah titik awal perjalanan umat menuju tegaknya sistem Islam yang menyeluruh.

Isra Mikraj merupakan peristiwa besar bagi umat Islam. Peristiwa ini semestinya harus dimaknai secara mendalam dalam iman kita, karena dalam perjalanan Isra Mikraj Nabi saw. mengajarkan bahwa seruan Allah Taala, berupa salat langsung beliau laksanakan dan sampaikan ke umatnya. Ini menandakan bahwa perintah Allah wajib diikuti dan dilaksanakan bagi setiap hamba. Allah Taala berfirman, “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan Surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran, 3:133)

Imam al-Qurtubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini tentang dorongan untuk segera meraih ampunan Allah dengan menunaikan berbagai bentuk ketaatan. Istilah “wasaari’uu” (bersegeralah) menunjukkan adanya perintah untuk cepat bertindak dan tidak menunda dalam melakukan amal kebajikan. Beliau menekankan bahwa hal ini mencakup seluruh bentuk ketaatan, seperti melaksanakan salat tepat waktu, bersedekah, berbakti kepada kedua orangtua, serta menjalankan amalan-amalan wajib maupun sunnah lainnya.

Salat adalah tiang agama, sebagaimana sabda Nabi saw, “Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah salat” (HR Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973)

Namun, dalam riwayat lain, salat bukan sekadar ibadah individu semata. Ummu Salamah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw, “Akan muncul pemimpin-pemimpin, kalian akan akui sebagian perbuatan mereka dan sebagiannya kalian inkari. Siapa yang mengakuinya, maka dia telah bebas. Siapa menginkari, maka dia telah selamat. Tetapi, masalahnya ialah siapa yang setuju dan ikut.” Para sahabat bertanya, “Tidakkah kami perangi saja merka?” Beliau bersabda, “Tidak, selama mereka menunaikan salat.” (HR Muslim)

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa maksud hadis tersebut bukan hanya salat ritual, tetapi menegakkan agama. Salat dalam hadis ini merupakan ungkapan bagi tegaknya hukum Allah. Ulama kontemporer menyebutkan ungkapan salat dalam hadis tersebut bermakna lambang komitmen terhadap penegakan hukum Allah, bukan hanya gerakan ibadah.

Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari juga menyebutkan bahwa salat adalah kinayah (kiasan) untuk seluruh syiar Islam. Artinya, makna hadis ini tidak hanya menyebut salat dalam konteks ibadah individu, melainkan tentang representasi kepemimpinan yang menegakkan agama dan hukum Allah dalam kehidupan bermasyarakat.

Prof. Muhammad Rawwas Qal’ahji dalam kitab Sirah Nabawiyah - Sisi Politis Perjuangan Nabi Saw., hlmn.111-112 menjelaskan, dalam peristiwa Isra Mikraj, Rasulullah saw. tampil menjadi imam salat bersama para nabi, dan pengakuan para nabi atas hal itu membuktikan bahwa mereka semua mengikuti Rasulullah saw. Dengan demikian, telah terjadi perubahan politik yang sangat mendasar, yakni tercabutnya kepemimpinan dari tangan Bani Israil, selanjutnya kepemimpina itu diserahkan kepada umat Muhammad. Inilah dimensi politik Isra Mikraj

Dengan demikian, mukjizat Isra Mikraj telah meletakan landasan baru untuk membangun masyarakat baru dengan penerapan syariat Islam secara kafah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Sayang, peristiwa besar Isra Mikraj saat ini hanya menjadi sebatas kegiatan seremonial yang makin hilang makna politis dan ideologisnya. Ini karena umat tidak sepenuhnya memahami bahwa sistem sekuler demokrasi telah menggantikan peran Allah Taala dalam mengatur kehidupan. Sistem sekuler demokrasi menempatkan kedaulatan di tangan manusia, bukan ditangan Allah Taala. Ketika hukum buatan manusia menggantikan hukum Allah, maka terjadi penolakan terhadap syariat dan sumber kebenaran.

Umat tidak menyadari bahwa menerima sistem sekuler demokrasi berarti mengakui otoritas selain Allah dalam menetapkan standar halal-haram dan benar-salah. Akibatnya, Islam hanya dipraktikkan sebatas ibadah ritual individu, sedangkan kehidupan bermasyarakat dan bernegara tunduk pada hukum buatan manusia.

