Oleh Dra. Rahma
Praktisi Pendidikan
Palestina, yang biasa disebut oleh orang Yahudi sebagai Tanah Israel, digambarkan dalam wacana Zionis sebagai tanah Yahudi. Penggambaran ini memperkuat gagasan bahwa tidak ada siapa pun yang berhak memiliki klaim historis dan kepemilikan atas Palestina. Slogan awal Zionis menyatakan bahwa Palestina adalah "Sebuah tanah tanpa sebuah bangsa untuk sebuah bangsa tanpa sebuah tanah."
Bukan berarti Palestina dianggap kosong, tidak berpenduduk sama sekali. Sebaliknya, bagi Zionisme, orang-orang Arab di Palestina, meskipun merupakan mayoritas penduduk di tempat tersebut, bukan merupakan suatu bangsa tertentu yang memiliki klaim sah atas tanah. Sebaliknya, banyak orang-orang Yahudi memiliki klaim tersebut.
Bagi kaum Zionis, tanah ini tidak kekurangan orang dalam artian penduduk sebaliknya, negara ini kekurangan masyarakat, satu negara yang secara organik dan abadi memiliki hubungan dengan tanah tersebut. Zionisme akan memperbaiki kekurangan ini, dengan memindahkan orang-orang Yahudi ke Palestina dengan anggapan Yahudi adalah pemiliknya yang sah.
Wacana Zionis pada umumnya menggambarkan penduduk Arab di Palestina sebagai masyarakat yang sangat heterogen dan terfragmentasi sehingga tidak menjadi sebuah negara yang berhak atas tanah tersebut.
Menurut Zionis, mereka dianggap sebagai pendatang baru atas tanah tersebut sehingga tidak memiliki klaim historis atas tanah tersebut. Selain itu, orang-orang Arab pada umumnya digambarkan sebagai orang yang tidak berbudaya, terbelakang, dan tidak tahu apa-apa, dan orang yang tidak rasional, fanatik, dan rentan terhadap kekerasan.
Pada periode yang sama, gambaran serupa dinyatakaan oleh proyek-proyek kolonial Eropa mengenai masyarakat dan tanah non-Eropa lainnya (misalnya, Afrika Selatan, dan Australia, dan di Amerika Serikat tentang penduduk asli Amerika) dan digunakan sebagai alasan untuk mendominasi, merampas, atau menggusur mereka. Oleh karena itu klaim Zionisme tentang Palestina dan orang Arab dalam hal ini bukanlah hal yang unik tapi mengikuti apa yang telah dilakukan lebih dulu oleh orang-orang Eropa.
Negara Yahudi baru yang ingin diciptakan oleh hampir semua Zionis mungkin tidak berlokasi di Eropa. Namun pastinya "menjadi Eropa". Pencapaian kedaulatan Yahudi akan memungkinkan "orang-orang Yahudi baru yang diciptakan oleh Zionisme berpartisipasi dalam proyek besar peradaban Barat dengan kedudukan yang setara.
Theodor Herzl (1860-1904), pendiri organisasi Zionis dunia, menegaskan dalam The Jewish State (Negara Yahudi) bahwa negara Yahudi di Palestina akan "menjadi bagian dari benteng Eropa melawan Asia, sebuah pos terdepan peradaban melawan barbarisme."
Demikian pula, setelah tahun 1948 para pemimpin Zionis bersikeras bahwa negara Yahudi yang baru harus berbudaya Eropa. Mereka memperingatkan dan berupaya memerangi ancaman levantinisasi (terarabkan) yang diduga ditimbulkan oleh masuknya besar-besaran imigran Yahudi dari tanah Arab
Tidak semua Zionis awal mengabaikan orang-orang Arab di Palestina atau meremehkan pentingnya mereka bagi masa depan proyek Zionis. Beberapa orang seperti Ahad Ha'am (nama pena Asher Ginzberg (1856-1927), simpatisan Zionis), memarahi pemukim Yahudi karena menganiaya tetangga Arab mereka dan memperingatkan munculnya sentimen nasional Arab yang harus diperhitungkan oleh Zionisme.
Namun, mengingat perasaan terikat Zionisme terhadap penderitaan orang-orang Yahudi di Eropa, suara-suara seperti diutarakan oleh Ha'am ini sebagian besar diabaikan. Bertekad untuk membangun masyarakat dan negara yang sepenuhnya Eropa dan, jika mungkin, sepenuhnya Yahudi di Palestina, hanya sedikit Zionis yang tertarik pada aspirasi, sejarah, atau budaya penduduk asli wilayah tersebut atau kel nginan untuk berintegrasi ke wilayah yang mayoritas penduduknya Arab ini. Dulu dan sekarang, misalnya, hanya sedikit mereka yang bersusah payah mempelajari bahasa Arab, kecuali untuk tujuan yang bersifat praktis seperti urusan bisnis atau pekerjaan intelijen
Alhasil, seperti yang menjadi jelas setelah Perang Dunia I, proyek Zionis mengenai imigrasi, pemukiman, dan status kenegaraan Yahudi di Palestina tidak dapat diselaraskan dengan aspirasi nasional yang muncul dari mayoritas warga Arab di wilayah tersebut, sehingga hanya ada sedikit atau bahkan tidak ada dasar untuk kompromi
Bahkan sebelum Perang Dunia I, konflik komunal sudah mulai terjadi di Palestina dalam berbagai bentuk. Ini termasuk bentrokan antara petani Arab yang dirampas tanahnya oleh pemukim Yahudi, serta meningkatnya tuntutan pers Arab di Palestina dan delegasi Arab di parlemen Utsmani agar pemerintah mengambil langkah-langkah yang lebih efektif untuk memblokir imigrasi Yahudi dan praktik pembelian tanah.