Konsekuensinya, seluruh aspek kehidupan diatur menurut kepentingan manusia sehingga melahirkan bencana ekonomi, sosial, politik, dan lingkungan. Sistem riba dan kapitalisme menciptakan ketimpangan, krisis utang, dan eksploitasi SDA; oligarki mengendalikan politik global; individualisme mengikis kepedulian; hedonisme menyesatkan tujuan penciptaan manusia sebagai hamba Allah; dan penguasa kapitalis merampas hak-hak rakyat. Lebih jauh lagi, eksploitasi tanpa batas telah membuat bumi merana dan kerusakan alam pun tidak terhindarkan.

Sejak runtuhnya Khilafah Ustmaniyah, dunia Islam kehilangan payung politik yang menyatukan umat. Umat hidup dalam cengkeraman sistem kapitalisme yang menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan hegemoninya. Kapitalisme melahirkan kolonialisme modern, menjadikan negeri-negeri Islam sekadar pasar eksploitasi baik dari sisi SDA maupun kebijakan politik. Akibatnya, umat tersekat-sekat dalam puluhan negara imajiner bernama nation state, dan kini hanya menjadi objek dalam pencaturan politik global.

Oleh karena itu, umat harus memiliki kesadaran politik yang utuh dalam memaknai bulan Rajab dan Isra Mikraj. Tujuannya, agar kita dapat mengambil pelajaran dari peristiwa di masa lalu dan menjadikannya katalisator dalam membangun kembali peradaban Islam yang mendunia.

Keutamaan bulan Rajab dan perjalanan Isra Mikraj Nabi saw harus menjadi momentum umat untuk meneguhkan visi penciptaan manusia sebagai hamba Allah Taala, yakni ketaatan menyeluruh dalam menjalankan aturan-Nya. Terdapat beberapa hal penting yang harus dipahami umat Islam, diantaranya yaitu bahwa Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan spiritual Nabi saw, melainkan turunnya syariat salat sebagai hukum Allah yang langsung ditetapkan dari langit. Rajab dan Isra Mikraj mengingatkan kita bahwa hukum Allah harus membumi sebagai pedoman hidup, bukan sekadar dikenang sebagai sejarah. Oleh karena itu, umat wajib menegakkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan ibadah, politik, ekonomi, sosial, pendidikan, hukum, hingga pertahanan dan keamanan.

Hal penting lainnya yaitu salat berjamaah yang dilakukan Rasulullah saw. bersama para nabi dalam Isra Mikraj merupakan miniatur kepemimpinan Islam. Rasulullah saw. bertindak sebagai imam, sedangkan para nabi menjadi makmum. Prinsipnya jelas, yaitu imam wajib taat kepada Allah, dan jemaah wajib taat kepada imam selama ia taat kepada Allah.

Hal ini menggambarkan hubungan ideal antara pemimpin dan rakyat. Artinya, pemimpin menegakkan syariat serta menjaga amanah, sedangkan umat taat dalam kebaikan, mengingatkan jika ia salah, dan mendukung ketika ia adil. Dengan demikian, salat berjamaah menjadi cermin pendidikan politik umat bahwa kepemimpinan bukan sekadar otoritas, melainkan amanah yang harus dijalankan sesuai hukum Allah.

Sepanjang sejarah Islam, umat Islam tidak pernah kehilangan legitimasinya sebagai umat terbaik dan kepemimpinannya dalam membangun peradaban yang agung. Kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar jabatan, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Taala.

Rasulullah saw. adalah teladan kepemimpinan yang menyatukan akidah, syariat, dan sistem hidup Islam secara menyeluruh. Beliau membina sahabat dengan akidah sebagai pondasi kepribadian, sehingga mereka siap memimpin umat dengan iman yang kuat. Di Madinah, beliau meletakkan dasar kepemimpinan Islam dengan penerapan syariat dalam seluruh aspek kehidupan. Sepeninggal beliau, para sahabat melanjutkan kepemimpinan sebagai kepala negara yang memimpin umat, bukan sebagai amanah kenabian.

Hal penting berikutnya yaitu jika sistem demokrasi kapitalisme hanya menghasilkan penderitaan tanpa akhir, sistem Islam menawarkan keadilan dan kesejahteraan. Sebab, dalam Islam kedaulatan bukan di tangan manusia, melainkan ditangan syarak. Allah Taala berfirman, “Ingatlah menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam” (QS Al-A’raf, 7:54)

Ketika kehidupan diatur dengan hukum Allah, tidak ada celah bagi siapa pun untuk mengubah hukum sesuai kepentingan atau pesanan, sebagaimana yang terjadi dalam demokrasi kapitalisme.

Dalam sistem negara Islam, setiap pemimpin wajib menerapkan syariat Islam sebagai amanah yang harus dijalankan. Sementara umat/rakyat memiliki hak untuk memilih pemimpinnya, mengawasi kinerjanya, mengoreksi kebijakannya, dan menegur jika ia berbuat salah atau melanggar dari ketetapan syariat. Jika pemimpin menolak menerapkan hukum Allah, ia wajib diganti dengan pemimpin yang menegakkan Islam dalam bernegara.

Oleh karena itu Rajab dan Isra Mikraj sejatinya momentum dakwah untuk menegaskan pentingnya menegakkan Islam secara kafah sebagai sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Pemikiran Islam kafah harus terus disampaikan agar umat memahami Islam secara utuh, sekaligus mengingatkan bahwa prioritas dakwah adalah mengembalikan kehidupan Islam melalui tegaknya sistem Islam secara kafah, sehingga hukum Allah kembali membumi dan menyebarkan rahmat ke seluruh alam.

Wallahualam bishawaab.

MieNas Sayange Area Kota Padang Terenak

Nama

50 Kota,1,Agam,5,Artikel,85,Bahan Ajar PAI Kelas 7,3,Balikpapan,2,Bandung,2,Bangka Belitung,1,Banjarmasin,1,Bank Nagari,2,Baznas,1,bencana alam,1,BIM,2,Bisnis,1,BNNP,4,BPS,1,Cerpen,3,Daerah,1,Depok,1,Dharmasraya,12,DPR RI,1,DPRD Bukittinggi,7,DPRD Padang,3,Era Digital,1,Filipina,1,Film,3,Hiburan,1,Internasional,18,Jakarta,9,Jakarta Selatan,1,KAI,180,Kalimantan Tengah,1,Kalimantan Timur,1,Kampus,41,KDEKS,1,Kejati Sumbar,17,Kesehatan,10,KJI,3,Komedi,1,Koperasi,2,Kota Padang,198,Kota Solok,1,Kuliner,2,Lampung,1,Lifestyle,3,Loker,1,Lubuk Basung,2,Malaysia,1,Nasehat,1,Nasional,187,Natuna,1,Olahraga,2,Opini,598,Otomotif,1,Padang,10,Padang Pariaman,10,Padnag,1,Panggil Aku Ayah,1,Papua,2,ParagonCorp,3,Pariaman,5,Pasaman,2,Pasaman Barat,7,Payakumbuh,2,Pekanbaru,14,Pemerintah,1,pemerintahan,2,Pemkab Solok,4,Pemko Padang,62,pendidikan,2,Pendidikan,19,Peristiwa,2,Perumda Air Minum,1,Pesisir Selatan,6,PLN,10,Polda,1,Polda Sumbar,102,Polresta Padang,1,Polri,81,Pontianak,1,Puisi,20,Riau,5,Salimah Kota Padang,1,Samarinda,1,Sawahlunto,3,Semarang,1,Sijunjung,2,Smartphone,2,Solok,2,Sulawesi Selatan,2,Sulawesi Tengah,1,Sumatera Bagian Tengah,1,Sumatera Selatan,1,Sumbar,615,Tanah Datar,2,Tanggerang,2,Teknologi,3,Telkom,1,Tips,6,TNI,105,UNAND,21,UNP,24,Vidio,1,Visinema Studios & CJ ENM,1,Wisata,4,Yastis,11,
ltr
item
Media Sumbar: Rajab dan Isra Mikraj, Momentum Kembali Kepada Tuntunan Nabi saw.
Rajab dan Isra Mikraj, Momentum Kembali Kepada Tuntunan Nabi saw.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj32mzDHC6V5-sxpgElPFBCM_UytB_EY7s6rSV2U-2RqQwj2KBsrZPZ216UFe5gWqeLWlHtDZBINtg4gowKIQ4wVqB6RezSFWFlkVUpmZv3nrWkuBwP3Ynyg1dCqsnMOiG9Jl7YmGD0ORjA-HJvLt4cYooRtwvDGJtq3J3dw6AAvUU26O-ruDfZU1uGX_gk/s320/TEH%20TETA.jpeg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj32mzDHC6V5-sxpgElPFBCM_UytB_EY7s6rSV2U-2RqQwj2KBsrZPZ216UFe5gWqeLWlHtDZBINtg4gowKIQ4wVqB6RezSFWFlkVUpmZv3nrWkuBwP3Ynyg1dCqsnMOiG9Jl7YmGD0ORjA-HJvLt4cYooRtwvDGJtq3J3dw6AAvUU26O-ruDfZU1uGX_gk/s72-c/TEH%20TETA.jpeg
Media Sumbar
https://www.mediasumbar.net/2026/01/rajab-dan-isra-mikraj-momentum-kembali.html
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/
https://www.mediasumbar.net/2026/01/rajab-dan-isra-mikraj-momentum-kembali.html
true
7463688317406537976
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content